Lelaki Misterius didepan Toko Walker
Kampus H.S.D, 20 Maret 2019
Jam 8 pagi
pagi yang dingin dipertengahan akhir
Maret. namun itu sama sekali tidak berpengaruh atau menyurutkan suasana sibuk
dari para murid atau para detective H.S.D, tentunya dalam menjalankan segala
aktivitas atau lebih tepatnya menjalani pembelajaran dalam bidang perdetectivan
dan tentu saja berhubungan erat dengan dunia kriminal yang keras di luar sana.
suara langkah kaki sangat ramai terdengar, aura para detective - detective muda
sangat jelas terasa seperti suhu dingin yang saat ini menyapa tubuhku yang
terbalut oleh selimut tebal, di balik semua itu tersimpan harapan yang sangat
besar, yaitu mimpi menjadi seorang detective hebat suatu saat nanti.
sial sekali aku pagi ini, sebuah sms mengganggu tidurku. dengan sangat terpaksa aku menjangkau handphoneku yang berada di meja kecil didekat ranjang tidurku. setelah membaca sampai akhir, aku sedikit mengerutkan keningku, terkejut sekaligus malas. tak kupikirkan lagi rasa kantuk dan dingin yang dari tadi menggugatku, kini ku bersiap - siap untuk menemui pak kepala sekolah H.S.D.
Kubuka pintu asramaku, kukunyah permen karet kesukaanku dan tak lupa headset terpasang ditelingaku fufufu.
***
Sembari bersiul - siul karena irama lagu yang terdengar dari headset (seven years - saosin), aku mengetuk pintu ruangan kepsek Ryuzaki Cuil.
"Tok tok tok"
"silahkan masuk Red." ucapnya dari dalam.
Biasanya kalau aku dipanggil keruang kepsek pasti ada rapat, dan dari jawabannya dapat aku tebak kalau aku yang terakhir datang. Aku pun memasuki ruangan kepsek yang sangat rapi dengan cat tembok berwarna putih, dimejanya banyak sekali kertas - kertas bertumpuk juga potongan koran - koran yang bila orang melihatnya sungguh tidak berguna. Ku lihat disana ada Coil, dandanannya tidak sama sekali mirip kepala sekolah, disampingnya ada Aldi Rinaldi, kulihat ditangan kirinya memegang rokok yang sesekali dikepulkepulkannya, tubuhnya tersender dikursi dengan gaya rambut yang acak - acakan, wajah narsis sangat jelas terlihat.tidak seperti Coil yang terduduk tegak terlihat sangat serius, kedua tangannya mengepal menopang dagunya, dan dengan begitu jam tangan hitam serta gelang berwarna merah jelas terlihat melingkar dipergelangan tangannya. Lalu dikursi yang berbeda,
terlihat seseorang berkulit putih berjaket warna coklat dan berwajah sinis dengan dihiasi kacamata yang menambah kesan penuh dengan ilmu pengetahuan yang luas, dia adalah Lonn.Disampingnya seorang anak muda yang memakai sweter bertuliskan H.S.D dibelakannya, dia adalah Azhar yang sering membuat kita tercengang dengan gayanya dalam menarik sebuah kesimpulan.
Pyuh, orang - orang aneh namun menyenangkan menurutku.
"wajah - wajah membosankan." ucapku dalam hati sembari melangkah dan duduk dikursi dekat Azhar. Didepanku terduduk seorang lelaki yang cukup tua yang tidak aku kenal, dari dandanannya seperti seorang penjaga toko disamping jalan.
"kau baru bangun Red?" tanya Azhar dengan nada mengejek. "kau tidak masuk kelas ya?"
"hari ini adalah pelajaran dari pak Ayrus, dan yang aku tau, pak Ayrus dan pak Indra sedang mengadakan perjalanan ke London karena kepentingan yang sangat rahasia. Jadi yaa bangun siang ini sudah aku rencanakan fufufu" jawabku dengan senyum diakhir kalimat.
Azhar pun tersenyum kecil dan kembali menolehkan pandangan kepada Coil.
"oke!" ucap Coil memulai." perkenalkan ini adalah pak Walker seorang pemilik toko guci di santa street. Pak walker memiliki masalah yang menurutnya membutuhkan bantuan kita." tatapan Coil beralih ke arah pak Walker dan berkata. "silahkan paparkan masalah anda dengan rinci, dengan senang hati kami akan mendengarkan. Dan mohon diakhir anda bersedia menjawab pertanyaan - pertanyaan dari kami dengan jelas."
ucap Cuil dan langsung kukalungkan headsetku dileher.
"baiklah" ucap pak Walker."berawal dari pagi hari tanggal 10 Maret, kudapati pintu tokoku sudah terbuka, padahal kunci pintu itu hanya ada satu dan itu ada padaku, aku lihat ada bekas rusak dan sudah pasti sudah didobrak malam harinya oleh seseorang yang mungkin berniat jahat padaku. Namun setelah aku masuk dan aku periksa kedalam toko, aku terheran karena sama sekali tidak ada guci yang tergeser seditpun ataupun hilang, tidak.. tidak sama sekali, keadaan toko selayaknya seperti biasa. Namun sehari setelah itu ada seorang anak muda yang selalu berada didepan dan memperhatikan tokoku. Sehari setelahnya lagi, tokoku kembali didobrak dan lagi - lagi tidak ada satu barangpun yang hilang, namun hanya ada satu guci saja yang pecah. Otomatis aku langsung curiga pada anak muda yang selalu memperhatikan tokoku itu."
"hhm.. tunggu dulu." ucap Aldi yang mengangkat
tubuh dari sandarannya sembari mematikan rokok pada asbak diatas meja. "apa anda dapat melihat bagaimana wajah dari anak muda yang anda maksud?."
