Pembunuhan Ruang Tertutup



Paris, France



Minggu, 21 Maret 2010



09.00

Pagi yang lumayan cerah. seperti biasa mentari bersinar dari arah timur, burung-burung bernyanyi dengan indah di atas pohon. Tenangnya suasana dengan udara segar di pagi hari, menambah lengkap di minggu pagi ini. hari minggu ini harus dimanfaatkan untuk beristirahat setelah enam hari berperang melawan pelajaran-pelajaran di sekolah.



"Hoaemm aku kira hari minggu ini akan sangat menyenangkan.. tapi kalo hanya berdiam diri dirumah saja, ternyata sangat membosankan .. Hoaemm" ucapan pertama yang keluar dari mulut Red dipagi hari ini.



di hari minggu ini, Red hanya duduk didepan layar televisi yang menyala, namun Red tidak memerhatikannya. dia terus menggerutu karena hari libur yang kurang bersahabat dengannya.



"haii.. Petrik apa kabar pagi ini?"

"hai, pagi yang indah spongebob" begitulah suara yang keluar dari televisi itu yang sama sekali tidak diperhatikannya.



Sesekali Red menatap keluar jendela rumah. yang terlihat adalah sekumpulan anak sebayanya sedang asyik bermain. rasa ingin ikut berkumpul mulai muncul dalam pikirannya, namun Red tidak bisa. dia sama sekali belum mengenal mereka. Karena ini adalah rumah barunya setelah pindah dari rumah ayahnya. Ayahnya yang bernama Reynald (45) dan ibunya Noy (39) kini sudah bercerai. Ini adalah lingkungan baru, tidak ada seorangpun yang dia kenal dan dapat diajak bicara, kecuali ibunya dan kakak laki - lakinya.



"Red, apa kau mau menemaniku ?" ucap kakaknya Ricky (21) yang mengangetkan Red.



"eh ? kemana ka ?" jawab Red yang kaget tiba-tiba mendengar suara kakaknya.



"tiga hari yang lalu ada surat undangan dari bos ku yang masuk ke box surat, katanya aku diundang ke acara makan-makan keluarganya, bagaimana apa kau mau ikut?" kembali dia bertanya sambil memilih baju di lemari kamar miliknya.



"wah kebetulan, hari ini sangat membosankan buatku, tentu saja aku mau!!" jawab Red dengan penuh semangat dan mata yang terlihat cerah dari sebelumnya.



"kalau begitu, cepatlah mandi dan pakailah baju terbaikmu. Karena rumah bos ku dari sini lumayan cukup jauh." suruh Ricky yang kelihatnya sudah menemukan baju yang cocok yang harus dia kenakan.



"siap bos!!!" kembali Red menjawab.



Red pun langsung meloncat dari tempat duduk nya dan berlari ke arah kamar mandi dengan handuk yang tertanggal di bahunya. Akhirnya hari libur yang tadinya membosankan, mungkin kini akan berubah jadi kesenangan.



10.00

Semua sudah siap. dengan jas hitam kecil pemberian ibunya serta celana hitam yang kini membungkus pergelangan kaki kecilnya, dan tidak lupa jam tangan kesayangannya. seorang anak yang masih duduk di bangku SMP ini terlihat sangat ganteng waktu itu xD.

Mereka pun berangkat dengan menggunakan kendaraan roda empat milik Rocky, lebih mirip mobil sedan.

Red duduk di sebelah kanan depan.



"oh ya, bagaimana pemilihan ketua OSIS di sekolahmu, Red? tanya Ricky memulai pembicaraan.



"haha ... lumayan lancar ka.." jawab Red dengan sedikit senyuman.



"ohh ya..dimana diadakan acara makan-makannya ka?" tanya Red mengangkatkan kepalanya kearah kakaknya.



"dirumah bos ku, sepertinya hanya aku saja yang diundang ke acara itu" jawab Ricky yang sedang menyetir mobilnya.



"eh? dari mana kakak tau kalo hanya kakak yang undang?" kembali Red bertanya, kelihatannya dia penasaran.



