Penjara Suci



Assalamualaikum wr. wb.


Untuk seseorang yang sangat aku cintai,
sebuah keabadian itu ada,
dan aku...’
ingin abadi bersamamu,
dan untuk bocah kecil yang selalu menggangguku.


Pembunuhan di Asrama
(Gedung C2)






Ini mungkin akan lebih mirip seperti sebuah diary kelamku yang dibuat temanku menjadi sebuah cerita, sebuah kisah yang aku alami di bulan Oktober 2011 dulu. Kejadian yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, yang membuat tubuhku bergetar semalaman bila mengingatnya. Kejadian ini terjadi ditempat dimana aku tengah tinggal sekarang, yaitu sebuah gedung asrama dengan bangunan berbentuk persegi, bertingkat dua, dengan puluhan kamar serta jutaan misteri didalamnya. Okelah, Sebaiknya aku jelaskan dulu tentang tempat dimana aku tengah berbaring dan membacakan sebuah cerita yang di tulis temanku ini. Cerita yang akan aku ceritakan ini adalah sebuah tugas yang dibuat temanku demi memenuhi tugas tahunan asrama ini. aku mengambilnya dari tumpukan tugas – tugas tahunan asrama yang tersusun rapi dengan hanya berlebel “tugas tahunan 2011” di perpustakaan tua, di gedung asrama bernama C.2
Ya’ sebuah asrama. Pertama, Saat memasuki gerbang besar, pas disebelah kanan kita akan melihat sebuah pos satpam dan disebelahnya sebuah tempat parkir kendaraan beroda dua (untuk kendaraan roda empat biasanya diparkir di lapangan basket), biasanya ada dua orang satpam yang berjaga 24 jam secara bergantian, yaitu pak Joko dan pak Mahdi. Berseberangan dari pos satpam ada sebuah bangunan yang berbentuk rumah, disana adalah tempat semua para pengurus organisasi asrama. Berjalan diantara pos satpam dan bangunan itu, kita akan sampai di pertigaan, bila jalan lurus ke arah barat kita akan sampai pada sebuah gedung asrama bernama "C.3", namun bila berbelok ke arah kiri yaitu arah utara, kita akan sampai pada gedung asrama "C.1", yang sebelumnya harus melewati tangga terlebih dahulu, dan bila berjalan belok ke arah kanan yaitu arah selatan, kita akan melalui jalan menurun (jalan dimana sore itu aku pernah berlari terburu – buru dengan Rifan saat sepulang dari darmawisata karena mengtahui adanya sebuah pembunuhan di gedung asrama C.2), kita tentu akan melihat sebuah lapangan basket yang dikelilingi pohon ramping namun tinggi dengan daun yang rimbun, di samping jalan menurun itu. Lalu jalan sedikit dan sampailah pada gedung asrama "C.2". Anehnya, sekaligus pertanyaan pertama yang ada di kepalaku saat pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini adalah: kenapa penempatan nama gedung asrama tidak berurutan, karena bila diurutkan dari arah utara ke selatan, pemberian angkanya jadi tidak berurutan, yaitu C.1 à C.3 à C.2 ??.  









Oke intinya, jumlah semua gedung asrama ada tiga bangunan, yaitu C.1, C.2 dan C.3. Setiap gedung memiliki dua lantai dan puluhan kamar yang masing – masing kamar berukuran 4x4 meter dan telah di beri nomor disetiap pintunya, jumlah lorong ada delapan: empat di lantai satu dan empat lagi di lantai dua serta seorang kakak pembimbing di setiap lorongnya. Aku sendiri, tinggal di gedung C.2 kamar no. 173 lantai dua bersama dengan ketiga teman - temanku. Rafsan, Himawan, dan Rifan. Oh iya, setiap kamar maksimal dihuni oleh empat orang, namun ada juga yang tiga atau dua orang, tapi tidak ada yang sampai sendirian, kecuali kakak – kakak pembimbing.
            Bila ditilik dari segi bangunan, asrama ini tidak terlalu primitif dan tidak terlau modern pula. Dilihat dari depan tampak biasa saja, namun didalamnya terdapat banyak mistery yang membuatku susah tidur. Semua berawal dari malam yang penuh penyesalan itu.

Begini ceritanya..




pertama, perkenalkan dulu namaku M. Faisol (18 tahun), teman - temanku biasa memanggilku 'Cibonk'. Tentang kenapa dipanggil seperti itu?.. itu tidak penting.
Akhir - akhir ini sering turun hujan, terkadang hujan turun dari pagi hingga pagi lagi. Dan hujan tadi malam sangat deras sekali.
"gelap sekali pagi ini, padahal hujan semalam baru saja berhenti." Ucapku dalam hati seraya menatap langit dari mulut jendela yang terbuka, kulihat Rafsan, Rifan dan Himawan masih terlelap tidur.
Tiba - tiba terdengar suara berisik dari anak - anak asrama di luar kamarku. Sungguh tidak biasa. Rasa penasaranku akhirnya menuntun langkahku untuk keluar kamar dan bertanya "ada apa?" kepada teman - temanku karena biasanya tidak pernah seribut ini, apalagi pagi - pagi seperti ini, biasanya semua masih tertidur. Lalu temanku berkata dengan jawaban yang tidak aku bayangkan sebelumnya: "katanya ada mayat di pinggir gedung ini, di tempat jemur pakaian." Pikiranku langsung melayang ke kejadian yang aku alami tadi malam, kejadian yang tadinya aku anggap hanya sebuah mimpi buruk dalam tidurku dan tidak pernah menganggap semuanya nyata. Malam itu sekitar jam 12, hujan deras belum juga berhenti dari sore hari sekitar jam empat. Sebelum tidur, aku seperti biasa pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi (setiap lorong mempunyai satu kamar mandi yang terdapat enam ruangan mandi) dan hal ini sudah menjadi kegiatan rutinku, teman satu lorongku termasuk kakak pembimbingku semuanya sudah mengetahui kebiasaanku ini. Kamar mandi itu beredekatan dengan balkon. Setelah selesai dari kamar mandi, entah kenapa aku tiba – tiba ingin melihat hujan malam itu, padahal biasanya tidak pernah ada keinginan seperti itu, dan untuk itu aku putuskan pergi ke balkon. Dari balkon ini kita dapat melihat keluar, bila kita mendongkakkan kepala ke atas, hamparan langit dapat terlihat dengan jelas, sejauh mata memandang lurus kita akan melihat hamparan pohon yang disebut hutan, namun di pisahkan oleh dinding pembatas yang tinggi yang aku yakin tidak akan ada orang yang mampu memanjatnya, dan bila mata menatap ke bawah kita dapat melihat halaman tempat menjemur pakaian, terlihat beberapa tiang berdiri teratur dengan kawat terlentang yang menyambungkan tiang – tiang itu, kawat itu dikaitkan di bagian ujung atas dari tiang, disitulah kita menjemur pakaian. di lingkungan gedung asrama C.2 ini hanya terdapat satu pohon besar dan itu terdapat di halaman tempat penjemuran pakaian. Pohon itu sangat besar dengan daun yang sangat rimbun pula, lumayan tingggi karena bagian atas pohon itu sangat menyita pandanganku, aku sama sekali tidak tau apa jenis pohon itu, yang pasti bentuknya tidak jauh dari pohon beringin. Balkon tempat dimana aku berdiri itu gelap sekali, tidak ada penerangan sedikit pun, sehingga bila ada orang yang melihat ke arah balkon dari arah mana pun tidak akan menyadari keberadaanku waktu itu. Di halaman tempat menjemur pakaian tersebut pun tidak terdapat penerangan sedikitpun, hanya cahaya bulan lah yang menerangi tempat itu, namun hujan sangat deras, awan gelap lebih mendominasi langit malam itu, sehingga cahaya bulan dan bintang tidak terlihat sedikit pun. Udara sangat dingin, semilir angin malam terasa sangat jelas menusuk tulang, tapi entah kenapa aku enggan untuk beranjak sedikitpun dari tempat itu, kusandarkan tanganku ke tembok pembatas, pandanganku lurus kearah bagian atas pohon besar tadi. Pandanganku terus menurun menelusuri batang besar pohon tersebut, walaupun gelap namun sedikit terlihat. Tidak aku sadari dan tidak aku sangka tiba – tiba suara petir terdengar sangat kencang dan menimbulkan efek cahaya untuk beberapa detik. Saat itu, saat cahaya itu hadir beberapa detik, sangat terlihat jelas sesosok manusia bertubuh tunggi mengenakan jubah hitam lengan panjang lengkap dengan tudung yang menutupi kepalanya (mungkin sebuah jas hujan) tengah berdiri dibawah pohon besar itu. Aku melihatnya dari arah samping dan sedikit terhalang oleh beberapa tiang jemuran. Orang itu berdiri menghadap ke arah kanan, dihadapannya tergeletak seseorang berbaju warna putih, itu sangat membuat ketakutan. Dan yang membuatku lebih ketakutan lagi adalah sesaat dengan adanya cahaya itu, mata orang berjubah itu melirik keatas.. ya’ dia melihatku.

Aku tidak bisa mengingat wajah itu, yang aku lihat hanya sepasang mata yang menyeramkan, karena gelap dengan cepat kembali datang menghilangkan pemandangan menakutkan itu. Entah nyata atau tidak, namun aku berharap itu bukan kenyataan, yang ada di pikiranku adalah: berlari kembali ke kamar. Aku melihat dari ventilasi masing – masin kamar sambil berlari, semua lampu kamar teman – teman ku sudah mati, itu tandanya semua temanku sudah tertidur, aku menyeruak masuk ke dalam kamarku yang tidak dikunci, sedikit ku perhatikan Rafsan dan Himawan sudah terlelap tidur, namun Rifan sedang membaca sebuah buku dengan posisi tertidur, pikiranku sangat kacau waktu itu, yang mampu aku lihat pada sampul buku yang di baca Rifan itu bertuliskan “POIROT” dengan ukuran huruf yang besar, huruf – huruf kecil sebelum dan sesudah kalimat itu tidak terbaca jelas olehku. Ku balikkan badanku lalu kukunci pintu kamarku, aku sadari Rifan sedikit terkaget dan bertanya: “ada apa bonk?”, aku tidak menjawab, aku langsung melompat ke tempat tidurku, menarik selimut, dan menutupi seluruh tubuhku termasuk kepala. Aku masih ingat apa yang di ucapkan Rifan setelah itu, dia mendesis pelan:“aneh”. Tentu saja karena rasa takutku aku tidak bisa lagsung tertidur, aku berharap apa yang aku lihat tadi adalah salah. Perlahan – lahan suara rintik hujan mengantarku tidur lebih cepat tanpa aku sadari sebuah pasta gigi masih aku pegang erat.

“siapa? Siapa mayat itu?” aku bertanya dengan tempo cepat, yang mampu aku ingat temanku wakitu menjawab: “entahlah, aku juga baru bangun tidur, coba tanya yang lain” aku ingin menceritakan apa yang aku lihat tadi malam kepada teman – temanku, namun kuurungkan niatku dan kembali masuk kamar dengan kepala penuh kebingungan, sesekali tergambar kedua mata yang menatap tajam setiap kali kupejamkan mata.