"tidak, dia mengenakan tudung dari jaketnya, sehingga wajahnya tidak terlihat."
"hhmm lalu dari mana anda mengetahui kalau orang itu adalah anak muda?."
"oh iya, pernah saya mengejar anak muda itu karena saya sangat penasaran dan ingin menangkap untuk menanyainya, dia berlari ke arah gang samping toko, dari cara larinya yang cepat dan gerakannya, aku tahu kalau dia masih muda."
"apa anda berhasil menangkapnya?" potong Lonn.
"tidak, aku juga kurang mengerti, kemana dia pergi, mungkinkah dia punya kekuatan untuk menghilang."
"hmm.." gumam Lonn yang kurang suka dengan kalimat terakhir dari Walker. "digang itu ada apa saja?" sambung kepsek.
sial sekali aku pagi ini, sebuah sms mengganggu tidurku. dengan sangat terpaksa aku menjangkau handphoneku yang berada di meja kecil didekat ranjang tidurku. setelah membaca sampai akhir, aku sedikit mengerutkan keningku, terkejut sekaligus malas. tak kupikirkan lagi rasa kantuk dan dingin yang dari tadi menggugatku, kini ku bersiap - siap untuk menemui pak kepala sekolah H.S.D.
Kubuka pintu asramaku, kukunyah permen karet kesukaanku dan tak lupa headset terpasang ditelingaku fufufu.
***
Sembari bersiul - siul karena irama lagu yang terdengar dari headset (seven years - saosin), aku mengetuk pintu ruangan kepsek Ryuzaki Cuil.
"Tok tok tok"
"silahkan masuk Red." ucapnya dari dalam.
Biasanya kalau aku dipanggil keruang kepsek pasti ada rapat, dan dari jawabannya dapat aku tebak kalau aku yang terakhir datang. Aku pun memasuki ruangan kepsek yang sangat rapi dengan cat tembok berwarna putih, dimejanya banyak sekali kertas - kertas bertumpuk juga potongan koran - koran yang bila orang melihatnya sungguh tidak berguna. Ku lihat disana ada Coil, dandanannya tidak sama sekali mirip kepala sekolah, disampingnya ada Aldi Rinaldi, kulihat ditangan kirinya memegang rokok yang sesekali dikepulkepulkannya, tubuhnya tersender dikursi dengan gaya rambut yang acak - acakan, wajah narsis sangat jelas terlihat.tidak seperti Coil yang terduduk tegak terlihat sangat serius, kedua tangannya mengepal menopang dagunya, dan dengan begitu jam tangan hitam serta gelang berwarna merah jelas terlihat melingkar dipergelangan tangannya. Lalu dikursi yang berbeda,
terlihat seseorang berkulit putih berjaket warna coklat dan berwajah sinis dengan dihiasi kacamata yang menambah kesan penuh dengan ilmu pengetahuan yang luas, dia adalah Lonn.Disampingnya seorang anak muda yang memakai sweter bertuliskan H.S.D dibelakannya, dia adalah Azhar yang sering membuat kita tercengang dengan gayanya dalam menarik sebuah kesimpulan.
Pyuh, orang - orang aneh namun menyenangkan menurutku.
"wajah - wajah membosankan." ucapku dalam hati sembari melangkah dan duduk dikursi dekat Azhar. Didepanku terduduk seorang lelaki yang cukup tua yang tidak aku kenal, dari dandanannya seperti seorang penjaga toko disamping jalan.
"kau baru bangun Red?" tanya Azhar dengan nada mengejek. "kau tidak masuk kelas ya?"
"hari ini adalah pelajaran dari pak Ayrus, dan yang aku tau, pak Ayrus dan pak Indra sedang mengadakan perjalanan ke London karena kepentingan yang sangat rahasia. Jadi yaa bangun siang ini sudah aku rencanakan fufufu" jawabku dengan senyum diakhir kalimat.
Azhar pun tersenyum kecil dan kembali menolehkan pandangan kepada Coil.
"oke!" ucap Coil memulai." perkenalkan ini adalah pak Walker seorang pemilik toko guci di santa street. Pak walker memiliki masalah yang menurutnya membutuhkan bantuan kita." tatapan Coil beralih ke arah pak Walker dan berkata. "silahkan paparkan masalah anda dengan rinci, dengan senang hati kami akan mendengarkan. Dan mohon diakhir anda bersedia menjawab pertanyaan - pertanyaan dari kami dengan jelas."
ucap Cuil dan langsung kukalungkan headsetku dileher.
"baiklah" ucap pak Walker."berawal dari pagi hari tanggal 10 Maret, kudapati pintu tokoku sudah terbuka, padahal kunci pintu itu hanya ada satu dan itu ada padaku, aku lihat ada bekas rusak dan sudah pasti sudah didobrak malam harinya oleh seseorang yang mungkin berniat jahat padaku. Namun setelah aku masuk dan aku periksa kedalam toko, aku terheran karena sama sekali tidak ada guci yang tergeser seditpun ataupun hilang, tidak.. tidak sama sekali, keadaan toko selayaknya seperti biasa. Namun sehari setelah itu ada seorang anak muda yang selalu berada didepan dan memperhatikan tokoku. Sehari setelahnya lagi, tokoku kembali didobrak dan lagi - lagi tidak ada satu barangpun yang hilang, namun hanya ada satu guci saja yang pecah. Otomatis aku langsung curiga pada anak muda yang selalu memperhatikan tokoku itu."