"ya, selain dalam undangan tersebut tertulis hanya namaku, juga isi undangan itu ditulis dengan tulisan tangan pada sehelai kertas" jawab kakaknya menjelaskan.



"begitu ya...Hm aneh" jawab Red singkat, sembari menundukan kepalanya.





"aneh? aneh kenapa Red ?" kini giliran Ricky yang bertanya.



"ah, tidak... memangnya apa yang dikatakan surat itu ?" lanjut Red bertanya, yang tidak menjawab dengan jelas pertanyaan dari Ricky.



"ng... Di surat itu ditulis , karena anda sudah bekerja dengan baik dan juga telah menjadi karyawan terbaik diperusahanku, saya mengundang anda untuk datang ke acara makan-makan dirumahku,' yah, kira-kira seperti itu" jalas kakanya panjang lebar.



"ckckck... Karyawan terbaik? memangnya kapan kakak mendapat penghargaan seperti itu... ckck kakak kan suka malas kalau bekerja, malahan jarang masuk kerja... ckck" ucap Red mengejek kakaknya yang sedang menyetir.



seketika Ricky pun tertawa mendengar ucapan Red tadi.



"hahahahahaha... dasar kau, tau saja kalau aku malas kerja." jawab Ricky diiringi suara tawa yang keras, tanpa mengurangi konsentrasinya dalam menyetir.



"apa kau masih menyimpan surat undangan itu ?" pinta Red dengan wajah yang penasaran.



"ya,.. aku masih menyimpannya, dan masih ku bawa, memangnya kenapa Red?" jawab Ricky.



"oh ya.. apa aku boleh melihatnya !!" pinta Red.



"nih.." RRicky menyerahkan sehelai kertas yang baru dia kel;uarkan dari dalam saku celananya dengan sebelah tangan.



"hmmm..."Red pun bergumam seraya memperhatikan kertas undangan tersebut.



*berikut adalah isi surat undangan yang dimaksud*



-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

untuk Ricky, karyawan ku.

karena anda telah bekerja dengan sangat baik diperusahaanku, dan sudah menjadi karyawan terbaik

maka dari itu aku mengundang anda ke acara makan-makan keluarga yang diadakan di rumah saya pada hari minggu.

aku sangat mengharaokan kedatangan anda.







Eguene Schueller

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suasan dalam mobil pun menjadi berubah, kini dipenuhi canda dan suara tawa dari kedua adik kakak bersaudara ini. Perjalanan jauh pun terasa sangat singkat dan menyenangkan. Hingga akhirnya mereka pun tiba ditempat yang mereka tuju, yaitu kediaman bos nya Ricky.



12.00



"huahh akhirnya kita sampai juga, itu rumah bos ku." ucap Ricky sembari menunjuk rumah besar dan mewah, yang berada di sisi kirinya.



"ooh. . wah, besar sekali rumahnya" Red terkagum melihat bangunan besar di depan wajahnya.



"ya sudah, cepat keluar, mungkin kita sudah telat." suruh Ricky.



"ya baiklah..."



Red dan Ricky pun keluar dari mobil. mereka berjalan ke arah pagar tinggi yang menutup rumah tersebut. tidak ada seorang satpam pun, walaupun bangunan kecil tempat satpam itu berdiri dihalaman dekat pagar tersebut.



"ukhhh.... bau sekali.!!! banyak sekali sampah nya" sambil menutup hidung Red menunjuk tong sampah yang penuh dengan sampah.



"haha... mungkin mobil sampah belum mengambilnya, ayo cepat!!!" ajak Ricky.



Lalu, Ricky berteriak,



"PERMISII..."



dengan satu kali teriakan keras dari Ricky, seorang gadis berparas cantik pun berlari dari dalam rumah menuju kearah kami. Dia lalu membuka pagar tinggi itu. Ricky pun mulai bertingkah aneh, dan dia pun bertanya..



"hehe... anda siapa ya?" tanya ricky sambil memperhatikan gadis cantik itu.



"he he he dasar " *gumam Red dlam hati.



"maaf, anda siapa ya?" tanya gadis itu kebingungan.