Siang hari aku kembali berjalan – jalan  ke balkon tempat dimana aku menyaksikan ending dari sebuah adegan pembunuhan itu. Kulihat para petugas dari kepolisian sedang sibuk memeriksa TKP. Beberapa jemuran masih tergantung di tempat penjemuran, aku yakin dari tadi malam jemuran itu masih tergantung. Yang punya jemuran pasti sama sepertiku, selalu malas mengangkat jemuran kalo jemuran itu sudah terlanjur terguyur hujan. Aku melihat ke arah langit.. dan langit sangat cerah.

Aku pun kembali ke kamar dengan hati yang sudah ku teguhkan  untuk menceritakan apa yang aku lihat semalam kepada teman – teman sekamarku. Saat itu di kamar hanya ada Rifan yang seperti biasa sedang serius membaca buku, buku yang sama sekali tidak aku tahu apa jenis buku itu.. buku yang semalam ia baca.

“aku ingin bicara sesuatu” ucapku mengawali pembicaraan dengan desah meminta sambil berharap dia menutup bukunya dan mendengarkan ceritaku, namun dia tidak mengindahkan harapanku, dia tetap serius membaca. Saat tersadar kalau di ruangan ini hanya ada aku dan dia, dia menjawab dengan malas “bicara saja”. Aku pun langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun, kulihat dari gerak – gerik wajahnya menyusuri tiap - tiap huruf dari buku, dia tidak mendengarkan, seperti tidak ingin melewatkan satu huruf pun dari bukunya itu. dia terus membaca dalam hati sampai akhirnya setelah aku menyelesaikan ceritaku semalam dia berkata meyakinkanku, seraya menutup bukunya: ”sepertinya menarik, ayo kita ceritakan semuanya kepada petugas kepolisian.” aku tidak berkomentar apa – apa, kulihat tatapan matanya bergurau namun serius. Sungguh tidak ada pilihan, aku sangat bingung waktu itu dan akhirnya aku mengindahkan permintaanya. Kita keluar mencari seorang petugas namun mereka sudah tidak ada, Rifan mengusulkan untuk menemui satpam asrama dan menceritakannya. 

Di pos satpam, seperti biasa ada dua orang satpam yang berjaga, namun kulihat Pak Joko sedang tertidur sehingga Pak Mahdi lah yang kami temui. Dengan seragam warna putih dan celana panjang berwarna biru pekat, kumis yang menjadi ciri khasnya terlihat lucu walaupun terkadang berubah menakutkan saat memberi hukuman kepadaku karena selalu pulang lebih malam dari waktu yang sudah ditentukan pada “list peraturan” yang tertempel permanen di pagar gerbang lengkung, yaitu jam sembilan, serta topi warna biru bertuliskan “security” yang tidak ia kenakan waktu itu. Kami berdiri didepan bangunan pos satpam itu, dia keluar dari pos dan bertanya: “ada apa dek ?” dia bertanya ke arah Rifan, aku sendiri berada di belakangnya, Rifan berbalik melirik ke arahku, matanya memerintahkan sesuatu, dengan mengerti aku langsung berbicara lancar menceritakan semuanya.
Setelah selesai.
“apa adek yakin dengan apa yang adek lihat ?.” Pak Mahdi bertanya
“yakin pak, saya sangat yakin.” 

Tiba – tiba seorang bapak dengan wajah yang tampak masih muda dan berpakaian seperti preman muncul dari arah belakangku, jaket warna coklat dengan kaos putih didalamnya, serta celana jeans berwarna biru lengkap dengan sepatu kulit berwarna hitam. Aku rasa dia sudah berdiri dari tadi dibelakangku dan mendengarkan ceritaku, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya dilingkungan asrama ini. Dengan sok akrab dia berkata “apa yang kau ceritakan tadi sepertinya menarik kawan”. Dan dugaanku itu benar. Aku berbalik dan diam karena masih bertanya- tanya tentang keberadaannya, sampai akhirnya Pak Mahdi bertanya: “ maaf bapak ini siapa ya?”

“saya datang kesini ditugasi untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan, yah, kira – kira begitulah dugaan semetara dari kepolisian, oh ya.. saya’.. detectif.” dengan sedikit senyuman bangga dia mengatakan profesinya. Namun yang aku lihat dari wajahnya sepertinya dia bahkan tidak tau apa – apa sedikitpun tentang profesinya itu. Seperti detectif mouri di serial Detectif Conan. Dia lebih mirip seperti seorang autis yang tidak rajin menonton film detectif. Namun penilaianku terhadap orang baru itu berbanding terbalik dengan temanku yang waktu berdiri disampingku, dia menatap dengan penuh kekaguman, di dalam matanya seperti banyak mutiara bertaburan, seperti seorang fans berat yang baru dipeluk idolanya. Tiba – tiba temanku yang memiliki wajah yang lumayan tampan (ini menurut komentar para perempuan, yang memang banyak perempuan mengejarnya untuk menjadi pasangannya) dengan ilmu pengetahuan yang luas itu berubah 180 derajat, dia jadi aneh.

“waaaah detectif ya.. boleh kah saya menjadi anjing pengikut anda selama menyelidiki kasus di asrama ini.” dengan wajah penuh kegembiraan, sepertinya bola hitam di matanya sudah mneghilang digantikan oleh dua bintang berwarna kuning, wajah temanku penuh dengan harap, dan anjing pengikut mungkin dia artikan seorang asisten.

“itu sebuah pengajuan ide yang bagus teman.” jawab detectif itu seraya menepuk pundak temanku. Seperti seorang wasit tinju yang mengangkat tangan sang juara tinju. Dalam pandangan mata temanku mungkin aku dan Pak Mahdi sedang bersorak dan bertepuk tangan.

Detectif itu langsung mengarahkan matanya kepada Pak Mahdi dan bertanya: “berdasarkan cerita anak ini, apakah ada kejadian yang anda ketahui pada sekitar jam 12 malam kemarin ?”

Yang ditanya menjawab.

“tentu saja, kami menemukan mayat di samping asrama gedung C.2 tepatnya di tempat penjemuran pakaian anak – anak C.2.”

“apa bapak yang pertama kali menemukannya?” tanya detectif itu, dan sekarang terlihat mulai mengintrogasi.

“tidak. Tengah malam itu hujan sangat deras, Wahid (salah satu kakak pembimbing di gedung asrama C.2) melapor kesini berlari – lari sambil berteriak – teriak ketakutan, saya sedang tidur lalu Pak Joko membangunkanku, ya Pak Joko bagian jaga malam waktu itu. Lalu kami berdua keluar menemuinya, aku lihat seluruh tubuhnya basah kuyup, malam itu memang hujan sangat deras, wajahnya nampak ketakutan sekali, tangan dan mulutnya gemetar, kami menenangkannya agar bisa bicara dengan tenang.
-----------
“a..a.. ada ma.. mayat” ucapnya tergagap saat saya tanya ada apa.
“apa kau tidak main – main?”
“ti.. tidak.. di tempat penjemuran pakain C.2”
-----------
“Kami pun langsung pergi kesana dan memang benar, mayat Daniel sudah tergeletak disana, tepatnya di bawah pohon besar. Kami menunggu pagi untuk menelpon polisi.”

Seketika aku dan Rifan ternganga tak percaya, ternyata orang yang nahas itu adalah Kak Daniel, kakak pembimbing di lorong kita. Aku melirik ke arah Rifan sambil berkata pelan: “Kak Daniel”. Wajah aneh Rifan yang tadi pun kini terdiam tak percaya, lalu dia mengangguk dengan pucat.

“oh jadi begitu, bisa anda ceritakan tentang asrama ini?.” detectif meneruskan bertanya.
“bangunan asrama ini ada tiga, ketiganya tidak terlalu berdekatan, namun berada dalam satu lingkup yang dikelilingi oleh dinding yang sangat tinggi.”
“apakah kemarin ada orang asing yang masuk ke wilayah asrama ini?.”
“tidak.”
“sekali lagi, apa anda dapat meyakinkan itu?.”

“ya, aku yakin tidak ada orang asing yang masuk ke lingkungan asrama, karena hanya gerbang lengkung inilah satu – satunya jalan untuk keluar masuk asrama ini, otomatis ya saya dapat melihat siapapun yang keluar dan masuk, selain itu juga gerbang ini akan ditutup pada jam sembilan malam, dan sampai jam sembilan kemarin aku dapat memastikan tidak ada orang asing yang masuk ke lingkungan asrama.” Pak Mahdi memberi sedikit penekanan pada kata tidak di akhir kalimat.
“baiklah, terimakasih.”

Rifan berbisik kepada detectif itu, aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, yang pasti setelah percakapan itu.. kita kembali ke gedung asrama C.2.

Beberapa menit kemudian kita sudah berkumpul di sebuah ruangan tempat pertemuan di lobby bawah. Aku, Rifan, detectif tadi yang tak aku ketahui namanya, Pak Mahdi, Pak Joko yang masih dalam keadaan mengantuk, dan para kakak – kakak pembimbing gedung asrama C.2 yang berjumlah delapan orang dan kini hanya tinggal bertujuh, yaitu: Kak Wahid, Ricky, Majid, Fauzan, Anan, Andreas dan seseorang berkacamata, Genta. Aku sendiri benar - benar tidak mengerti kenapa kita dikumpulkan seperti itu.

Semuanya duduk mengelilingi sebuah meja besar yang terbuat dari kayu jati yang kokoh, meja itu berbentuk elips. Detectif itu duduk diujung meja dan Rifan disebelahnya kanannya, aku sendiri berada disebelah kanan Rifan, sedangkan Kak Wahid, Ricky, Majid, Fauzan, Anan, Andreas, genta, Pak Joko dan Pak Mahdi berada disebelah kiri Detectif itu berurutan, sehingga yang berada dihadapanku adalah Kak Ricky. Mirip sebuah meeting di perkantoran.

“aku harap pertemuan ini berjalan dengan cepat, tidak ada gunanya aku berada disini dan membicarakan hal yang TIDAK PENTING karena masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan!” ucap Kak Andreas dengan sinis serta marah. wajahnya menghadap ke pintu ruangan. Dia memang terkenal dengan sikapnya yang tidak suka memperdulikan orang lain. Semua yang mengenalinya sudah memaklumi sifatnya itu, dan detectif itu dengan cepat menyesuaikan diri. Tanpa menghiraukan apa yang tadi diucapkan oleh Kak Andreas, dengan sedikit senyuman dia angkat bicara memperkenalkan diri.

