Di Kereta
Beberapa bulan terakhir aku mulai menikmati perjalan pulang dan pergi kerja memakai kereta. Bekasi - Manggarai. MRT: dukuh atas - Lebak Bulus.
Berdesak - desakan? pastinya!
Pikiranku kadang bertanya, ini kapan kosongnya? Selalu sama setiap pagi arah pergi dan malam arah pulang. Apa orang - orang ini tidak bosan? walaupun tau pasti berdesak - desakan tapi mereka tetap menjalaninya. Aku saja mulai bosan dan mulai protes pada diri sendiri bahwa, " oh tidak mungkin aku seperti ini setiap pagi dan malam, sampai tua"
Apa yang mereka kejar?
Mungkin, aku terlalu menyepelekan dunia ini. Prinsip hidupku selalu sama dari dulu. bahwa, hidup itu hanya senda gurau. Jangan terlalu serius menjalaninya. Setiap masalah, bahkan masalah sebesar apapun hadapi dengan senda gurau. Untuk ku, itu sangat manjur. Hanya nikmati saja.
Beberapa orang didalam kereta yang aku perhatikan, membuatku semakin berpikir, sepertinya ada yang salah denganku? Atau mereka?
Berdiri? Jelas, setiap aku masuk kereta, bahkan memasuki daerah statiun pun, aku selalu pesimis masalah tempat duduk.
Karena berdiri, aku lebih leluasa untuk memperhatikan. Jadi, beberapa pandanganku ini semakin menguatkan apa yang aku pegang selama ini. "Mungkin orang - orang ini terlalu serius untuk hidup"
Menurutku, tidak perlu bernafsu mendapatkan dunia, yang paling penting itu adalah makna. Coba tanya pada diri sendiri, apakah nominal pada ATM mu sudah berevolusi menjadi kebahagiaan untukmu. Bahkan jika ada 1 milyar rupiah pun, manusia akan selalu berpikir "mungkin jika ada 10 milyar akan lebih tenang", pada saat 10 milyar sudah kau dapatkan. Kembali menatap layar ATM dan kembali berpikir "mungkin jika 100 milyar akan jauh lebih bebas", hingga akhirnya kau terus bekerja, bekerja dan bekerja. Dan mulai lupa makna bahagia, dan mulai lupa bahwa mati tidak harus tua.
Setiap orang punya alasan untuk bahagia. Setiap orang punya jalan masing - masing untuk mendapatkan kesenangan nya sendiri. Jangan jadikan ukuran kebahagiaanmu itu sama dengan mereka. Sesuatu yang membuatmu senang, mungkin itu tidak untuk orang lain.
Aku mencoba melihat dari sudut pandang lain cara menilai, mungkin ini akan membuatmu tidak setuju, tapi coba kita perhatikan, mungkin ada nilai yang bisa diambil.
Aku sudah didalam kereta berdesak - desakan, namun kondisi pintu sudah mulai mau menutup, tiba - tiba seorang bapak - bapak dengan dandanan tidak terlalu rapi memaksa masuk. Terlihat dia sangat buru - buru. Wajahnya panik dan kecapean. Aku langsung menerka, dia sangat takut telat, mungkin peraturan dikantornya ketat. Dilihat dari dandanan nya mungkin gajinya tidak seberapa, terlebih itu salah satu alasan dia naik kereta. Pasti punya anak dan istri, itu alasan dia terpaksa bangun pagi dan berhimpit - himpitan disini. Apakah dia bahagia? Menurutku tidak. Apakah kehidupan itu yang dia inginkan dari dulu? Menikah, punya anak, dan mati - matian seperti ini. Jelas tidak mungkin juga. Jika aku jadi dia, aku akan merelakan kereta ini pergi. Dan siap - siap menikmati omelan dari atasanku. Lalu berpikir, tenang saja, semua akan baik - baik saja.
Lalu, seorang laki - laki tidak terlalu tua, dengan dandanan necis. Wah, dia pasti orang penting di perusahaan. Gajinya pasti gede. Apakah dia bahagia?. Mungkin saja beban pekerjaan nya besar, dia harus naik kereta agar tidak telat. Karena harus buru - buru mengikuti meeting dadakan. Dia juga harus pulang malam karena lembur. Akhirnya waktu tidak cukup, dia harus mengerjakan nya dirumah. Apa kabar anak dan istrinya? Apakah dia sudah menikmati waktu dengan mereka. Sepertinya tidak. Apakah gajinya sudah bisa mengganti waktu penting yang hilang? Jelas tidak. Apakah itu makna bahagia?