"hoo...Kenalin, aku Ricky, karyawan di perusahaan pak Eugene Schueller, dan ini Red, adikku, kita kesini untuk memenuhi undangan makan-makan. oh ini undangannya." ricky memperlihatkan kertas undangan yang diterimanya tiga hari lalu.

" apakah anda pembantu dirumah ini ?" lanjut Ricky.



"salam kenal" jwab Red.



"hahaha... salam kenal adik kecil yang manis. ooh jadi begitu ya. Bukan bukan, saya anak bungsu dari Eugene Schueller. nama saya Liliane.. Liliane Bettencourt Schueller (F,28)." jawab gadis cantik itu dengan sedikit tersenyum.



Ricky pun tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Rick yang menganggap gadis itu seorang pembantu, tapi ternyata dia adalah anak dari bos nya, langsung meminta maaf.



"ooh... maaf maaf, aku kira anda pembantu disini, habis pakaian yang anda kenakan lebih cocok buat pembantu hehe. dan lagi kenapa anda yang membuka pintu gerbang ini, kenapa tidak satpam atau pembantu disini ?" Ricky kelihatan sangat malu.



"he he he " tawa kecil Red dalam hati.



"ooh... Sudah tidak apa-apa.. oh ini, aku memang suka memakai pakaian seperti ini kalo sedang didalam rumah. kebetulan semua pembantu termasuk satpam sedang pulang kampung semua... jadi aku yang bukain pintu. ya sudah ayo cepet masuk, kakak-kakak ku sudah menunggu didalam.." ajak seorang gadis yang bernama Lilian dengan sangat ramah.



"haha terimakasih" jawab kakakku sembari berjalan mengikuti Lilian, menuju ke dalam rumah.





Terlihat lebih indah rumah besar berlantai dua ini bila sudah memasukinya. Guci-guci antik dan Lukisan karya jakson pollok seakan menyambut kami diruang tengah. sekilas hanya terlihat seperti contreng-contreng, dan simbah-simbah cat saja, namun nilai seni yang sangat amat tinggi, dan harga lukisan ini adalah US$ 140 Million.



"kita langsung ke ruang makan saja ya, karena semua sudah menunggu disana" ucap Lilian sambil menunjukan arah ke ruang makan.



"ya... ya baiklah" ucap Ricky yang dari tadi terkagum dengan keindahan rumah bos nya itu.



Kami pun langsung berpindah ruangan, yaitu ke ruang makan. Terlihat disana sudah ada dua orang laki-laki yang sedang duduk.



"silahkan duduk" kata seorang laki-laki dengan sangat ramah.



"oh, ya terimakasih" balas Ricky.



setelah beberapa menit mereka mengobrol dan saling memperkenalkan diri. Mereka adalah,



Bernard Arnault Schueller (M, 34), anak pertama dari pasangan Eugene Schueller dan jennifer coon. Dia seorang pengusaha yang cukup kaya, sangat hobi main golf, sama seperti ayahnya, dan juga mendengarkan musik. Bernard sudah menikah dan sudah tinggal satu rumah bersama istrinya.



Gustave Schueller (M, 33), putra kedua, sama seperti Bernard, dia juga seorang pengusaha berhasil, namun tidak seberhasil Bernard. Gustave mempunyai hobi yang berda dengan Bernard. Gustave justru sangat membenci golf. Dia lebih suka memainkan piano, bahkan sebelumnya dia ingin menjadi seorang pianis terkenal. karena hobi nya itu dia suka lupa waktu. Namun ayahnya melarangnya, karena ayahnya selalu mendidik semua anaknya agar tumbuh menjadi seorang pengusaha besar seperti dirinya. Gustave sudah menikah, dan sama seperti Bernard, Gustave juga sudah tinggal satu rumah dengan istrinya.



Artinya mereka berdua sudah pisah rumah dengan ayahnya. Mereka memang seperti anak kembar.