"hhm.. tunggu dulu." ucap Aldi yang mengangkat
tubuh dari sandarannya sembari mematikan rokok pada asbak diatas meja. "apa anda dapat melihat bagaimana wajah dari anak muda yang anda maksud?."
"tidak, dia mengenakan tudung dari jaketnya, sehingga wajahnya tidak terlihat."
"hhmm lalu dari mana anda mengetahui kalau orang itu adalah anak muda?."
"oh iya, pernah saya mengejar anak muda itu karena saya sangat penasaran dan ingin menangkap untuk menanyainya, dia berlari ke arah gang samping toko, dari cara larinya yang cepat dan gerakannya, aku tahu kalau dia masih muda."
"apa anda berhasil menangkapnya?" potong Lonn.
"tidak, aku juga kurang mengerti, kemana dia pergi, mungkinkah dia punya kekuatan untuk menghilang."
"hmm.." gumam Lonn yang kurang suka dengan kalimat terakhir dari Walker. "digang itu ada apa saja?" sambung kepsek.
...
"disepanjang gang terdapat banyak komplek perumahan dan gang itu cukup banyak bercabang, mungkin karena itu aku cukup bingung."
"dari jam berapa orang itu ada didepan toko anda?." kataku.
Pak Walker menolehkan tatapannya kepadaku, dan menjawab, "setiap sore kira - kira jam tiga kesana. Dan saat aku menutup toko kira - kira jam enam, orang itu sudah tidak ada, aku tidak tahu kapan dia pergi."
"hhmm.. begitu ya." gumamku, "dan tentu bukan hanya itu saja kan yang membuat anda sehingga datang kemari?." lanjutku.
"ya tentu saja.. aku kaget sekaligus takut mendengar Hary Tetta, seorang lelaki tua yang hidup sendiri dirumahnya dijalan Abbey street, dia dikabarkan meninggal kemarin malam dirumahnya, mungkin anda sekalian sudah mendengar beritanya."
"dan apa hubungannya dengan anda?." tanya Azhar.
"sorenya lelaki tua itu sudah berbelanja ditokoku, sebenarnya bukan hanya dia saja, paginya Edward juga berbelanja 1 guci, dan sorenya Hary dan Juga Martin yang ada di Hexon street, entah ada hubungannya denganku atau tidak yang pasti aku bingung dengan semua ini, tolong selidiki apa yang telah terjadi, aku mohon." wajah lelaki itu tiba - tiba berubah menjadi memelas. Semua yang ada diruangan Coil kecuali Walker, menoleh ke arah kepsek.
Coil pun langsung berkata, "oke! aku kira itu sudah cukup, sepertinya menarik. kita akan melakukannya."
"benarkah..?" wajah lelaki itu berubah menjadi cerah, "terimakasih sebelumnya, aku akan sangat berhutang pak.." lanjutnya.
"jangan panggil aku 'pak', aku masih terlalu muda untuk dipanggil seperti itu."
"ahaha.. baiklah, sekali lagi aku berterimakasih." ucap Walker sembari mengangkat tubuhnya berdiri untuk pamit.
"ya.. dan pertanyaanku yang terakhir." sahut Coil dengan tatapan yang sangat nakal.
"apakah itu?"
"apakah kau tahu diperumahan gang itu, adakah seorang anak muda kira - kira masih duduk di bangku SMA yang menempati salah satu rumah disana?"
"seingatku ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak muda yang anda maksud, tapi aku tidak terlalu tau atau akrab dengan mereka." jawab Walker.
"oke! baiklah." Coil mengangkat tubuhnya berdiri sama seperti Walker, mereka bersalaman. Sementara yang lainnya hanya duduk melihat mereka berdua.
"oh ya, bolehkah kami memeriksa toko anda?" tanya Coil.
"silahkan.. silahkan.. tentu saja." jawab Walker.
"terimakasih.."
lelaki itu pun pergi meninggalkan H.S.D dan kembali menjalankan aktifitasnya.
---
beberapa menit setelah kepergian Walker,
"aku dan aldi akan pergi memeriksa toko milik pak Walker." ucap Coil. "Lonn dan Azhar, kalian selidiki tentang kematian Hary yang dimaksud pak Walker, sementara kau Red, pergi ke perumahan di gang dekat toko, selidiki dan temukan rumah yang aku maksud."
aku pun mengangguk mengerti sembari memasangkan kembali headset yang tadi terkalung dileherku ke kedua telingaku, (new found glory - this disaster).
***
10.35
setelah aku mencari, akhirnya ku temukan juga rumah yang dimaksud, aku pun langsung bergegas meluncur kesana. Sekitar empat puluh menit perjalanan aku berhenti dan terheran melihat dua mobil polisi serta satu mobil ambulan terparkir didepan rumah, sejenak aku berpikir dan langsung aku parkirkan jua motor HONDA CBR ku didepan rumah, aku langsung menyeruak masuk kedalam. Suasana kesedihan sangat jelas terasa didalam rumah.
"ada apa ini?" tanyaku kepada salah satu petugas.
"entahlah, mungkin pembunuhan." jawabnya. "eh, adek siapa?"
"aku bukan siapa - siapa, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. bisa anda ceritakan padaku?"
petugas itu terdiam sejenak dan langsung bercerita, sama sekali tidak menegurku, mungkin karena menyadari logo H.S.D yang ada di bagian dada sebelah kiri dari jaketku.
"seorang lelaki bernama Mark Jafier (M 20), seorang mahasiswa yang baru saja masuk ke sebuah perguruan tinggi, sebelumnya sehabis keluar SMA dia mengganggur karena tidak mempunyai biaya untuk sekolah. Dia ditemukan meninggal tergeletak dilantai dekat ranjang tidur kamarnya. Dengan luka cakar diwajahnya. Pertama kali yang menemukan korban adalah pembantu dirumah ini yaitu Rose (F 39), dia mendapati korban tergeletak dan disampingnya ada Mery yaitu kucing milik korban yang terduduk didekat mayat."