“oke baikalah, panggil saja saya Stev, saya detectife, dan saya datang kesini dengan tugas menyelidiki sebuah kasus pembunuhan.”
“pembunuhan?” Kak Genta berdesis.
“ya’ sebuah pembunuhan” tukas Stev dengan cepat. Dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya dan membuka bagian tengahnya, lalu berkata dengan mantap: “berdasarkan informasi yang saya dapat dari petugas kepolisian, korban bernama Daniel, 20 tahun, mungkin umurnya sama dengan kakak – kakak disini. Terdapat sebuah luka pukulan akibat benda tumpul di dahi korban, dengan sedikit darah yang keluar dan sedikit kulit yang terkelupas, sepertinya pukulan yang mendarat di dahi korban sangat keras, juga sebuah luka tusuk yang sedikit lebar akibat benda tajam di perut bagian tengah. Korban tergeletak di bawah sebuah pohon besar, dan perkiraan kematian korban adalah tengah malam tadi. Dilihat dari tempat ditemukannya mayat korban dan luka yang terdapat pada korban, jelas ini merupakan sebuah kasus pembunuhan. Sungguh sangat tidak masuk akal bila kita menyimpulkan kalau ini merupakan sebuah kasus bunuh diri!.”

“sudahlah jangan terlalu banyak basa – basi, cepat jelaskan kenapa anda mengumpulkan kami sekarang di ruangan ini.” sekali lagi Kak Andreas berkata dengan wajah yang penuh rasa benci dan tanpa sopan - santun, dan sekali lagi yang lain memaklumi.

Tiba – tiba Stev kebingungan menampakkan wajah bodohnya. Aku rasa pertanyaan itu sangat mudah dijawab oleh orang yang merencanakan pertemuan itu. Lalu dia menatap Rifan yang berada di sebelah kanannya. Waktu di depan pos satpam aku ingat Rifan berbisik kepada Stev dan saat itu aku menyadari kalau yang merencanakan pertemuan itu adalah Rifan sendiri. Dengan wajah bodoh Stev berkata: “silahkan asistenku.”

Lalu Rifan berdiri dan berkata dengan mantap: “berawal dari sebuah dugaan dan sebuah kecurigaan.”
Semua yang ada diruangan itu sedikit tersentak dengan apa yang Rifan ucapkan.
“apa maksudmu anak muda?” Kak Fauzan akhirnya angkat bicara. dia adalah tipe orang pendiam.
“ya’ kecurigaan! Mari kita sedikit menampilkan sebuah kejujuran. Semua yang berada di lingkungan asrama ini sedang dicurigai. Satpam, semua kakak – kakak pembimbing atau pengurus masing – masing gedung, dan anak – anak penghuni asrama, tanpa terkecuali.” Ucap Rifan, matanya menjelajah ke semua wajah orang yang ada di ruangan itu.

Aku memperhatikan semua raut muka para Kakak – kakak itu, semua tampak sangat terkaget. Yang tampak sangat tersentak adalah Kak Andreas, dia terkenal sangat membenci korban, dia lalu berkata sambil mengangkat kedua tangannya tanda kekecewaan “hei bocah!! Berani sekali anda mengatakan hal itu. BODOH SEKALI. ayolah kawan – kawan, dengar apa yang tadi  diucapkan anak muda ini. Kebodohan  apa yang mendasari anda mengatakan hipotesis tanpa sopan santun itu.!!!” Mulut Kak Andreas bergetar begitu juga dengan kedua tangannya.