Dan berikutnya, Liliane Bettencourt Schueller (F, 28), anak ke tiga. Dia adalah satu-satunya anak perempuan yang ada dalam keluarga ini. Dia belum menikah, ya masih sekolah. Dia yang selalu merawat ayah nya, yang sering sakit-sakitan. Dia tinggal berdua dengan ayahnya dirumah besar ini, kalo memang beberapa pembantunya sedang pulang kampung.



Semua sudah duduk dimeja makan, setelah Ricky memperkenalkan diri. Akhirnya mereka bersiap untuk menyantap makanan yang sangat menggoda dia atas meja.



"tunggu dulu" tiba-tiba Ricky berkata

"kemana bos ?" lanjutnya



"oh.. Ayah.. Kemarin sore sepulang dari lapangan golf, ayah mengalami kecelakaan, motor yang ayah kendarai menabrak sebuah truk, hingga kaki dan tangan kanan ayah patah, Sekarang beliau sedang tidur dikamar." jelas Bernard menerangkan.



"oh, kukira dia sedang sakit, soalnya kulihat dikantor, keadaan bos sangat tidak baik"

jawab Ricky.



"iya, memang. Ayah sudah lama sakit-sakitan, aku sudah melarangnya agar tidak pergi main golf sore itu, tapi ayah tetap memaksa. dan kalo sakit begini aku yang mengurusnya." tiba-tiba Liliane berkata.



"oh, jadi begitu ya" jawab Ricky.



"iya.. Lebih baik aku panggil saja ayah kesini, untuk sekedar berkumpul, lagian yang membuat acara kan beliau" ucap Liliane.



Liliane pun beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan ke lantai dua, tempat dimana kamar ayah berada.



Semua telah siap menyantap hidangan yang ada dimeja makan.



"wah, makanan-makanan ini kelihatannya enak-enak" kata Red yang sudah tidak sabar.



"iya, ini semua adalah sayur-sayuran yang baru dipetik dari kebun belakang rumah, sudah pasti masih segar-segar" ucap Gustave yang dari tadi memegang sendok dengan tangan kanannya.



"oooh..." jawab Red, melihat semua makanan yang ada di atas meja.



"hmm.. Liliana lama sekali ya" gumam Ricky, sedikit cemas.



Tiba-tiba...

"aaaAAAAAyyyaaahhH"



terdengar keras sekali, teriakan dari seorang gadis dilantai dua. Suara tangis pun tak terhindari.

Bernard pun beranjak dari kursi yang didudukinya seraya berkata "LILIANE"..



Gustave yang masih duduk disamping Bernard pun berkata..

"ada apa dengan dia ?"



Sementara Red yang mendengar teriakan keras Liliane, langsung berlari menaiki anak tangga demi anak tangga, menuju lantai dua tempat dimana teriakan itu berasal. Diikuti oleh oleh Ricky, Bernard, dan Gustave.



Red terhenti saat melihat Liliane yang sedang menangis terduduk di lantai depan pintu kamar Eugene Schueller sambil menggemgam secarik kertas ditangan kirinya. air mata Liliane pun tak dapat dibendung, dia menangis terduduk dengan bertumpu pada dua lututnya didepan pintu kamar yang masih tertutup.



"ada apa Liliane ?" tanya Bernard dengan wajah yang sangat cemas, melihat adikn perempuannya sedang menagis.



"Ayah kak... hiks hiks" ucap Liliane dengan nada yang sangat berat



"iya, ada apa dengan ayah ?" ucap Gustave, sambil berjalan mendekati Liliane, berusaha menenangkan.



"coba baca ini kak. . .hiks hiks" Liliane pun memperlihatkan kertas yang dari tadi dia genggam kepada Gustave.



"A..APA ?" Gustave pun terlihat sangat kaget setelah melihat dan membaca isi kertas itu.



Gustave tiba-tiba langsung membuka pintu kamar ayahnya, namun sayang, pintu itu terkunci. Tanpa berfikir lagi Gustave mencoba mendobrak pintu itu. Ricky dan Bernard pun langsung membantu Gustave setelah membaca isi kertas itu. Sementara Red hanya berdiri memperhatikan kertas yang berada di genggaman Liliana, terlihat kertas itu seperti sudah di remes-remes.