"tunggu dulu, siapa saja penghuni rumah ini?"
"korban, ayah kandung korban yaitu Jeff jafier (M 36), Ibu tiri korban yaitu Kelly Clarkson (F 30), adik tiri korban, Maxy (M 18), seorang bayi, anak kandung dari Jeff dan Kelly yaitu Risya dan terakhir pembantu korban."
"hhmm.. bolehkah saya memeriksa kamar korban?"
"silahkan.. silahkan."
aku melangkah kekamar korban, waktu perkiraan kematian korban adalah jam 9 pagi.
"hhmm pecahan apa ini?"
"itu adalah pecahan gelas, terdapat gelas terpecah di dekat tangan kanan korban, dan sekarang sudah dibereskan."
"hm begitu ya."
tidak ada yang aneh dikamar korban, selayaknya kamar anak muda jaman sekarang, tempat tidur yang masih berantakan, juga banyak alat - alat elektronik dan poster - poster yang tidak jelas. Pintu kamar korban ada dua, dari sebelah kiri dan sebelah kanan, tadi aku masuk dari sebelah kiri melewati kamar nyonya Kelly dan kamar Rose, sekarang aku keluar lewat pintu sebelah kanan, sekitar satu meter dari mulut pintu terdapat kamar adik tiri korban yaitu Maxy. Lurus dari kamar Maxy terdapat halaman belakang, aku tertarik pada tumpukan potongan - potongan seng dipojok halaman dan juga ada sebuah kandang kucing yang terbuat dari kawat.
"hhm.. saatnya introgasi." kataku kepada petugas.
"silahkan." jawabnya
---
-introgasi Jeff Jafier-
suami kedua dari Kelly, Jeff adalah anak buah suami Kelly disuatu peruhasaan milik suami Kelly itu, dia adalah pria miskin, namun setelah menikah dengan Kelly dia menjadi pemilik perusahaan, dan menjadi kaya, oleh sebab itu bisa menyekolahkan anaknya Mark yang kini sudah meninggal.
"aku tidak berada dirumah saat kejadian, aku sedang ditempat kerja, Rose menelpon ku dan mengabarkan berita buruk ini. Aku tidak tahu apa - apa, aku tidak mungkin membunuh anak kandungku sendiri." ucapnya sembari mengeluarkan air mata. Dia sangat menyayangi
Mark.
-Introgasi Kelly Clarkson-
kondisinya sekarang sedang sakit dia hanya terbaring dikasur dan sedih mendengar peristiwa yang telah terjadi dirumahnya. Menurut pembantunya, penyakit nyonya Kelly belum diketahui kadang - kadang demam nya sangat tinggi dan juga tiba - tiba turun derastis, juga terdapat banyak luka memar disekujur tubuhnya akibat sering disiksa oleh Jeff.
"sejak seminggu yang lalu aku hanya berbaring ditempat tidur, tidak ada yang dapat saya lakukan, bahkan berjalanpun aku sedikit pusing, dan serasa mau pingsan, untung ada Rose yang selalu ada disamping saya. Saya sangat menyayangi semua anak - anakku termasuk Mark, aku tidak mungkin membunuhnya. yang aku tahu semuanya tidak ada yang aneh."
"bisa anda ceritakan sedikit mengenai suami anda yang pertama?" tanyaku.
"jonhson.. dia lelaki yang baik, bahkan menurutku dia adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. aku sangat frustasi saat menyadari kalau dia sudah meninggal."
"apa dia terserang penyakit?"
"tidak. Dia meninggal karena musibah kebakaran ditempat kerjanya. Hari itu aku mendapat kabar dari rumah sakit kalau suamiku sudah meninggal, aku belum sempat menemui mayatnya."
"kenapa?"
"semua korban dalam bencana itu sudah dikubur masal."
"hhm! lalu anda menikah dengan Jeff."
"ya, aku mengenalnya dari suamiku, aku tidak sanggup hidup sendiri, lalu aku menikahi Jeff yang kebetulan seorang duda yang mempunyai anak satu, sama sepertiku. Tapi aku sungguh menyesal menikah dengannya.." teriaknya dan menangis.
-introgasi Maxy-
anak kandung dari hasil hubungan Kelly dan johnson, seorang anak yang cerdas. Dia sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun. Disekujur tubuhnya juga banyak luka memar akibat pukulan.
"dari kemarin malam aku tidak keluar kamar karena sakit. Bahkan sekarang pun aku tidak masuk sekolah."
"tidak.. sama sekali aku tidak bertemu Mark."
-Introgasi Rose-
seorang pembantu yang baik dan ramah, sungguh jelas terlihat dari roman wajahnya. Dia adalah pembantu dirumah dan sekaligus teman bagi Kelly. Dia sudah menjadi pembantu untuk Kelly dari dulu, saat masih bersuami dengan Johnson, dan sampai sekarang. Hanya dia lah yang mengerti tentang keadaan rumah tangga Kelly. Dia juga pun yang mengurus Kelly saat sakit.
"saya tidak pernah kemana - mana kecuali keluar untuk hal yang dibutuhkan oleh nyonya, saya hanya berada dikamar nyoya."