Dibelakangku berdiri seorang PNS muda. Seperti banyak orang bilang, jadi PNS pasti hidupnya terjamin. Masa tua nya terjamin. Harapan semua orang tua Bla bla bla. Mungkin saja dia tidak bahagia karena kebebasan masa muda nya harus hilang. Harus menjalani rutinitas yang membayangkan nya saja sudah membuat jenuh.
Dua orang berdiri juga, terus membicarakan masalah bisnis mereka. Mungkin mereka seorang enteurpreneur. Banyak orang bilang, mungkin pekerjaan yang paling bagus adalah usaha sendiri, waktunya fleksibel, penghasialnnya juga tidak kalah dengan orang kantoran, bahkan lebih. Kita tidak tahu, mungkin tuntutan investor nya tinggi, sehingga siang malam harus memikirkan target omset yang tidak tercapai setiap harinya supaya modal bisa cepat kembali. Bahkan dia tidak tau apa itu libur.
Dua orang wanita dengan pakaian terbuka sedang bercengkrama. Sesekali tertawa keras. Membuat suasana kereta semakin riuh. Dikepala nya mungkin cuma ada "lahir, dugem, mati". Apakah dia bahagia? Kayaknya tidak. Dalam hatinya mungkin sedih, mungkin dia ingin hidup normal seperti yang lain. Menjalani hidup dengan benar dan bisa membuat ibu nya bangga.
Seorang anak muda sedang video call dengan ibu nya. Sepertinya anak rantau, ya, anak rantau. Dia mungkin sudah mendapatkan pekerjaan yang di inginkan di kota rantau. Namun apakah dia bahagia? Akan selalu ada yang dikorbankan. Walaupun punya penghasilan tinggi, dia mungkin sangat merindukan masakan ibu nya. Makan bersama dengan adik dan kakak nya di meja yang sama. Dia harus mandiri, sakit sendiri, menyiapkan segala sesuatunya sendiri.
Terlihat berdiri menempel pintu, seorang wanita kecil berkerudung dengan jaket, mata nya menatap kosong keluar kereta. Sepertinya dia hanya seorang pelayan restoran atau penjaga toko, atau mungkin saja seorang SPG di salah satu swalayan di Jakarta. Kita tidak tahu, dengan penghasilan nya sekarang, dia harus jadi tulang punggung keluarga. Membayar uang kontrakan, membiayai ayahnya yang sakit, dan menyekolahkan adik - adiknya yang masih kecil. Ibu nya membantu perekonomian keluarga dengan menjadi seorang buruh cuci di rumah - rumah tetangga. Sangat tidak cukup. Dia mungkin berpikir kehidupan nya saat ini tidak bahagia.
Seorang wanita mendapat tempat duduk. Sepertinya dia seorang ibu sekaligus wanita karir. Duduknya tidak tenang. Karena handphone nya terus berdering. Saat aku dengar percakapan nya, itu masalah kerjaan. Kita tidak tahu, mungkin dia terpaksa bekerja karena tidak ada lagi yang membiayai keluarga nya, dia harus menitipkan anaknya ke pengasuh. Dan mungkin dia sudah bercerai, sehingga dia harus berusaha sendiri. Entah sampai kapan.
Di sudut kursi prioritas, seorang nenek - nenek dengan keresek besar di antara kakinya, kerupuk. Mungkin dia berjualan kerupuk. Dia sudah tua, melewati gerbang peron pun sepertinya harus dituntun. Apalagi harus ikut berdesakan disini. Mungkin dia sudah mengutuk kehidupan ini. Kemana anak cucu nya? Sehingga dia harus terus berusaha di umurnya saat ini. Kebahagiaan masih belum dia temui diujung hari ini.
Lantas aku. Mencoba memalingkan pandagan ke arah luar kereta. Sesekali kereta dari lawan arah lewat. Dengan suara khas nya, menghancurkan pandanganku. memejamkan mata. Menghela nafas. Dan bergumam "sepertinya banyak sekali hal - hal yang aku lewatkan tanpa syukur"
Ya, makna yang aku maksud adalah syukur. Mungkin saja, bahagia yang aku cari sudah aku dapatkan dari dulu, namun karena kurangnya syukur, aku tidak menyadari. Sehingga aku selalu menuntut lebih pada dunia dan diriku sendiri. Setiap orang yang kita temui mungkin juga seperti itu. Mereka tidak sebahagia seperti yang kita bayangkan.
Lepaskan yang memang Tuhan tidak berikan. Mungkin itu yang terbaik. Jaga yang setiap Tuhan berikan. Karena mungkin itu pemicu hal - hal baik lainnya.
Hanya nikmati saja setiap alur hidup ini. Jangan takut dengan masalah. Jalani dengan benar. Sadari syukur diakhir hari. Hidup bukan tentang dunia saja.
Komentar
Posting Komentar