Begini isi kertas itu :

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wahai anak-anakku!!

mungkin setelah kalian membaca isi kertas ini, ayah sudah bersama ibu di alam sana.

Pesan terakhir dari ayah, tolong manfaatkanlah apa yang ayah tinggalkan.





Eguene Schueler

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



"hiks hiks hiks" tangisan liliana pun seakan tak bisa dihentikan.



"hhmm" gumamku dalam hati



tiba-tiba...



BRUUuakK !! "pintu kamar Eguene pun berhasil didobrak.

Dan benar saja, sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan dimata ketiga bersaudara ini terpampang jelas dihadapan mereka.

Ditengah kamar itu tergeletak seorang mayat dengan luka tusukan benda tajam dibagian perut sebelah kiri.

Red bersama yang lainnya pun langsung menyeruak masuk kedalam kamar seluas 10x15 meter itu. Ricky memeriksa leher bos nya itu, dan ternyata memang sudah meninggal.



"CEPATT PANGGIL POLISII ...!!!" teriak Ricky seketika.



"iya. . . Baik baik" jawab Liliane, dan langsung berlari ke bawah.



Red pun langsung memeriksa mayat korban. Korban terbaring di tengah ruangan masih mengenakan baju tidur dengan Luka tusuk benda tajam pada bagian perut sebelah kiri, yang menyebabkan korban kehilangan banyak darah, lalu mati. Tidak ada luka memar atau kekerasan pada tubuh korban. Korban masih mengenakan sandal jepit, didekat korban tergeletak terdapat sebuah guci besar yang terpecah.



"hhmm" kembali Red bergumam.



Setelah puas memeriksa keadaan mayat korban. Red pun langsung memeriksa kamar korban. Lampu kamar yang masih menyala. Sebuah lemari hitam kosong yang tingginya kira-kira 2 meter lebih, terbuka. Jendela kamar yang terkunci. Di atas meja dekat ranjang, terdapat buku yang terbuka beserta pulpen disebelahnya, dan pada bagian tengah buku itu seperti sudah tersobek, sebuah kaca mata, serta banyak buku-buku yang menumpuk dan juga ada sekeranjang apel lengkap dengan pisau untuk mengupasnya, tapi sepertinya bukan pisau ini yang digunakan sebagai alat pembunuhan, karena keadaan pisau yang masih bersih tanpa noda darah.





"eh apa ini ?" tiba-tiba Red menginjak sebuah kunci ramping dan tipis tergeletak dilantai dekat tubuh korban.



"itu kunci kamar ini" jawab Gustave.



"ooh... Iya iya.." Red pun memperhatikan kunci tersebut.



"tapi kenapa ada disini ?" tanyanya dalam hati.



"oh.. ya, apakah ada kunci cadangan selain ini.?" lanjut Red bertanya.



"eu tidak, tidak ada" lagi Gustave menjawab yang dari tadi berdiri disebelah Bernard. Sementara Ricky yang masih jongkok memerhatikan mayat bos nya yang tergeletak tanpa nyawa dihadapannya. Terlihat kesedihan diwajah ketiga laki-laki itu.



02.25 pm





Akhirnya pihak kepolisan sudah tiba dan langsung memeriksa semuanya, terlihat kesibukan dari tim penyidik. Liliane kembali bergabung ke tempat Red dan yang lainnya berkumpul.



"hmmm... Berdasarkan kertas yang ditemukan Liliane, yang berisi pesan terakhir korban kepada ketiga anaknya, ruangan yang tertutup, dan kunci kamar ini yang terdapat didalam ruangan. dapat aku tarik kesimpulan bahwa ini adalah kasus bunuh diri" teriak inspektur Daniel Nevil dengan penuh percaya diri yang dari tadi jongkok memperhatikan mayat korban.



"tunggu... tunggu dulu... kalau memang ini kasus bunuh diri, alat apa yang korban gunakan ?" ucap Red yang tiba-tiba berada jongkok di samping



"tentu saja dengan pecahan guci ini, soalnya ada satu pecahan guci yang berlumuran darah" jawab infekstur itu.