"ya.. saya adalah orang yang pertamakali mendapati korban, awalnya saya berniat untuk menyuruh Mark untuk sarapan. Saya ingat kalau hari ini dia tidak masuk kuliah karena libur, jadi saya yakin dia masih tidur, sudah kebiasaannya kalau libur pasti bangun siang. Saat ketuk pintunya sampai beberapa kali namun tidak juga ada jawaban, tidak seperti biasanya. Pintu kamarnya terkunci, saya berputar ke pintu sebelah kiri, dan ternyata tidak terkunci, aku pun membukannya dan langsung berteriak menyaksikan pemandangan mengenaskan itu, aku sempat heran karena ada Mery disamping mayat, Mark tidak pernah memasukkan kucingnya kedalam kamar, dia sangat tidak suka.
"oh iya jam 6 pagi.. saya pergi ke kamar Maxy, dan dia mengadu kalau tidak bisa masuk sekolah karena sakit. Saya sangat kasihan sekali pada dia, padahal kemarin dia terlihat sangat sehat sekali.
"memang.. Tuan Jeff memang keras. Saya tidak menyangka ternyata sifatnya seperti itu. Awal bertemu saya sangat setuju sekali kalau nyoya Kelly menikah dengan Jeff, karena sebelum menikah Jeff sangat baik kepada nyonya, namun setelah menikah dia kerap memukuli nyoya dan Maxy, bahkan saya pun sempat menjadi korbannya. namun tidak kepada Mark, dia sangat menyayanginya. Oleh karena itu saya sangat kasihan pada mereka."
---
"baiklah, terimakasih..aku rasa sudah cukup." sahutku pada ketua petugas itu. Aku mengisaratkan mataku untuk berbisik kepadanya dan dia pun megerti, aku berbisik lama kepada dia, dan dia pun berkata,"baik."
aku pun berbalik dan kembali memasangkan hedset ditelingaku (story of the year - and the hero will come down), melangkah keluar rumah, "aku sudah mendapatkan kesimpulan dari apa yang aku dapat, tapi kalau sekarang mungkin tidak akan menyelesaikan semuanya." gumamku dalam hati. Aku menghidupkan motorku dan meluncur menuju ke '7th Heaven' (Sebuah Bar BerCLA$$$s yang berada tidak jauh dari H.S.D)
.
---
01.00 p.m, 7th Heaven
tumben sekali Bar kosong tanpa pengunjung. Aku duduk di meja paling pinggir sebelah kiri, dan memesan segelas susu cokelat dingin. Dan tak lama kemudian, susu cokelat ku pun tinggal setengah gelas, tiba - tiba dari arah mulut pintu Bar muncul Kepsek dan Aldi, mereka berdua berjalan dan duduk satu meja denganku, dibelakangnya mengikuti,
"cih, payah! Membosankan." gerutu Lonn yang muncul bersama Azhar, dan langsung menghampiri kami.
"bagaimana il?" tanyaku.
"aku tidak sama sekali menemukannya”
"disepanjang gang terdapat banyak komplek perumahan dan gang itu cukup banyak bercabang, mungkin karena itu aku cukup bingung."
"dari jam berapa orang itu ada didepan toko anda?." kataku.
Pak Walker menolehkan tatapannya kepadaku, dan menjawab, "setiap sore kira - kira jam tiga kesana. Dan saat aku menutup toko kira - kira jam enam, orang itu sudah tidak ada, aku tidak tahu kapan dia pergi."
"hhmm.. begitu ya." gumamku, "dan tentu bukan hanya itu saja kan yang membuat anda sehingga datang kemari?." lanjutku.
"ya tentu saja.. aku kaget sekaligus takut mendengar Hary Tetta, seorang lelaki tua yang hidup sendiri dirumahnya dijalan Abbey street, dia dikabarkan meninggal kemarin malam dirumahnya, mungkin anda sekalian sudah mendengar beritanya."
"dan apa hubungannya dengan anda?." tanya Azhar.
"sorenya lelaki tua itu sudah berbelanja ditokoku, sebenarnya bukan hanya dia saja, paginya Edward juga berbelanja 1 guci, dan sorenya Hary dan Juga Martin yang ada di Hexon street, entah ada hubungannya denganku atau tidak yang pasti aku bingung dengan semua ini, tolong selidiki apa yang telah terjadi, aku mohon." wajah lelaki itu tiba - tiba berubah menjadi memelas. Semua yang ada diruangan Coil kecuali Walker, menoleh ke arah kepsek.
Coil pun langsung berkata, "oke! aku kira itu sudah cukup, sepertinya menarik. kita akan melakukannya."
"benarkah..?" wajah lelaki itu berubah menjadi cerah, "terimakasih sebelumnya, aku akan sangat berhutang pak.." lanjutnya.
"jangan panggil aku 'pak', aku masih terlalu muda untuk dipanggil seperti itu."
"ahaha.. baiklah, sekali lagi aku berterimakasih." ucap Walker sembari mengangkat tubuhnya berdiri untuk pamit.
"ya.. dan pertanyaanku yang terakhir." sahut Coil dengan tatapan yang sangat nakal.
"apakah itu?"
"apakah kau tahu diperumahan gang itu, adakah seorang anak muda kira - kira masih duduk di bangku SMA yang menempati salah satu rumah disana?"
"seingatku ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak muda yang anda maksud, tapi aku tidak terlalu tau atau akrab dengan mereka." jawab Walker.
"oke! baiklah." Coil mengangkat tubuhnya berdiri sama seperti Walker, mereka bersalaman. Sementara yang lainnya hanya duduk melihat mereka berdua.
"oh ya, bolehkah kami memeriksa toko anda?" tanya Coil.
"silahkan.. silahkan.. tentu saja." jawab Walker.
"terimakasih.."
lelaki itu pun pergi meninggalkan H.S.D dan kembali menjalankan aktifitasnya.