“aku harap semuanya tenang, sebaiknya kita dengarkan penjelasannya dulu. Tunjukan contoh yang baik untuk anak – anak.” Kak Wahid berkata dengan nada menyindir. Wajahnya sangat tenang. Terlihat dia lebih dewasa dari yang lainnya. Memang Kak Wahid merupakan orang yang lebih tua dan pengalamannya sebagai kakak pembimbing asrama juga lebih banyak, dan dia orang yang sangat alim. Kekecewaan yang mendalam tergambar jelas di raut wajah Kak Andreas. 
“cih, ini sebuah penghinaan.” Kak Anan berdengus pelan.
Sungguh tidak aku bayangkan sebelumnya. Semua kakak – kakak pembimbing yang sangat aku segani, bisa bersikap seperti itu dalam situasi tertentu.
aku perhatikan Kak Majid hanya terdiam, tidak ada kata – kata yang keluar dari mulutnya, raut wajahnya pun tampak sangat tenang, kakak yang satu ini sepertinya seorang pendiam. Melihat keadaan ini, Rifan terdiam sejenak dan kembali angkat bicara.
“dengan segala hormat serta kerendahan diri saya, maafkan saya bila terlalu lancang mengungkapkan pendapat saya. Saya tidak menghina. ijinkan saya untuk menjelaskan semuanya. Saya tidak akan menarik sebuah kesimpulan tanpa sesuatu hal yang logis yang mendasarinya.”
“cih, bila memang ada pelaku, dia pasti berasal dari luar.” Kak Ricky berkata sangat pelan. Dia memalingkan muka.
Rifan tidak memperdulikannya, dia kembali pada hipotesisnya.
“Satu – satunya jalan masuk ke lingkungan asrama ini adalah gerbang lengkung didekat pos satpam. Beberapa hari kebelakang dan sampai saat ini pun tidak pernah ada orang asing yang masuk ke wilayah asrama, benar begitu pak?”
Kedua satpam itu mengiyakan.
“kalaupun ada orang asing masuk memanjat dari luar melaui dinding setinggi pohon beringin yang berumur puluhan tahun itu menggunakan tangga, aku dan mungkin anda semua juga dapat memastikan dia tidak akan mampu kembali keluar, karena seperti yang kita tau, di luar itu merupakan sebuah tebing.” Dalam hati semuanya diam mengiyakan. “dan kalaupun memang pelaku ini merupakan orang luar, dia harus melarikan diri keluar melaui gerbang lengkung di depan, namun tidak ada orang asing yang keluar malam atau pada pagi tadi, benar begitu pak?”
Kedua satpam itu mengiyakan lagi.
“Jadi sekali lagi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah: pembunuhnya merupakan orang dalam!.” Rifan melanjutkan.
“lalu Kak Ricky, bukti apa yang menunjukkan kalau pembunuhnya berasal dari luar?” Rifan bertanya pada Kak Ricky, dan Kak Ricky hanya diam mendengus.
“hhmm.. kalau begitu yang dicurigai disini merupakan semua orang yang ada di lingkungan asrama, bukan begitu?” Kak Wahid bertanya dengan ramah.
“ya’”
“lalu kenapa yang dikumpulkan disini hanya kita selaku kakak pembimbing gedung asrama C.2?” Kak Wahid kembali bertanya dengan nada suara yang ramah.
“tidak mungkin untuk mengintrogasi semua penghuni asrama, jumlahnya mungkin ada 3 ribu lebih. Jadi saya mencoba mengeliminasi dengan segala kemungkinan dan fakta – fakta yang sudah ada.” Dia diam sejenak. Kuperhatikan semua orang masih mendengarkan dengan serius. Keadaan mulai menegang.
“teman ku ini, dia bernama Faisol” sungguh baru kali itu aku mendengar dia mengatakan namaku. “pada saat kejadian, pada jam 12 malam, dia sempat berada di balkon lantai dua yang menghadap ke pekarangan tempat penjemuran pakaian itu. Dia melihat seseorang mengenakan jubah hitam berdiri menghadap mayat almarhum. Dan dia sempat meliriknya. Kemungkinan besar orang itulah yang membunuh Kak Daniel. Postur tubuh korban tidak seperti anak – anak seumur kita yang menjadi penghuni asrama ini, bukan begitu sobat?”
Aku mengiyakan. Semua orang tiba – tiba menatap ke arahku yang dari tadi mungkin tidak menyadari kehadiranku waktu itu. Dan aku rasa tatapan mata Kak Andreas sangatlah menyeramkan, seakan mengancam. Pikiranku pun mulai melayang kemana – mana, mungkinkah dia yang aku lihat waktu itu, aku mencoba menepisnya.
“dari sini aku menyimpulkan bahwa pelaku kejahatan itu merupakan orang dewasa. Semua orang dewasa yang berada di lingkungan asrama, yaitu para pengurus atau para kakak – kakak pembimbing, tidak terkecuali para satpam.” Rifan melanjutkan.
“kalau begitu kenapa hanya para kakak – kakak pembimbing yang berada di gedung C.2 ini yang dicurigai, bukanlah masih banyak orang dewasa yang berada di gedung asrama yang lain, C.1 dan C.3?.” kembali Kak Wahid bertanya dengan ramah dan tenang. Aku kagum dengan ketenangannya itu.
“ini yang akan saya jelaskan berikutnya. Dilihat dari tempat kejadian yaitu di tempat penjemuran pakaian para penghuni gedung C.2, jelas yang bisa kesana tanpa ketahuan orang luar adalah hanya para penghuni gedung C.2 sendiri. Bila pelaku adalah orang dari gedung asrama yang lain, mungkin akan langsung di ketahui oleh satpam, karena dari pos satpam dapat terlihat dengan jelas bila ada orang berjalan menuju ke gedung asrama C.2, benar begitu pak?”
Kedua satpam kembali mengiyakan.
“kalau begitu, kedua satpam ini juga dapat dicurigai kan?” pertanyaan Kak Genta ini membuat Pak Joko dan Pak Mahdi sedikit mendongkak.
“oleh sebab itu anda semua yang terhomat dikumpulkan disini. Maaf sekali bila ada ungkapan saya yang terlalu mengada - ada.” ucap Rifan kembali duduk mengakhiri penjelasannya.
Stev kembali menganmbil alih.
“terimalah kenyataan ini, ini sudah biasa dalam sebuah kasus yang membutuhkan sebuah kegeniusan, saya akan memastikan semua yang ada di lingkungan asrama ini tidak bersalah lalu saya akan mencari jejak si pelaku di luar lingkungan asrama.” Stev bergumam lalu melanjutkan “mungkin saya akan sedikit mengajukan beberapa pertanyaan untuk menambah data dalam penyelidikan saya. Apakah anda sudah siap Kak Wahid?”
Kak Wahid menjawab dengan penuh wibawa: “tanyakanlah semua yang anda butuhkan dari saya.”
“Sudah berapa lama anda menjabat sebagai kakak pembimbing di asrama ini?”
“sekitar setahun setelah asrama ini berdiri, mungkin sayalah yang paling tua menjabat disini.”
“terimakasih. Apakah anda mengenal Daniel sebelumnya?”
“tentu saja, dia orang pertama yang saya kenal akrab di asrama ini, dia datang setahun setelah saya. 
Dan sampai saat ini saya berteman baik dengan dia, seperti keluarga, seperti adik dan kakak.”
“sangat mengagumkan. Maukah anda menceritakan apa yang anda lakukan saat tragedi itu terjadi?”
“mungkin anda sudah mengetahui bahwa yang menemukan mayat almarhum adalah saya sendiri. Waktu itu saya ingat ada celana jemuran saya yang belum saya angkat. Ada sesuatu yang sangat penting dalam saku celana itu, jadi saya memutuskan untuk mengambilnya walaupun saya tau waktu itu hujan deras dan sudah larut malam.”
“bukannya hujan turun dari jam empat sore, kenapa anda tidak mengangkatnya waktu itu?”
“waktu itu saya tidak ada di asrama. Saya pulang ke asrama jam sembilan malam. Pak Joko juga mengetahui itu.”
Pak Joko mengiyakan.
“bolehkah saya tau kemana anda waktu itu?”
“seperti biasa saya menjenguk ibu saya yang menderita sakit parah di rumah sakit.”
“terimakasih. Silahkan teruskan.”
“sesampainya di asrama ini saya memang ingat ada jemuran saya yang belum saya angkat, tapi hujan sangat deras jadi saya memutuskan untuk tetap menjemurnya, buat apa diangkat, toh bajunya sudah basah, dengan berharap besok tidak hujan agar jemuran saya kering. Namun sekitar jam 12 malam.”
“bolehkah saya tau sesuatu apa yang penting itu, yang tadi anda sebutkan?.” Stev memotong.
“oh maaf, saya kira ini tidak penting untuk anda. Itu hanya cincin milik ibu saya, ibu saya menyuruhku menjualnya untuk biaya rumah sakitnya.”
“terimakasih banyak. teruskan.”
“ sekitar jam 12 malam saya menyadari kalau cincin itu sudah tidak ada di kamar saya. Saya sudah mengobrak – abrik kamar saya, namun tetap saya tidak menemukannya. Saya langsung teringat kalau saya menyimpannya di saku celana yang sedang saya di jemur. Karena takut hilang, saya pergi ke tempat penjemuran pakaian. Namun mengerikan sekali, saya menemukan mayat almarhum tergeletak di bawah pohon besar dan waktu itu saya benar – benar takut, saya benar – benar kalut, tidak sempat saya mengambil cincin itu, saya langsung berlari ke pos satpam dan melaporkannya.”
Aku langsung teringat jemuran yang belum diangkat yang aku lihat waktu itu. Aku menoleh ke arah Stev, ternyata dia sedang tersenyum mesum kepadaku.
“Faisol sempat melihat sesorang berjubah hitam sekitar jam 12 malam di tempat penjemuran itu, apakah anda juga sempat melihatnya?”
“tidak sama sekali.”
“baiklah terimakasih, apakah anda punya pesan atau petunjuk untuk memberi sedikit titik terang pada pemecahan kasus ini?.”
“sebelumnya aku tidak pernah mengalami hal seperti ini, saya tidak tahu apa – apa, yang pasti saya sangat terpukul atas kematian Daniel sahabat saya, mungkin sekarang tidak ada lagi tempat untuk berbagi.” Terlihat di matanya isak tangis yang tertahan.
“terimakasih banyak.”
Stev menghembuskan nafas, alis matanya tetap mengkerut, dia sedikit mengangkat tangannya dan berkata: “silahkan anda.”
“saya?.” ucap Ricky, wajahnya penuh dengan kekesalan.
“ya. Anda. Untuk pembukaan, silakan sebutkan nama dan umur anda.”
“saya Ricky, 21.”
“sudah berapa lama anda menjabat sebagai pengurus asrama?.”
“baru satu tahun.”
“ada hubungan apa anda dengan almarhum?.”
“tidak begitu akrab dan tidak begitu mengenal baik mungkin karena baru saja bergabung. Namun hanya sekedar bertukar senyum ketika berpapasan. Saya mendengar dari para pengurus asrama yang lain kalau almarhum sering membuat masalah di asrama ini.”
“maukah anda menceritakan apa yang anda lakukan kemarin siang sampai jam 12 malam.”
“siang hari saya melakukan kegiatan seperti biasanya.  Dan sejak hujan turun saya hanya diam di kamar mengerjakan tugas laporan.”
“apakah anda benar – benar tidak keluar kamar semenjak hujan turun?”
“ya. Saya selalu malas melakukan kegiatan di luar kalau lagi turun hujan.”
“jam berapa anda tidur?”
“malam itu saya selesai mengerjakan tugas laporan kira – kira jam 11 malam.”
“apakah anda punya saran atau petunjuk untuk pemecahan kasus ini?”
Kak Ricky menggelengkan kepala dengan berputus asa.
“saya tidak terlalu mengenal korban, jadi maaf saya tidak bisa memberikan informasi yang dapat membantu penyelidikan anda.”
Setelah itu giliran Kak Majid memberikan keterangannya dengan ringkas, dia berbicara dengan nada yang pelan dan lemah lembut. Semua orang begitu mendengarkan.
“pada sekitar jam tiga sore sebelum turun hujan, saya sempat bertemu dengan almarhum di dalam asrama, dia bilang ingin meminjam alat cangkul punyaku, dan saya mempersilahkannya. Tidak banyak yang saya lakukan pada saat turun hujan, hanya menonton TV di ruang TV. Namun sekitar jam 11 malam lebih, saya keluar untuk membeli beberapa makanan ringan di Indomart, saya juga sempat bertemu dengan Kak Andreas di lobby. Dan saya tidur kira – kira jam 12 malam.”
“apakah anda memperhatikan raut muka almarhum ketika berbicara kepada anda. Apa terlihat ada ketakutan di raut mukanya?”
“tidak sama sekali. Malah saat itu dia terlihat sangat riang.”
“apakah anda sempat menanyakan untuk apa alat cankul itu?”
“tidak”
“apakah saat anda pergi atau kembali dari indomart sempat melihat seseorang dengan jubah hitam?”
“tidak sama sekali.”
Menyeramkan. aku mulai merasakan seorang pembunuh sedang duduk disana waktu itu bersama kami. Mengamati semua yang terjadi, dan mencoba menyembunyikan fakta yang menjadi kunci pemecahan kasus ini.”
“baiklah Kak Fauzan, saatnya menceritakan bagaimana anda menghabiskan waktu seharian kemarin?”
“saya seharian di kamar. Pagi memang sempat keluar dan itu pun hanya untuk menjemur pakaian.”
“dengan begitu anda membiarkan baju jemuran anda kehujanan?”
“benar, dari jam satu siang saya tidur dan bangun jam empat lebih, mugkin jemuran saya sudah pada basah, jadi untuk apa di angkat, lalu saya melanjutkan menyelesaikan tugas laporan saya sampai larut malam.”
“jam berapa anda tidur?”
“tidak terlalu malam, mungkin jam sepuluh kurang. Biasanya sebelum tidur saya pergi ke kamar almarhum untuk sekedar bercerita, namun malam itu tidak, saya sangat capek dengan tugas – tugas saya.”
“sepertinya anda mengenal baik almarhum?”
“begitulah, dia sering menceritakan masalah – masalahnya, begitu juga dengan saya.”
“apa anda tau masalah yang sedang dihadapi almarhum belakangan ini?”
“aku rasa dia tidak punya masalah, dan malah beberapa hari kebelakang dia sangat senang dengan pekejaannya, kalau punya masalah, dia pasti menceritakannya kepada saya.”
“apa anda tau, mungkin dia sering bertemu dengan orang – orang yang tidak dikenal?”
“tidak, dia jarang keluar asrama.”
“baiklah terimakasih. Apa anda punya sedikit petunjuk untuk kasus ini?.”
“saya rasa tidak pak, seharian saya di kamar, jadi aku tidak begitu tau tentang musibah yang menimpa sahabatku itu.”
Kak Fauzan berhenti dengan putus asa. Dan Stev berterimakasih.
“bagaimana dengan anda, Kak Anan?”
“mungkin disini saya yang akan di curigai.” Katanya yang mengagetkan.
Namun Stev menjawab dengan tenang, dia mungkin sangat tertarik: “ bisa dijelaskan kenapa anda sangat yakin akan dicurigai?”
“ karena pada jam 12 malam kurang, saya pergi keluar untuk membuang sampah yang sudah menumpuk di kamar, ke tempat sampah yang besar yang ada sebelum pekarangan tempat menjemur pakaian.”
“malam itu hujan deras, kenapa anda begitu memaksakan untuk membuang sampah, apakah tidak bisa pada pagi harinya?”
“saya sangat tidak tahan kalau terlalu banyak sampah yang menumpuk di kamar. Awalnya sampah dikamar saya memang sedikit, tapi mungkin saya terlalu banyak makan makanan kemasan yang saya beli siang hari, jadi banyak sampah kemasan yang menumpuk, saya tidak bisa tidur, dan akhirnya memaksakan untuk membuangnya.”
“apa anda sempat melihat seseorang dengan jubah hitam?”
“tidak pak.” Jawabnya singkat.
“bagaimana hubungan anda dengan almarhum?”
“baik. Layaknya seorang teman, dia orang baik, walaupun kemarin – kemarin dia sempat marah – marah karena saya belum mampu membayar hutang saya kepadanya, tapi saya memaklumi itu, sudah lama tapi saya belum mampu untuk membayar.”
“kapan anda terakhir bertemu dengan korban?”
“kemarin malam jam sembilan di lobby, saya baru pulang kumpul – kumpul dengan teman lama di dekat asrama ini, dan almarhum sepertinya mau keluar, saya tidak tau mau kemana, dia membawa cangkul, yang pasti wakut itu dia tidak memberi senyum seperti biasanya, wajahnya nampak kesal sewaktu melihat ke arah saya, mungkin karena kejadian waktu itu, dan saya memang  memakaluminya.”
“apakah anda benar – benar tidak bertegur sapa waktu itu?” Stev sedikit memajukan wajahnya.
“tidak, aku tau dia sangat kesal, saya tidak mau memperburuk suasana waktu itu,”
“hhmm..” Stev tiba – tiba bergumam. kedua alisnya menyatu.
“silahkan anda, Kak Andreas.”
“SAYA SANGAT MEMBENCINYA!” semua orang terkaget mendengarnya. Dan mengalihkan pandangan kepadanya, Kak Mahdi yang sedang menunduk pun kini mendongkak mengarahkan mata ke arah Kak Andreas.
“bisa di jelaskan kenapa bisa begitu?”
Kak Andreas menggeleng.
Stev terdiam sebentar mendengar jawaban itu, lalu berkata sedikit pasrah “ hhmm.. baiklah”
“jadi anda tidak kaget mendengar kematian yang menimpa almarhum?”
“ya. Saya malah senang.” Dia berkata sangat jujur. Matanya tidak berkedip.
“bisa anda ceritakan, sedang melakukan apa anda kemarin saat kejadian?”
“sepertinya saya tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Kemarin siang sampai sore hari saya hanya berdiam diri dikamar, dan pada jam sebelas seperti yang dikatakan Kak Majid, saya bertemu dengannya di lobby, saat itu saya akan memulai mencopoti koran dinding yang berada tembok lobby.”
“apa itu tugas anda dan memang jadwalnya jam sebelas?”
“ya. Itu memang tugas rutin saya. Tidak, saya terlambat, seharusnya jadwal mencopoti koran adalah jam sembilan. Karena beberapa alasan saya terlambat sehingga baru bisa mencopotinya jam sebelas.”
“hhmm.. apa anda mengenal almarhum?”
“tentu saja”
“apakah sangat dekat?”
“tidak, terakhir saya punya masalah dengan dia dan sempat bertengkar.”
“apa saya boleh tau seperti apa masalah itu?”
“sepertinya itu tidak penting”
Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Stev. Dengan sabar dia meneruskan bertanya.
“apa anda pernah melihat seseorang berjubah hitam kemarin di dekat asrama ini?”
“tidak, sepertinya anak ini salah lihat, saya juga sempat pergi ke balkon lantai dua setelah selesai mencopot koran dinding, untuk sejenak menenangkan pikiran, namun suasana waktu itu sangat dingin ditambah langit sangat gelap, saya tidak dapat melihat apapun, jadi saya putuskan untuk kembali ke kamar. Dan tidur.
“hhmm begitu.. baiklah”
“dan satu – satunya pengurus asrama berkaca mata, silahkan Kak Genta, berikan penjelasan anda?”
“kemarin siang saya sempat mengobrol di kamar almarhum.”
“bolehkah kami tau apa yang kalian obrolkan?.”
“ah itu tidak penting, hanya obrolan biasa.”
“sepertinya anda dekat dengan almarhum, benar begitu?”
“sangat dekat, saya pertama kali datang ke asrama ini bersama dengannya.”
“bisa anda cetitakan, apa yang anda lakukan kemarin hingga tragedi itu terjadi?”
“seperti yang saya katakan tadi, siang hari saya berada dengan almarhum di kamarnya. Saya benar – benar tidak menyangka dia akan menemui ajalnya secepat itu, siang itu aku mengobrol dengan dia, dia sedang serius dengan kertas - kertasnya, mungkin mengerjakan tugasnya. Saya melihat tidak ada beban di wajahnya.” Kak Genta diam sejenak “saya tidak yakin kalau pembunuhnya bukan diantara kita.” Dia menambahkan.
“lalu apa yang anda lakukan sekitar jam empat sampai jam sebelas, saat hujan turun itu?”
“tidak ada yang saya lakukan, hanya berdiam di kamar”
“baiklah, untuk menutup diskusi kali ini apakah anda ingi menambahkan saran demi mendapat sedikit titik terang?”
“maaf, saya tidak tau apa – apa.”jawab Kak Genta sedikit putus asa.
Stev termenung untuk beberapa menit, aku lihat Kak Andreas sudah tidak sabar untuk beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya Stev berkata “sepertinya cukup sampai disini. Bila ada sesuatu yang dapat membantu pemecahan kasus ini, silahkan temui saya, mungkin beberapa hari kedepan saya akan berada di asrama ini, dan mungkin sementara tidur di ruang TV. Dan sekarang saya ingin bicara dengan kedua anak ini.” Dia melirik ke arah kita berdua.
Satu per satu meninggalkan ruangan, aku lihat Kak Andreas yang pertama kali keluar.
“oh ya, aku harap Pak Joko dan Pak Mahdi sudi untuk tinggal beberapa menit saja.” Stev berkata sedikit berteriak, dan tanpa menjawab mereka pun kembali duduk.
“cukup dua pertanyaan untuk anda berdua. Apa yang anda lakukan kemarin, dan apa hubungan anda dengan almarhum?”
“kami berdua seharian hanya diam di pos, keluar pun hanya untuk membeli beberapa bungkus rokok ke indomart. Dan saya tidak ada hubungan apapun dengan almarhum, hanya sebatas kenal, begitu juga dengan para pengurus asrama yang lain.” Pak Mahdi menjawab.
“begitu juga dengan saya.” Dan Pak Joko berkata.
“hhmm.. aku sudah mengira kalau anda berdua ini memang tidak akan ada sangkut pautnya dengan kasus ini.” Ucap Stev “mungkin bapak berdua bisa kembali ke pos untuk melanjutkan pekerjaan bapak. Terimakasih untuk keterangannya”
Kedua satpam pun kembali ke pos.
Akhirnya di ruangan itu hanya ada kita bertiga. Stev berkata memulai pembicaraan kita bertiga, mungkin setelah kedua satpam itu keluar beberapa langkah dari ruangan itu.
“bila memang ada pelaku, dia tidak akan memeberikan informasi yang ingin kita dengar”
“begitulah.” Jawab Rifan. Aku hanya diam mendengarkan.
“sebenarnya siapa yang diuntungkan dari kematian korban ini. Aku masih mencari itu dan datanya aku rasa masih kurang untuk menarik sebuah kesimpulan.” Ungkap Stev.
“marilah kita menata fakta – fakta yang baru saja kita dapat.” Rifan menambahkan.
Mungkin kira – kira sekitar satu jam kita berdiskusi di ruangan itu. Dan sekali lagi, aku hanya diam dan menjadi pendengar yang baik. Dua mahluk aneh itulah yang saling menukar pendapat satu sama lain. aku kembali tebayang oleh sesosok yang aku lihat tadi malam, berusaha mengingat – ingat kedua mata itu, aku mencoba, tapi tetap tidak bisa, pikiranku melayang – layang dan satu jam pun berlalu.
“saatnya kita mengacak – acak TKP!” ucap Stev memulihkanku dari lamunan.
Kami ke lobby, kulihat di tembok pojok yang membentuk sudut 90°. Terdapat koran – koran nyang di tempel, aku lihat dari kejauhan, banyak sekali berita yang memuat tentang kematian Kak Daniel lengkap dengan ucapan – ucapan belasungkawa. Kami pun melewati pintu besar yang cara menutup dan membukanya yaitu digeser, kami pun keluar.
“apa jalan keluar gedung ini hanya dari pintu ini?” Stev bertanya.
“begitulah.” Jawab Rifan.
Rifan adalah tipe orang pendiam dan aku sebaliknya, tapi entah kenapa sekarang terbalik.
“jadi untuk menuju tempat penjemuran pun harus melalui pintu ini.”