"mungkin saja ayah bunuh diri... akhir - akhir ini ayah punya hutang pada teman usahanya, jadi mungkin ayah setress memikirkannya " ucap Gustave tiba - tiba.



"hhmm...."





"tidak mungkin, luka pada korban tidak mungkin karena pecahan guci ini, terlalu banyak darah yang keluar, dan kalaupun disusun kembali, tidak ada pecahan yang hilang" jelas Red, menjawab infekstur Daniel.



"hmm... benar juga." gumam infekstur Daniel.



"kalau begitu, ini adalah kasus pembunuhan, karena hilangnya alat pembunuhan, kemungkinan pelaku sudah membuang benda tersebut, ya tidak salah lagi ini kasus pembunuhan" teriak infekstur daniel lagi.



"he he he dasar infekstur aneh" tawaku dalam hati, gustave, bernard, dan Rocky pun sedikit tersenyum mendengar infekstur plin plan itu.



"kemungkinan, guci ini jatuh saat korban membela diri dari tikaman pelaku dan tidak sengaja menyenggol guci ini, sehingga jatuh dari meja ini" lanjut infekstur daniel.



"tunggu ... tunggu dulu infekstur..., kalau memang guci ini terjatuh, kenapa pecahannya tidak bersekarakan kemana-mana, tapi pecahan ini malah menggunduk disini saja, hanya satu yang berada dekat korban yang berlumuran darah dan lagi pecahan ini terlalu besar - besar"



dan "BRUuaAaakKK" seketika insfektur itu menendang Red keluar kamar seraya berteriak.



"DASAR BOCAH BODOH, BELAGAK JADI DETECTIVE YA" teriak infekstur Daniel sambil menendang Red keluar kamar dengan sangat marah.



"he he he.. Bukanya kau yang bodoh, bukannya semua yang kukatakan tadi itu benar ?" gumam Red dalam hati yang tubuhnya tertidur telungkup diluar depan pintu kamar, karena tendangan telak dari infekstur daniel dibokongnya... namun saat Red menolehkan kepalanya ke dalam kamar dengan tubuh yang masih telungkup, entah apa yang melintas di pikirannya, sehingga dia berkata..



"ah. . . mungkinkah..."



"eu... Baiklah saya akan mengintrogasi semua orang yang ada di dalam rumah ini, karena dugaan sementara ini adalah kasus pembunuhan, jadi kemungkinan pelakunya berada diantara kalian." ucap infekstur daniel sambil mengangkat tubuh gendutnya.



"apa katamu ?? Pelakunya ada diantara kita" ucap Bernard terkaget mendengar ucapan infekstur itu.



"memangnya kenapa? Ada yang salah ? " infekstur daniel memasang wajah garang kepada Bernard



"ah, tidak... tidak..."



"lapor pak !! Hasil penyidikan, korban bernama Eguene Schueller (M, 69), beliau pemilik perusahaan bernama "L'Oréal", istri korban sudah meninngal kira - kira 2 tahun yang lalu dan beliau mempunyai 3 orang anak. kematian korban diperkirakan pukul 11.00 - 12.00 am" tiba-tiba anak buah infekstur daniel melapor.



"oh, ya terimakasih" jawab infekstur daniel singkat.





02.35

==============Introgasi Tersangka==============



"Mulai dari anda, siapa nama anda ? apa hubungan anda dengan korban ? Dan apa yang anda lakukan pada jam 11.00 p.m - 12.00 p.m ?." tanya infekstur daniel memulai introgasinya, sambil menulis disebuah buku catatan kecil.