---
beberapa menit setelah kepergian Walker,
"aku dan aldi akan pergi memeriksa toko milik pak Walker." ucap Coil. "Lonn dan Azhar, kalian selidiki tentang kematian Hary yang dimaksud pak Walker, sementara kau Red, pergi ke perumahan di gang dekat toko, selidiki dan temukan rumah yang aku maksud."
aku pun mengangguk mengerti sembari memasangkan kembali headset yang tadi terkalung dileherku ke kedua telingaku, (new found glory - this disaster).
***
10.35
setelah aku mencari, akhirnya ku temukan juga rumah yang dimaksud, aku pun langsung bergegas meluncur kesana. Sekitar empat puluh menit perjalanan aku berhenti dan terheran melihat dua mobil polisi serta satu mobil ambulan terparkir didepan rumah, sejenak aku berpikir dan langsung aku parkirkan jua motor HONDA CBR ku didepan rumah, aku langsung menyeruak masuk kedalam. Suasana kesedihan sangat jelas terasa didalam rumah.
"ada apa ini?" tanyaku kepada salah satu petugas.
"entahlah, mungkin pembunuhan." jawabnya. "eh, adek siapa?"
"aku bukan siapa - siapa, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. bisa anda ceritakan padaku?"
petugas itu terdiam sejenak dan langsung bercerita, sama sekali tidak menegurku, mungkin karena menyadari logo H.S.D yang ada di bagian dada sebelah kiri dari jaketku.
"seorang lelaki bernama Mark Jafier (M 20), seorang mahasiswa yang baru saja masuk ke sebuah perguruan tinggi, sebelumnya sehabis keluar SMA dia mengganggur karena tidak mempunyai biaya untuk sekolah. Dia ditemukan meninggal tergeletak dilantai dekat ranjang tidur kamarnya. Dengan luka cakar diwajahnya. Pertama kali yang menemukan korban adalah pembantu dirumah ini yaitu Rose (F 39), dia mendapati korban tergeletak dan disampingnya ada Mery yaitu kucing milik korban yang terduduk didekat mayat."
"tunggu dulu, siapa saja penghuni rumah ini?"
"korban, ayah kandung korban yaitu Jeff jafier (M 36), Ibu tiri korban yaitu Kelly Clarkson (F 30), adik tiri korban, Maxy (M 18), seorang bayi, anak kandung dari Jeff dan Kelly yaitu Risya dan terakhir pembantu korban."
"hhmm.. bolehkah saya memeriksa kamar korban?"
"silahkan.. silahkan."
aku melangkah kekamar korban, waktu perkiraan kematian korban adalah jam 9 pagi.
"hhmm pecahan apa ini?"
"itu adalah pecahan gelas, terdapat gelas terpecah di dekat tangan kanan korban, dan sekarang sudah dibereskan."
"hm begitu ya."
tidak ada yang aneh dikamar korban, selayaknya kamar anak muda jaman sekarang, tempat tidur yang masih berantakan, juga banyak alat - alat elektronik dan poster - poster yang tidak jelas. Pintu kamar korban ada dua, dari sebelah kiri dan sebelah kanan, tadi aku masuk dari sebelah kiri melewati kamar nyonya Kelly dan kamar Rose, sekarang aku keluar lewat pintu sebelah kanan, sekitar satu meter dari mulut pintu terdapat kamar adik tiri korban yaitu Maxy. Lurus dari kamar Maxy terdapat halaman belakang, aku tertarik pada tumpukan potongan - potongan seng dipojok halaman dan juga ada sebuah kandang kucing yang terbuat dari kawat.
"hhm.. saatnya introgasi." kataku kepada petugas.
"silahkan." jawabnya
---
-introgasi Jeff Jafier-
suami kedua dari Kelly, Jeff adalah anak buah suami Kelly disuatu peruhasaan milik suami Kelly itu, dia adalah pria miskin, namun setelah menikah dengan Kelly dia menjadi pemilik perusahaan, dan menjadi kaya, oleh sebab itu bisa menyekolahkan anaknya Mark yang kini sudah meninggal.
"aku tidak berada dirumah saat kejadian, aku sedang ditempat kerja, Rose menelpon ku dan mengabarkan berita buruk ini. Aku tidak tahu apa - apa, aku tidak mungkin membunuh anak kandungku sendiri." ucapnya sembari mengeluarkan air mata. Dia sangat menyayangi
Mark.
-Introgasi Kelly Clarkson-
kondisinya sekarang sedang sakit dia hanya terbaring dikasur dan sedih mendengar peristiwa yang telah terjadi dirumahnya. Menurut pembantunya, penyakit nyonya Kelly belum diketahui kadang - kadang demam nya sangat tinggi dan juga tiba - tiba turun derastis, juga terdapat banyak luka memar disekujur tubuhnya akibat sering disiksa oleh Jeff.
"sejak seminggu yang lalu aku hanya berbaring ditempat tidur, tidak ada yang dapat saya lakukan, bahkan berjalanpun aku sedikit pusing, dan serasa mau pingsan, untung ada Rose yang selalu ada disamping saya. Saya sangat menyayangi semua anak - anakku termasuk Mark, aku tidak mungkin membunuhnya. yang aku tahu semuanya tidak ada yang aneh."
"bisa anda ceritakan sedikit mengenai suami anda yang pertama?" tanyaku.
"jonhson.. dia lelaki yang baik, bahkan menurutku dia adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. aku sangat frustasi saat menyadari kalau dia sudah meninggal."
"apa dia terserang penyakit?"
"tidak. Dia meninggal karena musibah kebakaran ditempat kerjanya. Hari itu aku mendapat kabar dari rumah sakit kalau suamiku sudah meninggal, aku belum sempat menemui mayatnya."