“ya.”
Kami pun berjalan menuju samping gedung, namun pertama kali harus menyusuri bagian depan dari gedung asrama ini. Sebelum ke tempat pekarangan penjemuran pakaian, tepat sebelumnya ada sebuah bak sampah besar. Disinilah semua sampah yang ada di gedung asrama C.2 di buang. Dan setiap semingu sekali sampah akan diangkut oleh petugas kebersihan dan membuangnya ke tempat lain. aku bersama yang lain menengok bak samapah itu, dan.. kosong. Aku langsung ingat kalau hari ini hari jum’at. Mungkin tadi pagi sebelum para polisi datang para petugas kebersihan sudah mengangkutnya.
Dan kita sudah sampai di TKP. Tidak terlalu banyak pakaian yang di jemur, hanya beberapa saja, tidak seperti hari sabtu atau minggu, selalu banyak baju dan celana yang digantung. Namun ini tentu saja menguntungkan kita dalam pemeriksaan.
“para petugas kepolisisan sebelumnya pernah memeriksa tempat ini, tapi mereka tidak merubah sedikitpun tata letak atau apapun, hanya memindahkan mayat korban saja.” Ucap Stev.
“itu bagus.” Timpal Rifan.
Pekarangan itu hanya berupa rumput sintetis. Banyak potongan – potongan beton seukurang batu bata bertumpuk di pojok pekarangan tersusun menumpuk dengan rapi, walaupun ada beberapa yang berterbaran didekatnya, mungkin sisa pembangunan gedung asrama atau pembangunan yang lainnya, pikirku waktu itu, juga terdapat tumpukan lembaran – lembaran seng disampingnya, berbentuk persegi, kira – kira berukuran 3x3 meter, mungkin itu merupakan sisa pembuatan penopang air hujan. Terdapat beberapa galian di dekat mayat korban ditemukan. Juga ada sebuah cangkul yang tergeletak. Aku lihat Stev memeriksa keadaan tanah, dan Rifan berdiri mendongkakkan wajahnya keatas, mata tajamnya seperti mengukur tinggi dinding besar yang menjadi pembatas lingkungan asrama.
“apakah semalam kamu melihat korban tergeletak disini?” Stev bertanya kepadaku, dengan tangan yang menunjuk tepat di bawah pohon besar, tepatnya lagi didekat cangkul itu tergeletak.
Aku menjawab.
“ya. Tidak salah lagi. Dan pria berjubah itu berdiri menatapnya tepat di ujung dekat kaki korban.”
“hhmm.. “ Stev bergumam dan melanjutkan, “terdapat luka pukulan serius di dahi korban, sampai kulitnya pun terkelupas. Juga terdapat sebuah tusukan di perut korban bagian tengah. Namun polisi tidak menemukan sebilah pisau pun di sini. Apakah kamu melihat pria itu memegang pisau?”
Aku menjawab, “tidak, mungkin karena gelap, dan hanya sekejap, jadi tidak begitu jelas aku melihatnya.”
“bisa saja dia melemparkan pisau itu keluar melewati dinding ini.” Rifan berkata.
“apakah sampai?” aku bertanya.
“dengan sekuat tenaga, aku pikir sampai.”
“tidak, polisi bahkan sudah memeriksanya di luar sana, dan tidak menemukan adanya pisau, atau alat pembunuhan lainnya.”
“atau mungkin, pelaku itu membawanya kembali ke asrama.”
“itu kemungkinan yang lain.” Jawab Stev.
“nah, anak – anak, aku rasa sudah cukup. Langit juga sudah mendung, aku rasa sebentar lagi akan turun hujan. Lebih baik kita masuk ke dalam asrama dan melanjutkan pemeriksaan di kamar almarhum.”
Kami hanya menurutinya dan mengikutinya. Setelah masuk kedalam gedung, kami langsung menuju ke kamar tidur almarhum di lantai dua. Tampak satu buah ranjang tempat tidur, satu buah meja belajar, dan satu buah lemari. Di pojok ruangan tersender sapu dengan gagang gerwarna biru di sampingnya terdapat sebuah tempat sampah. Stev membuka lemari, hanya terdapat tumpukan pakaian yang tersusun rapi, tumpukan baju dan tumpukan celana tersusun secara terpisah, serta botol – botol spray cologne yang berjejer rapi di lemari bagian bawah. Di meja belajarnya banyak sekali tumpukkan kertas dan buku – buku ilmu pengetahuan. Almarhum memang terkenal memiliki otak yang cerdas dan berwawasan luas. Di bagian atas meja, di dekat lampu belajar. Terdapat sebuah foto lengkap dengan piguranya. Disana terlihat tengah berdiri dua orang pasangan ibu dan bapak, kabarnya itu merupakan orang tua kesayangan almarhum, dan orang tua nya itu juga sudah meninggal dunia sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sampai saat ini Kak Daniel membiayai sekolahnya sendiri, mendapat beasiswa, dan sampai sekarang dia menjabat sebagai pengurus asrama untuk sedikit meringankan beban biaya kuliahnya.
Rifan menundukkan kepalanya, menerawang ke kolong ranjang, hanya terdapat sepatu – sepatu yang berjejer. Aku memeriksa kertas – kertas yang berserakan di meja belajar. Banyak sekali kertas dengan tulisan tangan, puisi – puisi yang menurutku terlalu berlebihan. Namun yang membuatku tertarik adalah, sebuah kertas dengan bagian bawah yang terpotong, dan di ujung potongan – potongan itu berwarna hitam kekuningan, seperti sebagian kertas itu hilang terbakar. Tulisan di kertas itu bukan tulisan tangan:
“Di penjara ketiga, dan berubah menjadi sebuah istana, disamping, di bumi yang tidak terkena cahaya matahari.”
Hanya tulisan itulah yang terdapat pada sepotong kertas itu. Stev dan Rifan bergegas memeriksanya. Mereka berdua langsung bergumam meperhatikan tulisan itu. Kami pun keluar dan membawa tulisan tersebut untuk mencari informasi tentang kertas itu kepada teman terdekat almarhum. “mungkin ini lah satu – satunya petunjuk.”
Waktu itu kami bertemu dengan Kak Wahid di lobby dan menanyakan prihal kertas itu, dia menggeleng, tidak tau-menau sedikitpun mengenai kertas itu. Kak Fauzan dan Kak Genta pun sama. Namun saat kami duduk berdiam di lobby, Stev terus memperhatikan tulisan itu, tiba – tiba Kak Majid menghampiri kami dan dia berbicara langsung menyinggung kertas itu.
“kertas itu diambil almarhum dari perpustakaan tua yang sudah tidak dipakai lagi. Di pojok asrama.”
“apa anda tau sesuatu tentang tulisan ini?” wajah cerah Stev terlihat memancar.
“tidak, yang saya tau dia mengambilnya dari perpustakaan itu.”
“bisa antarkan saya kesana.”
“dengan senang hati.”
Sesampanya didalam perpustakaan itu, gelap sekali, hanya sedikit penerangan berwarna kuning dari lampu, terdapat enam buah rak buku panjang dan tinggi berjejer menyamping di ruangan itu. Ada sebuah foto berukurang sangat besar menempel di dinding. Seorang lelaki tua dengan kumis yang aneh, terpotret hanya kepala sampai dadanya. Ternyata itu merupakan orang pertama yang membangun asrama ini. Menurut Rifan orang itu mirip seperti Hercule Poirot, tapi menurutku itu lebih seperti Hercule Melorot.
“akhir – akhir ini, dia sering duduk disini sendiri.” Kak Majid berkata sambil menunjuk kursi di depan buku – buku.
“kenapa anda tau?”
“saya sering mengintipnya”
“kenapa anda melakukan itu?.”
“perpustakaan ini tidak pernah lagi dipakai setelah suatu musibah menimpa gedung ini bertahun – tahun yang lalu. Pintunya pun selalu tertutup. Namun beberapa kali saya melintas kesini, saya selalu melihat pintu ini sedikit terbuka, saya penasaran dan mengintipnya, ternyata Daniel selalu berada di dalam duduk membaca dengan serius. Saya tidak pernah menanyakan apa yang dia baca, namun terakhir aku melihat dia keluar dan membawa selembar kertas itu.”
“hhmm.. begitu.”
“sepertinya ini lembaran kertas yang sama, dari jilid yang sama.” Tiba – tiba Rifan berkata sambil mengangkat satu kertas yang tersimpan di meja.
Kertas itu bertuliskan:
“Mahkota Raja yang hilang, pada musim hujan, “
Nasib kertas itu sama halnya dengan kertas yang kami temukan di kamar almarhum. Terpotong dibagian bawah.
“hhmm.. mungkin” Stev bergumam sambil terus terlihat berpikir. Setelah sejenak berpikir, lalu dia berkata.
“baiklah Kak Majid, terimakasih atas informasinya, ini sangat membantu.”
“itu bukan masalah.” Jawabnya. Kami pun keluar dan berkumpul di lobby, tanpa Kak Majid.
Hujan sudah turun, begitu deras. Dan senja pun mulai menjemput malam.
“malam ini mungkin aku akan sedikit mengobrol dengan para pengurus asrama.”
“dan aku tentu saja ikut.” Ucap Rifan menyeringai.
Aku mendapat pesan dari Rafsan dan Himawan, bahwa mereka tidak tidur di asrama malam ini, karena masih takut akan kasus pembunuhan itu. Mereka memang penakut.. begitu juga aku.
“aku tidak akan melewatkannya sedikitpun.” Tambah Rifan dengan serius.
“bukannya ada tugas membuat cerita ‘tentang asrama’ yang harus diketik Fan?”
“ah itu bisa nanti.”
“jangan bodoh, bukannya ini tugas tahunan yang harus dibuat setiap penghuni asrama.” Setiap tahun penghuni asrama ini berbeda – beda. Sesuai angkatan. Dan pendidikan di asrama hanya satu tahun. Sebentar lagi kami akan keluar, jadi mendapat tugas untuk membuat cerita tentang asrama, genrenya bebas.
“lihat saja, nanti juga selesai.”
Malam itu, semua anak – anak berkumpul di lobby. Mendengar sebuah cerita dari Kak Majid, ini memang sudah menjadi kegiatan rutin, biasanya para kakak pembimbing memberikan sebuah motivasi, tapi kali ini Kak Majid menceritakan kisah tentang sejarah asrama ini, Kak majid mengungkapkan, bagi anak – anak yang mau lulus dari asrama biasanya kisah ini selalu di ceritakan. Semua penghuni gedung ini, Aku, Rifan dan Stev mendengarkan terlebih dahulu sebelum melakukan niatnya. Sebelumnya maaf aku tidak dapat menulis semua yang diceritakan oleh Kak Majid, mungkin intinya saja.
“dulu asrama ini merupakan sebuah penjara buatan Belanda, sebelum negara Indonesia merdeka, hanya asrama C.2 saja. Penjara itu di rombak karena akan dibuatnya sebuah tempat bagi pembentukan karakter anak – anak dengan didalamnya terdapat pengurus – pengurus yang dipilih, tentunya melalui proses seleksi. Pengurus itu bertugas untuk membimbing dan menjalankan metode – metode yang sudah ditetapkan dari dulu. Tentunya asrama ini sudah terkenal melahirkan anak – anak yang berkualitas, banyak yang sudah menjadi pemimpin dan berpengaruh bagi Bangsa. Dibuatlah dua bangunan yang sama secara berbarengan, yaitu yang sekarang menjadi gedung asrama C.1 dan C.3. dulu, penamaan gedung asrama – asrama ini berurutan, tidak seperti sekarang. Dan C.2 dulu adalah C.3. hal ini disebabkan karena di gedung ini sering terjadi musibah, dan dua tahun terakhir terjadi musibah kebakaran yang menghanguskan setengah dari gedung ini. Oleh karena itu para petinggi organisasi asrama merenopasi kembali bangunan ini sehingga tampak lebih modern. Begitu juga dengan gedung yang lain, semuanya disamakan sehingga terlihat seperti tiga gedung yang kembar. Namun penamaannya ditukar, sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Semua ini karena mitos itu. Dan benar saja tidak ada lagi musibah selama dua tahun terakhir yang menimpa gedung ini, namun kita tahu sekarang, salah satu pengurus dari gedung ini meningal secara miterius.”
Dan kata – kata terakhir sebagai penutup Kak Majid menambahkan, “semangat untuk pembuatan tulisan mengenai gedung ini ya, anak – anak.”
Setelah selesai bercerita, semua anak – anak kembali ke kamarnya masing – masing. Dan kami bertiga melangkah menghampiri Kak majid.
“mungkin ini akan sedikit menyita waktu anda, Kak majid.” Stev berkata.
“oh tidak apa – apa, lagi pula malam ini aku tidak ada perkerjaan.”
“saya hanya ingin mendengar pendapat anda mengenai almarhum.”
“bagiku dia sesorang yang cerdas, dia mampu mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Dia mandiri. Dia tidak mau merepotkan orang lain disekelilingnya. Dia merupakan inspirasi bagiku. Selama mengenalnya dan menjadi teman yang dekat, saya merasa nyaman. Saya benar – benar tidak percaya ada orang setega itu kepadanya. Saya benar – benar merasa kehilangan atas kematiannya.”
Kak Majid seperti akan meneteskan air matanya.
“kalau begitu sekali lagi terimakasih untuk keterangannya. Semoga kasus ini dapat dengan cepat terungkap.”
“sama – sama.”
Kami pun berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Kak Wahid yang berada di lantai dua.
Betapa kagetnya kami melihat Kak Wahid sedang menangis di kamarnya, dia duduk dan sikut tangannya bertumpu pada permukaan meja belajarnya, dia memandangi foto ibunya yang kini sedang sakit parah di rumah sakit. Saat kami masuk tanpa permisi karena pintu kamarnya sedikit terbuka. Dia sedikit terkaget danlangsung menyeka air matanya saat melihat kami bertiga masuk, aku merasa bersalah karena tidak permisi terlebih dahulu. Pada umunya semua kamar di asrama ini sama, di dalamnya hanya terdapat satu ranjang, satu lemari, dan satu buah meja belajar dengan kursi. Terlihat di dekat lemari ada dua ember yang masing -  masing terisi oleh baju basah dan baju kering, mungkin sudah mau di cuci, di pintu lemari terdapat tulisan “SEMANGAT” sangat besar. Diatas lemari terdapat beberapa botol bekas air minum mineral, sebuah cermin yang berdiri, peralatan mandi, payung, setrika dan beberapa buku yang tertumpuk. sapu, dan sepatu serta sendal, tempat sampah, terdapat di pojok ruangan.
“oh silahkan masuk, maaf kamarku sangat berantakan.” Katanya ramah. Padahal yang aku lihat kamarnya begitu rapi, tidak ada sedikit kotor pun dilantai. Kami duduk di ranjangnya, sedangkan dia tetap duduk di kursi.
Kami mengucapkan terimakasih.
“maaf tadi saya tidak mengetuk pintu dulu. Saya tidak tega mengganggu anda.” Ucap Stev membalas dengan ramah. Kalau tidak mau mengganggu kenapa harus masuk, pikirku.
“oh, tidak apa – apa.” Jawab Kak Wahid dengan senyuman diantara matanya yang masih merah karena menangis. “ngomong – ngomong ada apa ya?” lanjutnya.
“sebelum itu, bolehkah saya tau kenapa anda menangis?.”
“ah, itu, saya teringat dengan ibu saya yang sedang sakit.”
“bagaimana dengan ayah anda?”
“semenjak saya kecil ayahku sudah tiada.”
“oh maaf.” Jawab Stev tergagap, “eh anu.. ini saya mau meminta pendapat anda mengenai almarhum, seperti apakah dia.?”
Kak Wahid menarik nafas, mencoba bicara dengan tenang diantara sesaknya “ Daniel, dia sangat baik padaku, dia sangat cerdas. Dia sering membantuku. Dia tipe orang yang tidak mau merepotkan orang lain. kami berteman sangat lama, seperti yang saya ungkapkan tadi siang, kami hampir tidak pernah ada masalah satu sama lain. Saya juga sering menceritakan tentang ibu saya yang sedang sakit, dia selalu menguatkanku. Bagiku dia merupakan teman terbaik yang pernah saya kenal.” Wajah Kak Wahid menerawang.
“apa kalian benar – benar tidak pernah berselisih.?”
“tidak. saya nyakin tidak. Hubungan kita sangat baik.”
“hhmm.. baiklah terimakasih, maaf bila terlalu mengganggu anda.”
“tanyakan apa saja informasi yang anda butuhkan, dengan senang hati dan semampu saya, saya akan membantu.” Ucap Kak Wahid dengan senyum penuh kebaikan.
“sekali lagi, kami ucapkan terimakasih banyak.”
Kamar berikutnya adalah kamar Kak Ricky.
Beberapa kertas dan buku – buku berserakan di kamar Kak Ricky. Dia sepertinya sedang sibuk mengerjakkan sesuatu. Sangat berantakan, baju – baju yang belum di setrika menumpuk di atas ranjangnya. Sepatu – sepatu yang tidak tersusun rapi terdapat di kolong ranjang. Dua ember berada di atas lemari, begitu juga payung, tas besar dan beberapa anyaman hasil karyanya. Stev sudah mengungkapkan rasa tidak enaknya karena telah mengganggu. Dan menanyakan pertanyaan yang sama seperti kepada dua orang sebelumnya.
“sepertinya sudah jelas yang tadi siang. Saya hanya tau tentang korban dari gunjingan – gunjingan para pengurus lain, dan itu pun bagiku sangat tidak penting. Saya benar – benar tidak begitu mengenal korban jadi, sekali lagi maaf saya tidak dapat memberikan informasi yang anda butuhkan.”
“itu sangat membantu.” Stev menjawab dengan sedikit kecewa.
Berikutnya adalah kamar Kak Fauzan, namun ternyata kita berpapasan di lorong menuju ruang TV. Sesudah Stev menyampaikan maksudnya, Kak Fauzan berkata,
“menurut saya dia baik, cerdas, mandiri, dia juga teman yang bisa diandalkan, saya atau mugkin semua para pengurus gedung C.2 juga pasti merasa kehilangan sosok seorang Daniel.”
“pernahkah anda punya masalah dengan korban?.”
“dulu, sudah lama.”
“bolehkah saya tau bagaimana masalahnya.”
“sebenarnya itu hanya masalah sepele, kami menyadari itu, dan tak lama setelah itu Kami pun saling memaafkan.”
Mengetahui jawaban Kak Fauzan tidak mengarah pada pertanyaannya, Stev segera menyudahi pembicaraan itu dan segera mengunjungi kamar Anan.
“Sungguh kamar yang rapi” ucapku dalam hati. Ini memang pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar Kak Anan.  Diantara kamar yang pengurus asrama yang lain mungkin kamar Kak Anan lah yang paling rapi. Lantai yang bersih, buku – buku tersusun rapi di atas meja belajar. Sebuah lemari, diatasnya terdapat beberapa foto yang berjejer rapi. Sepatu serta sandal tertata rapi di Sebuah rak sepatu didekat pintu, payung dan sebuah sapu tergantung di dinding dekat pintu. Ranjang dengan sprey yang sepertinya sesudah bangun pagi biasa dibereskan lengkap dengan selimut yang sudah di lipat di ujung ranjang.
“bagaimana pendapat anda mengenai almarhum?.”
“hhmm.. secara keseluruhan beliau merupakan pribadi yang sangat baik, terlebih juga cerdas. Namun yang saya tidak suka, dia gampang marah. Mungkin hanya sifat itu yang tidak disukai oleh saya dan mungkin para pengurus lain juga sama tidak menyukainya.”
“maksud anda.?”
“yah, dia terlalu gampang marah, seperti yang terjadi saat dia menagih hutang kepada saya.”
“bukankah menurut anda sendiri itu merupakan sesuatu yang wajar.?”
“ya, tapi dia tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu.”
“saya mengerti perasaan anda, Kak Anan.” Ucap Stev. “terimakasih atas keteranganya. Maaf kalo kami mengganggu.”
Selanjutnya adalah kamar Kak Andreas. Aku sedikit berdebar – debar saat memasuki kamarnya.
Kamarnya nampak biasa saja, rapi namun ada beberapa kertas yang berserakan di lantai. Sepertinya cuciannya numpuk, dan yang membuatku kaget adalah jas hujan warna hitam yang tergantung di jendela, mungkin sedang di jemur. Tapi Stev tidak menyinggung sedikitpun prihal itu.
“dia memang serakah!!.” Jawaban itulah yang keluar dari mulut Kak Andreas setelah Stev menanyakan prihal tanggapannya mengenai almarhum.
“bisa anda jelaskan, kenapa begitu?”
“dia sudah mengambil jabatanku sebagai penanggung jawab gedung C.2, dia menuduhku sering lalai dalam mengerjakan tugas, sehingga saya diturunkan dari jabatan itu. Padahal semuanya tidak benar. Dia memfitnahku. Dan juga yang paling membuatku benci kepadanya adalah, dia telah merebut pacarku, satu – satunya kekasih yang sangat aku cintai dari dulu, kami sudah lama berpacaran dan saya sudah berniat akan melamarnya, tapi mahluk sialan itu mendekati dan merayunya, sampai jatuh ke pelukannya”
Aku benar – benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar waktu itu. Wajah Kak Andreas yang sebelumnya sangat menyeramkan, kini dihadapanku dia menangis dan berkata jujur seperti biasa, air mata kesedihan nampak mengalir membasahi kedua pipinya. Kami bertiga terdiam untuk sejenak. Rifan mengatupkan tangan di dagunya, pandangannya kosong ke arah lantai kamar itu, seperti berbicara pada seseorang, raut wajahnya sangat serius, lalu dia berkata pelan dengan bijak,
seorang lelaki hanya akan menangis untuk perempuan yang sangat dicintainya
Kak Andreas benar – benar menangis dan kembali meneruskan,
“aku mencoba untuk tetap bertahan, memintanya kembali untuk menerimaku.” Dan Rifan berkata lagi,
seorang lelaki akan tetap mempertahankan cintanya, karena memang hanya perempuan itulah satu – satunya. Satu – satunya yang ada di dalam hatinya. Walaupun banyak perempuan lain yang mengejarnya.”
“namun akhirnya aku merelakannya. Mungkin itulah sebuah pengorbanan terakhirku untuknya.” Kak Andreas mencoba menahan tangisnya,  menyeka air matanya yang sudah terlanjur membanjiri kedua pipinya.
dan seorang lelaki harus tau, apa – apa yang membuat hati kekasihnya itu bahagia. Walaupun itu membuat hatinya menangis. Seorang lelaki mau tidak mau harus mampu menyembunyikan tangisan itu dan tetap tersenyum merelakannya. Karena itu lah yang disebut dengan kasih sayang sejati.”
Rifan sepertinya tenggelam dalam perasaan Kak Andreas.
Dan Stev kembali bertanya.
“apakah jabatan untuk penanggung jawab gedung akan jatuh ke tangan anda, bila Daniel tiada?
“ya.” Kak Andreas menjawab pelan. Stev.. memang pintar menjebak.
Stev merasa sudah cukup dengan keterangan yang diberikan Kak Andreas, lalu keluar dengan mengucapkan terimakasih.
Dan terakhir adalah kamar Kak Genta.
“anda salah satu teman terdekat korban, betul?”
“benar sekali.” 
Kamar Kak Genta yang terletak di lantai bawah, dipenuhi bahan – bahan kimia, poster – poster mengenai kimia yang tak aku mengerti banyak sekali menempel di dinding kamar. Yang menjadi pembeda kamar ini dengan kamar yang lainnya adalah jendela yang berjeruji seperti penjara yang menghadap ke pekarangan depan, jendela yang batas bawahnya sebatas dada orang dewasa, dari jendela ini terlihat deretan pohon ramping yang mengitari lapangan basket. Dia takut kalau – kalau ada yang mencuri barang – barangnya. Dan ada sebuah pisau tergeletak di meja.