"nama saya Bernard, Bernard Bernoult Shcueller, anak pertama dari korban. saya seorang pengusaha. Saya sudah punya istri, dan sudah satu rumah dengannya. Saya berada di sini, karena memenuhi undangan dari ayah saya. Kemarin sore saya tiba disini bersama Gustave, karena sebelumnya kita sudah janjian untuk pergi bersama.Saya tiba disini kira - kira jam 06.00 p.m. Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, aku merasa capek dan lelah.Jadi aku putuskan untuk langsung tidur.Dan pagi nya, kira - kira jam 08.00 a.m saya sempat pergi ke kamar ayah, ya.. Hanya sekedar menanyakan bagaimana keadaanya.. hmm dan aku lihat keadaanya cukup baik. Cukup lama juga kita mengobrol, hingga jam 09.00 a.m saya turun ke bawah untuk menonton TV. Entah kenapa sepanjang aku menonton TV, yang aku rasakan hanyalah mengantuk, mungkin karena semalam tidur ku kurang lelap. Jadi jam 10.00 a.m aku masuk kamar,.. oh ya, aku ingat sebelum masuk kamar, aku sempat melihat ayah yang dituntun Gustave menuruni tangga. dan saat ku tanya mereka mau kemana, Gustave menjawab mau ke kamar kecil. Aku tidak bisa menahan rasa kantuk ini, aku pun langsung tidur, hingga, akhirnya Liliane membangunkanku untuk bersiap - siap karena acara makan - makan akan segera dimulai." jelas Bernard panjang lebar.

"hmm.." selanjutnya..





"nama saya Liliane, Liliane Bettencourt Schueller, saya anak ketiga dari korban. dan saya seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kota ini. Saya yang mengurus ayah selama ini, karena akhir - akhir ini ayah sering sakit - sakitan, dan juga saya anak perempuan satu - satunya yang masih serumah dengan ayah. Setelah diberitahu oleh ayah bahwa akan diadakan acara makan - makan, kebetulan saya paling jago memasak disini, jadi ayah meminta saya yang membuat makanannya.Tadi, pagi - pagi sekali aku pergi ke kamar ayah untuk memberikan sarapan pagi, karena kondisi ayah yang seperti ini, jadi saya yang menyuapinya. Kira - kira jam 10.30 saya berniat pergi ke toko membeli bahan - bahan untuk masakan, sebelum pergi, terlebih dahulu saya menelepon mobil sampah, untuk mengambil sampah yang kurasa sudah bertumpuk ditong sampah depan rumah, dan katanya jam 03.00 p.m mereka akan datang mengambilnya, oh ya... sehabis menelpon saya melihat Gustave menuntun ayah menuju ke kamar mandi, setelah itu kira - kira jam 11.00 a.m saya berangkat pergi ke toko." jelas Liliane dengan sangat yakin.

"hm apa kau juga melihat Bernard masuk ke kamarnya ?" tiba - tiba Ricky bertanya.

"ah, iya.. Saya sempat melihat dia menutup pintu kamarnya" jawab liliane.

"hey.. Biarkan hanya aku yang bertanya.." bentak infekstur daniel kepada Ricky yang bertanya tiba - tiba.

"maaf ... maaf pak" Ricky pun meminta maaf, dan langsung terdiam.

"ok! Selanjutnya anda.." suruh infekstur pada Gustave.





Nama sayaGustave, Gustave Schueller, anak kedua korban. seperti yang diucapkan Bernard, saya datang kesini bersama dia karena menerima undangan dari ayah.Pagi menjelang siang, kira - kira jam 09.30 a.m, saya pergi ke kamar ayah dengan membawa apel ini. sempat saya menyuapinya, setelah beberapa lama, ternyata dia ingin pergi ke kamar kecil, dan meminta saya untuk menuntunya. memang benar saya bertemu Bernard saat menuruni tangga, sempat sebelum masuk kamar ,dia bertanya padaku ,mau kemana, dan akt pun menjawab mau ke kamar kecil. Setelah beberapa langkah dari tangga, saya melihat Liliane sedang menelpon dengan sebuah kantong kain kosong yang lumayan besar tertanggal di pundaknya. saya melihat dia melangkah menuju pintu depan, saat aku tanya dia mau kemana, dia menjawab, mau ke toko dekat rumah. aku pun langsung melanjutkan menuntun ayah menuju kamar kecil, dan mengantarkannya kembali ke kamar tidur. Lalu saya kembali ke kamar saya untuk memainkan piano yang ada dikamar, hanya sekedar untuk menunggu acara makan - makan tiba.Oh, yaa... sempat jam 11.30 saya kembali ke kamar ayah untuk mengambil jam tangan yang tertinggal, namunsaat aku akan mengetuk pintu, saya takut mengganggu ayah yang mungkin sedang beristirahat waktu itu, jadi aku kembali ke kamar saya." jelas Gustave.