"kenapa?"
"semua korban dalam bencana itu sudah dikubur masal."
"hhm! lalu anda menikah dengan Jeff."
"ya, aku mengenalnya dari suamiku, aku tidak sanggup hidup sendiri, lalu aku menikahi Jeff yang kebetulan seorang duda yang mempunyai anak satu, sama sepertiku. Tapi aku sungguh menyesal menikah dengannya.." teriaknya dan menangis.
-introgasi Maxy-
anak kandung dari hasil hubungan Kelly dan johnson, seorang anak yang cerdas. Dia sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun. Disekujur tubuhnya juga banyak luka memar akibat pukulan.
"dari kemarin malam aku tidak keluar kamar karena sakit. Bahkan sekarang pun aku tidak masuk sekolah."
"tidak.. sama sekali aku tidak bertemu Mark."
-Introgasi Rose-
seorang pembantu yang baik dan ramah, sungguh jelas terlihat dari roman wajahnya. Dia adalah pembantu dirumah dan sekaligus teman bagi Kelly. Dia sudah menjadi pembantu untuk Kelly dari dulu, saat masih bersuami dengan Johnson, dan sampai sekarang. Hanya dia lah yang mengerti tentang keadaan rumah tangga Kelly. Dia juga pun yang mengurus Kelly saat sakit.
"saya tidak pernah kemana - mana kecuali keluar untuk hal yang dibutuhkan oleh nyonya, saya hanya berada dikamar nyoya."
"ya.. saya adalah orang yang pertamakali mendapati korban, awalnya saya berniat untuk menyuruh Mark untuk sarapan. Saya ingat kalau hari ini dia tidak masuk kuliah karena libur, jadi saya yakin dia masih tidur, sudah kebiasaannya kalau libur pasti bangun siang. Saat ketuk pintunya sampai beberapa kali namun tidak juga ada jawaban, tidak seperti biasanya. Pintu kamarnya terkunci, saya berputar ke pintu sebelah kiri, dan ternyata tidak terkunci, aku pun membukannya dan langsung berteriak menyaksikan pemandangan mengenaskan itu, aku sempat heran karena ada Mery disamping mayat, Mark tidak pernah memasukkan kucingnya kedalam kamar, dia sangat tidak suka.
"oh iya jam 6 pagi.. saya pergi ke kamar Maxy, dan dia mengadu kalau tidak bisa masuk sekolah karena sakit. Saya sangat kasihan sekali pada dia, padahal kemarin dia terlihat sangat sehat sekali.
"memang.. Tuan Jeff memang keras. Saya tidak menyangka ternyata sifatnya seperti itu. Awal bertemu saya sangat setuju sekali kalau nyoya Kelly menikah dengan Jeff, karena sebelum menikah Jeff sangat baik kepada nyonya, namun setelah menikah dia kerap memukuli nyoya dan Maxy, bahkan saya pun sempat menjadi korbannya. namun tidak kepada Mark, dia sangat menyayanginya. Oleh karena itu saya sangat kasihan pada mereka."
---
"baiklah, terimakasih..aku rasa sudah cukup." sahutku pada ketua petugas itu. Aku mengisaratkan mataku untuk berbisik kepadanya dan dia pun megerti, aku berbisik lama kepada dia, dan dia pun berkata,"baik."
aku pun berbalik dan kembali memasangkan hedset ditelingaku (story of the year - and the hero will come down), melangkah keluar rumah, "aku sudah mendapatkan kesimpulan dari apa yang aku dapat, tapi kalau sekarang mungkin tidak akan menyelesaikan semuanya." gumamku dalam hati. Aku menghidupkan motorku dan meluncur menuju ke '7th Heaven' (Sebuah Bar BerCLA$$$s yang berada tidak jauh dari H.S.D)
.
---
01.00 p.m, 7th Heaven
tumben sekali Bar kosong tanpa pengunjung. Aku duduk di meja paling pinggir sebelah kiri, dan memesan segelas susu cokelat dingin. Dan tak lama kemudian, susu cokelat ku pun tinggal setengah gelas, tiba - tiba dari arah mulut pintu Bar muncul Kepsek dan Aldi, mereka berdua berjalan dan duduk satu meja denganku, dibelakangnya mengikuti,
"cih, payah! Membosankan." gerutu Lonn yang muncul bersama Azhar, dan langsung menghampiri kami.
"bagaimana il?" tanyaku.
"aku tidak sama sekali menemukannya”
"dan mungkin orang itu juga sudah menyadarinya."
"hhm.. begitu ya."
"lalu ada apa denganmu Lonn? Bagaimana penyelidikannya?" tanya Coil.
"aku tidak mendapatkan apa - apa yang sangat penting, hanya sebuah informasi tentang kematian Hary."jawab Lonn dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"bisa tolong diceritakan?" sahut Coil cepat.
Lonn mempersilahkan Azhar untuk memaparkan apa yang dia dapat, Azhar pun langsung bicara, "Hary Tetta, ditemukan pagi hari terbunuh dengan luka tusuk dibagian perut, dia tergeletak di ruangan tengah dari rumahnya. Diduga semalam seorang pencuri telah masuk kerumahnya, karena didapati kaca disamping rumah dalam keadaan pecah. Aku menyimpulkan kalau Hary menyadari kedatangan pencuri itu, dan sempat terjadi perkelahian diantara mereka, karena melihat kondisi dari ruangan itu yang berantakan, dan juga kamar Hary berada jauh dari ruang tengah. Namun aku masih bingung karena tidak ada satu benda pun yang menghilang, berdasarkan keterangan dari anak korban yang setiap hari mengunjungi korban."