”dan sepertinya anda menyukai kimia?”
“mungkin lebih tepatnya sangat menyukai kimia.”
“baiklah. Bagaimana almarhum menurut pendapat anda?”
Lelaki berkacamata itu menjawab namun tangannya tak bisa lepas dari gelas ukur “dia orang yang sangat cerdas, penuh dengan semangat, dan mempunyai rasa ingin tahu serta rasa penasaran yang sangat tinggi.”
“apakah ada yang anda tidak suka dari korban.?”
“tidak, mungkin saya lebih mengidolakannya.”
Selesai. Malam sudah larut, dan penyelidikan dicukupkan sampai disana.
“aku harus merenungkan semuanya dulu. Motif, bukti, kesempatan untuk melalukan pembunuhan, semuanya harus benar – benar disusun dengan rapi sebelum menarik sebuah kesimpulan.” Stev berkata dan kami pun berpisah. Dia tidur di ruang TV lantai dua.
 Besoknya, Sabtu yang dingin. Kabar dari keluarganya bahwa almarhum Daniel sudah dikuburkan menambah suhu dingin terhadap anak – anak asrama khususnya anak - anak lorongku. Keluarga Kak Daniel mengungkapkan rasa kecewanya. Dan  hari itu semua anak – anak asrama akan melakukan perjalanan, seperti darmawisata. Berangkat pagi hari dan mingkin kembali nanti pada sore hari. Bagi para pengurus asrama ini merupakan hari libur, mereka mengahabiskan waktunya di asrama untuk beristirahat. Sehingga yang berada diasrama hari itu hanyalah para pengurus asrama atau kakak – kakak pembimbing. Stev juga mungkin kembali ke kantornya dan melaporkan semua yang dia dapat ke petugas kepolisian.
Kami sangat menikmati hari itu. Namun sore hari sepulangnya ke asrama, sebuah kabar menyedihkan sudah menunggu. Terlihat dua buah mobil polisi terparkir di lapangan basket serta sebuah mobil ambulan. Dua mayat yang sudah dibungkus di bawa keluar oleh para petugas kepolisian dari arah pintu gedung C.2.
Aku dan Rifan berlari melalui turunan disamping lapangan basket, menyeruak masuk ke gedung asrama, terlihat Stev sudah berada di dalam.
“Kak Genta dan Kak Fauzan terbunuh didalam kamarnya sendiri.” Stev berkata seakan tau apa yang akan kita tanyakan.
Kami sangat kaget mendengarnya, bercampur dengan rasa lelah karena perjalanan tadi dan rasa lelah akibat tadi berlari – lari.
“tidak ada waktu, dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat, mari kita selidiki.” 
Mulai dari kamar Fauzan. Kami bertiga sudah berada di dalam kamar korban. Walaupun rasa tidak percaya masih menyelimuti pikiran kami.
“korban meninggal dengan posisi tergeletak dari di dekat kursi ini, mungkin terjatuh. Seperti ada serangan mendadak, dan juga terdapat gelas yang pecah disini. Namun setelah di selidiki, polisi memastikan kalau penyebab kematian korban adalah karena meminum bahan kimia beracun yang telah tercampur di dalam air minumnya.”
“mungkin HCL.” Rifan menambahkan.
“mungkin.”
Mendengar kata ‘racun kimia’ kami pun langsung berpikiran sama, tertuju pada satu orang, yaitu Kak genta. Namun sayang Kak Genta juga sudah tiada.
“mungkinkah bunuh diri?” aku berpendapat.
“itu kemungkinan lain, tapi kemungkinan utama nya tidak, masalahnya korban sedang mengerjakan laporannya. Karena terlihat di meja belajarnya sebuah laporan yang masih belum selesai dengan sebuah pena di sampingnya. Kemungkinannya adalah, saat itu korban tengah mengerjakan tugasnya, lalu ia merasa haus, dan meminum minuman yang sudah dicampur racun sebelumnya, tentu saja ada orang lain yang mencampurkannya.” Jelas Rifan.
“ah.. pembunuhan.” Kejutku.
“begitulah secara gamblangnya.” Tukas Rifan cepat.
“menurut kesaksian semua para pengurus asrama, korban mengurung dirinya seharian di kamar, jadi tidak ada yang mengetahui tentang kematian korban.” Jelas Stev, yang mungkin sudah mengintrogasi para pengurus asrama. Memang benar, yang harus di curigai adalah mereka para pengurus asrama, karena merekalah yang seharian berada satu atap dengan korban.
Penyelidikan pun berlanjut ke kamar sang maniak kimia, Kak genta.
“ini yang menurutku aneh, sekilas orang akan menyangka kalau ini merupakan aksi bunuh diri.” Ungkap Stev saat kami baru tiba di kamar Kak Genta.
“tidak ada orang yang masuk ke kamar ini seharian. Dan kita tau jendela kamar ini berjeruji seperti layaknya dipenjara, jadi tidak mungkin ada orang yang mampu masuk melalui jendela. Dan juga tidak ada barang korban yang hilang satu pun.”
“tolong ceritakan bagaimana posisi korban waktu itu?.” Rifan bertanya.
“korban tergeletak di tengah ruangan ini. Sebilah pisau menancap tepat di dadanya. Dan satu lagi, kalian tau pisau itu adalah pisau milik korban sendiri, yang kita lihat waktu itu.” Jawab Stev, matanya terbelalak. Aku ingat pisau yang tergeletak di meja kamar ini waktu itu.
“sidik jari di pisau itu?”
“tentu saja sidik jari milik korban. Karena dalam posisi kematiannya, kedua tangannya mengenggam pisau yang menancap dalam dadanya. Ini semakin menambah kesan kalau ini merupakan bunuh diri.” Stev terdiam, dan mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya, “dan ini dia sobat, yang membuatku sangat terpukul akan kasus ini.”
“apa itu?” tanya Rifan.
“sebaiknya kau baca sendiri.”
Tulisan itu merupakan sebuah pesan terakhir dari Kak Genta :