"benar!! saya sempat terbangun mendengar suara piano dari kamar Gustave, karena kebetulan kamarku dan Gustave bersebelahan, dan tak lama saya langsung tidur lagi." ucap Bernard menambahkan.



"hhmm... Begitu ya" gumam infekstur daniel,"lalu kau ?" lanjutnya.



"ah saya hanya karyawan tempat diperusahaan korban. saya tidak tahu, karena saya juga menerima undangan dari korban. Lalu saya berangkat dari rumah bersama adik saya itu, Red. Lagian saya sampai disini jam 12.00 p.m, jadi tidak mungkin kalo aku yang membunuhnya" jelas Ricky.



kebingungan mulai menyelimuti kepala infekstur daniel. Kerutan diantara halis mata daniel mulai terlìihat. Dia sangat berpikir keras.

"hmm jadi saat kejadian tidak ada seorang pun yang masuk ke kamar korban ya" gumamnya sesekali.



"hmm... Jadi begitu yaa.."gumam Red dalam hati sambil mengangkat tubunya berdiri."kalau memang perkiraanku ini benar... ah..."



tiba - tiba Red langsung berlari ke lantai I menuruni tangga. Terlihat disana terdapat beberapa penyidik yang sedang melakukan tugasnya. Red pun mendekati seorang penyidik dan langsung berbisik pada nya.."kata infekstur Daniel, tolong periksa tempat itu, kalo ada benda yang mencurigakan, cepat beritahu dia." ucap Red berbisik ke telinga seorang penyidik tersebut.



"ah, iya. .iya baiklah... terimakasih dek" jawab penyidik tersebut.



Red pun kembali berlari menuju lantai II, kamar tempat dimana korban terbunuh.

Disana terlihat infekstur daniel masih mengintrogasi mereka.



"hmm jadi siapa yang pertama kali menemukan korban?" tanya infekstur Daniel.



"kami semua, yang mendapati ayah sudah tewas terbunuh, namun sebelumnya saya menemukan kertas itu, terselip dibawah kolong pintu yang lumayan besar. Dan Gustave langsung mendobrak pintu ini, oleh karena itu pintu ini rusak." jawab Liliane dengan wajah yang terlihat sedih.



"emm apa diantara kalian ada yang sempat punya masalah dengan korban?" lanjut infekstur yang semakin kebingungan.



"tidak, tidak pernah... "jawab mereka.



Tiba - tiba..."hey infekstur !!!" panggil Red kepada infekstur Daniel dengan nada tinggi,



"eh? Iya ada apa bocah ?" jawab infekstur, sambil menolehkan kepalanya kepada Red.



"apa kau tau ini apa?" ucap Red seraya memperlihatkan sebuah kartu kepada infekstur daniel.



"i.... itu ... itu kan kartu pelajar, ah ... tanda pengenal di sebuah sekolah detective terkenal, ya H.S.D, aku ingat." jawab infekstur yang terlihat sangat terkejut melihat sebuah kartu berukuran 10 x 6 cm.



"ah... baguslah kalau memang kau tahu." ucap Red dengan mata terpejam, dan sedikit senyuman terlihat dari bibirnya sambil memasukan kembali kartu itu ke dalam saku celana panjangnya.



"ja.... jadi, kau murid disana?" tanya infekstur masih tidak percaya.



"ya benar... saya masih belajar disana.. oh ya, apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" jawab Red yang dari tadi menyandarkan tubuhnya pada pintu yang rusak itu.



"apa itu ?"



"aku sudah tau pelakunya.."



"apa kalau bilang..? Kau sudah tau"



"yaa, kalau analisisku ini benar... jadi biarkan aku beranalisis sebentar"





To be countinued...

Komentar