"guci yang sempat dibeli dari Walker berada dimana?" tanya Aldi.
"berada sekitar satu meter dari mayat korban, namun masih tetap diruang tengah."
"hhmm.. lalu kau red, apa yang kau dapat, apa kau menemukan rumah yang aku maksud."
"ah, ya aku menemukannya.. Aku sedikit terkejut karena terjadi sebuah pembunuhan disana." aku membetulkan posisi dudukku dan menceritakan semuanya dengan sangat rinci, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
-Setelah beberapa puluh menit aku bercerita-
"hhmm.. sedikit memberi titik terang menurutku." sahut Coil.
"tidak. Ini justru sudah sangat jelas menurutku." timpal Aldi, "saat keluar dari H.S.D tadi, sebelum pergi ke toko milik Walker, aku membeli koran harian dipinggir jalan. sebuah kolom berita kriminal menginformasikan bahwa telah terjadi perampokan disebuah bank di santa street pada tanggal 10 Maret malam. Seorang petugas sempat melihat pelaku namun tidak dapat menangkapnya, dia menghilang dikegelapan malam. Dan berita hari ini adalah, seorang pencuri berhasil ditangkap karena didapati mencuri disebuah pusat perbelanjaan, dan dari keterangan petugas bank, dia adalah pencuri yang dia lihat saat melarikan diri, namun polisi tidak mendapatkan informasi yang pasti dari pelaku, dia tidak memiliki identitas pasti, wajahnya pun tidak ada yang mengenali karena rusak tak berbentuk."
"lalu apa hubungannya?" sahut Azhar.
"entahlah.. aku merasa kalau semua ini berbuhubungan."
"kalau begitu, mungkin akan terjadi lagi." kataku.
"mungkin.." sahut Coil. "yang pasti kita akan melakukan suatu tindakan dari malam ini."
aku memasangkan headset dan menatap jauh ke arah luar jendela Bar. (good charlotte - we belive)
"mau kemana kau Di?" sahut Coil yang menyadari Aldi beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar.
"aku mau memastikan sesuatu." jawabnya sembari menghidupkan rokok didepan pintu, asap rokoknya terlihat mengepul, dan akhirnya diapun keluar.
To be countinued..
"hhm.. begitu ya."
"lalu ada apa denganmu Lonn? Bagaimana penyelidikannya?" tanya Coil.
"aku tidak mendapatkan apa - apa yang sangat penting, hanya sebuah informasi tentang kematian Hary."jawab Lonn dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"bisa tolong diceritakan?" sahut Coil cepat.
Lonn mempersilahkan Azhar untuk memaparkan apa yang dia dapat, Azhar pun langsung bicara, "Hary Tetta, ditemukan pagi hari terbunuh dengan luka tusuk dibagian perut, dia tergeletak di ruangan tengah dari rumahnya. Diduga semalam seorang pencuri telah masuk kerumahnya, karena didapati kaca disamping rumah dalam keadaan pecah. Aku menyimpulkan kalau Hary menyadari kedatangan pencuri itu, dan sempat terjadi perkelahian diantara mereka, karena melihat kondisi dari ruangan itu yang berantakan, dan juga kamar Hary berada jauh dari ruang tengah. Namun aku masih bingung karena tidak ada satu benda pun yang menghilang, berdasarkan keterangan dari anak korban yang setiap hari mengunjungi korban."
"guci yang sempat dibeli dari Walker berada dimana?" tanya Aldi.
"berada sekitar satu meter dari mayat korban, namun masih tetap diruang tengah."
"hhmm.. lalu kau red, apa yang kau dapat, apa kau menemukan rumah yang aku maksud."
"ah, ya aku menemukannya.. Aku sedikit terkejut karena terjadi sebuah pembunuhan disana." aku membetulkan posisi dudukku dan menceritakan semuanya dengan sangat rinci, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
-Setelah beberapa puluh menit aku bercerita-
"hhmm.. sedikit memberi titik terang menurutku." sahut Coil.
"tidak. Ini justru sudah sangat jelas menurutku." timpal Aldi, "saat keluar dari H.S.D tadi, sebelum pergi ke toko milik Walker, aku membeli koran harian dipinggir jalan. sebuah kolom berita kriminal menginformasikan bahwa telah terjadi perampokan disebuah bank di santa street pada tanggal 10 Maret malam. Seorang petugas sempat melihat pelaku namun tidak dapat menangkapnya, dia menghilang dikegelapan malam. Dan berita hari ini adalah, seorang pencuri berhasil ditangkap karena didapati mencuri disebuah pusat perbelanjaan, dan dari keterangan petugas bank, dia adalah pencuri yang dia lihat saat melarikan diri, namun polisi tidak mendapatkan informasi yang pasti dari pelaku, dia tidak memiliki identitas pasti, wajahnya pun tidak ada yang mengenali karena rusak tak berbentuk."
"lalu apa hubungannya?" sahut Azhar.
"entahlah.. aku merasa kalau semua ini berbuhubungan."
"kalau begitu, mungkin akan terjadi lagi." kataku.
"mungkin.." sahut Coil. "yang pasti kita akan melakukan suatu tindakan dari malam ini."
aku memasangkan headset dan menatap jauh ke arah luar jendela Bar. (good charlotte - we belive)
"mau kemana kau Di?" sahut Coil yang menyadari Aldi beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar.
"aku mau memastikan sesuatu." jawabnya sembari menghidupkan rokok didepan pintu, asap rokoknya terlihat mengepul, dan akhirnya diapun keluar.
To be countinued..
Komentar
Posting Komentar