untuk semuanya, maafkan aku karena telah membuat suasana dalam asrama ini menjadi sangat menyeramkan, aku lah yang sudah membunuh mereka berdua. Aku tentu sangat merahasiakan apa yang menjadi motifku melakukan semua itu. Aku tidak mungkin mampu menaggung beban ini dan menyembunyikan semuanya dari kalian. Lebih baik aku mati dari pada hidup dengan dihantui rasa bersalah.”

Disurat itu jelas ditulis rasa bersalah karena telah membunuh kedua orang sebelumnya. Stev jelas sangat terpukul, semua penyelidikannya jelas sia – sia.
“tunggu dulu, apa ini memang tulisan dari korban.” Ucap Rifan setelah membaca surat tersebut. Stev pun mengambil sehelai kertas dari atas meja belajar korban yang sudah pasti kertas dengan penuh tulisan tangan.
“SAMA!!” ucap Rifan terbelalak. Tampak raut wajah tidak percaya terhias di wajah Rifan.
“aku benar – benar tidak percaya ini.” Sekali lagi Rifan berkata. Dia menyerahkan kertas itu kembali kepada Stev. Raut wajahnya nampak sangat kesal, dia keluar kamar seraya berkata, “aku ingin mendengar sendiri keterangan dari mulut para saksi yang tadi siang berada satu atap dengan korban!!.”
Aku dan Stev tentu saja langsung mengikutinya. Seperti ruh seorang detectif  kini sedang merasuki tubuh Rifan. Dia mengintrogasi para pengurus asrama di tempat yang berbeda. Pertama adalah Kak Majid.
“kedua korban meninggal kira – kira tengah hari, dan apa yang anda lakukan waktu itu.?
“pada saat kejadian saya sedang keluar untuk membeli makanan, tempat makan di luar lingkungan asrama, sebagai bukti anda bisa menanyakannya langsung ke Pak Joko dan Pak Mahdi, mereka mengetahui saya keluar waktu itu. saya di luar sangat lama. Dan saat saya kembali ke asrama, mereka berdua sudah terbunuh.”
Rifan lalu memanggil kedua satpam itu.
“apa benar Kak Majid ini keluar lingkungan asrama pada waktu kejadian?”
“benar, saya melihatnya keluar.” Pak Mahdi menjawab. “eh tapi, bukannya anda kembali lagi?.” Pak Mahdi tiba – tiba terbelalak menatap Kak Majid.
“ya saya memang kembali lagi, dan itu hanya sebentar, hanya sekedar untuk buang air kecil di WC. Lalu setelah itu saya kembali keluar.”
“lho, tapi kenapa saya tidak melihat anda keluar lagi?”
“saya juga tidak melihat bapak di pos, mungkin sedang meninggalkan pos.”
“oh iya, waktu itu saya sedang pergi ke indomart untuk membeli rokok. Dan Pak Joko mungkin anda melihatnya?.”
Pak Joko mengiyakan.
Selesai mengintrogasi Kak Majid. Rifan langsung pergi mengintrogasi Kak Ricky.
“waktu itu saya sedang berkumpul di depan kamar Genta bersama dengan Wahid, Anan dan Andreas.”
Mendengar pernyataan itu, Rifan langsung mngumpulkan semua para pengurus itu. Akhirnya semua berkumpul di lobby. Aku, Rifan, Stev, Kak Ricky, Kak Wahid, Kak Anan dan Kak Andreas.
“silahkan lanjutkan.” Tegas Rifan.
“yah siang itu saya sedang berkumpul di teras depan kamar Genta, hanya untuk sekedar bergunjing tentang kematian yang menimpa Daniel.”
“siapa yang pertama kali mengusulkan untuk mengadakan kumpulan itu.”
“saya.”
“kenapa anda tidak mengajak Kak Fauzan?.”
“waktu itu saya sempat mengajaknya, namun dia menolak dengan alasan masih banyak tugas yang harus ia selesaikan. Sama halnya dengan Genta.”
“silahkan lanjutkan.”
“ya, kami ber-empat mengobrol di depan kamar Genta. Waktu itu Genta sempat keluar untuk menawarkan sedikit makanan ringan. Dan dia kembali masuk dan menutup pintu. Aku jelas mendengar waktu itu kalau dia mengunci pintunya. Mungkin yang lain juga mendengarkan karena bunyinya sangat jelas.”
Yang lain mengiyakan.
“saat itu, Wahid meminta ijin untuk pergi ke kamarnya sebentar dan berjanji akan kembali. Kami disana tinggal ber-tiga. Setelah itu Anan dan Andreas pun meminta ijin sama seperti Wahid.”
“jadi waktu itu anda sendiri di depan kamar korban?.”
“begitulah, tapi beberapa menit setelah itu..”
“apa anda dapat memastikan berapa menit tepatnya?.” Rifan terlihat sangat nyerocos dan ngotot dengan pertanyaanya.
“ng.. mungkin sekitar lima menit.”
“silahkan teruskan.”
“lima menit setelah itu, Wahid kembali dan kami mengobrol berdua. Disusul dengan Andreas dan Anan.”
Yang lain mengiyakan.
“tunggu Kak Andreas dan Kak Anan, pergi kemana anda waktu itu?”
“kami pergi ke kamar mandi berdua.”
“dan anda Kak Wahid.?”
“saya ke kamar..”
“silahkan teruskan..”
“yah.. saat itu Wahid merasa haus dan berniat meminta minum kepada Genta, akan tetapi beberapa kali Wahid berteriak hingga menggedor pintu kamar Genta, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Kami pun merasa aneh dan mencoba untuk mendobrak pintu kamar Genta. Alhasil, pemandangan mengerikan itulah yang terpampang.”

Lalu yang lain mengiyakan.

Wajah Rifan terlihat murung waktu itu, seperti langit yang tertutupi awan hitam. Sepertinya dia tidak mendapatkan apa – apa dari introgasinya. Tiba – tiba saja dia mengakhiri penyelidikannya tanpa permisi dan tanpa sebuah ucapan terimakasih lalu berjalan menuju kamar. Aku lihat waktu itu Stev melanjutkan pekerjaannya.

Rifan menutup pintu kamar dengan sangat keras, raut wajahnya kini berubah sangat kesal. Di dalam kamar hanya ada kami berdua, aku langsung meloncat ke atas ranjang karena merasa sudah sangat capek dengan kegiatan darmawisata tadi siang, aku pikir itu juga lah yang dirasakan Rifan waktu itu.

Aku berbaring di tempat tidur. Namun tidak sesuai dengan perkiraanku, aku pikir Rifan akan langsung tidur memejamkan matanya, tapi, waktu itu dia mengambil laptop nya dan membukanya di atas meja belajar, dia duduk dan mulai mengetik. Aku pun sangat merasa penasaran dengan apa yang dia ketik.

“ngetik apa kamu Fan?.” Tanyaku yang penasaran

Rifan sama sekali tidak menjawab. Dia lalu terdiam menghentikan tangannya yang tadi begitu lincah mengetik. Wajahnya tampak stres. Kedua alisnya menyatu, matanya menyipit memperhatikan layar komputer. Aku yang sudah terbaring hanya bisa melihatnya dari samping. Terlihat cahaya dari komputer sangat bersentuhan dengan wajah Rifan. Aku beranikan diri untuk bertanya lagi,

“Fan, apa yang kau lakukan.?”

Sekali lagi dia tidak menjawab. Sepertinya dia sudah tuli. Satu butir keringatnya meluncur dari dahi dan berhenti di pipi. Matanya terus memicing memperhatikan layar komputer, seperti dua pasang mata burung elang yang sedang memperhatikan setiap gerak dari mangsanya, sangat berkonsentrasi. Tiba – tiba kedua tangannya meremas kepalanya yang kini sudah tertunduk, sehingga membuat rambut hitam tebalnya berantakan, dan entah lari kemana butir keringat yang tadi berada di pipinya. Wajahnya benar – benar menyeramkan, aku baru pertama kali melihat ekspresi wajah Rifan seseram itu. Matanya kini melotot seakan mau meloncat keluar, dia berteriak dengan sangat stres dan sedikit tertahan – tahan yang membuatku sangat ketakutan:

“sebenarnya,.. demi tuhan,.. apa yang sebenarnya sedang terjadi di asrama ini,..??!!”


 ::Lakukan analisis kalian dan pecahkan kasus di atas::

Komentar