Di Surga
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Mohon maaf lahir dan batin.
disini saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada kepala sekolah dan semua jajaran staf guru di HSD, terlebih kepada Aldi sebagai ketua pelaksana ulangan umum HSD dan kepada murid – murid sekalian, karena saya belum membuat case (soal) sama sekali untuk bahan ujian bagian saya.
Namun sebagai gantinya saya akan
memberikan case yang beberapa waktu lalu saya tangani. *ngasih selebaran ke
semua murid*
Silahkan dibaca terlebih dahulu..
-------------------
Dua hari yang lalu, di pagi yang
sepi. Dingin menyelimuti sekolah ini. “biasa, sepertinya aku datang paling awal
lagi” gumamku dalam hati.
Saat melewati ruang guru, aku
mendengar sebuah telephone berdering didalam ruangan yang masih kosong itu.
Pintu terkunci, namun aku berhasil masuk dengan trik yang aku pelajari beberapa
hari lalu dikelas. Aku langsung menuju kea rah telephone itu berada.
“ selamat pagi pa guru, ini dari
kepolisian, saya meminta perwakilan untuk menyelidiki sebuah kasus di
alamat***, saya tunggu kedatangannya” tut tut tut tut.
“sialan cepet banget ngomongnya -_- aku kan murid, bukan guru“ namun dari suaranya aku bisa mengenal kalau dia adalah Pak Said Soekanto, seorang kepala kepolisian yang sudah menjadi partner dari sekolah detective ini.
Aku menatap ke setiap sudut
ruangan. Tidak ada siapa – siapa. “hhm, sepertinya aku harus bolos hari ini”.
-------------------
Dengan
menggunakan sepeda motor milikku, aku langsung melesat menuju tempat yang
disebutkan oleh pak said ditelepon. Tidak terasa jalan semakin sepi ternyata
alamat itu membawaku menuju ke sebuah desa dengan jalan yang masih rusak dan
disetiap samping jalan terdapat banyak sekali pohon – pohon yang menembus
kedalam hutan. Tibalah aku disebuah rumah besar namun sedikit tidak terurus,
sepertinya didesa ini hanya rumah inilah yang besar. Belum sempat aku masuk ke
dalam rumah, aku sudah dicegat oleh pak Said. Aku sangat kenal dengan rambut
putihnya.
“hai
pak saya dari HSD, kebetulan disekolah tadi tidak ada siapa – siapa, jadi.. ”
“ah
saya tidak mau tau” pak said memotong pembicaraanku. “ begini, sekitar jam 8 malam
tadi, saya mendapat laporan dari warga bahwa dijalan tepat belakang rumah ini
ditemukan seorang mayat perempuan bernama Reni Safitri (22 tahun), tanpa
berpikir panjang saya bersama rekan saya satu orang langsung menuju ke TKP, dan
ternyata benar saja, seorang mayat perempuan dengan luka tembak pada bagian
kepala sebelah kanan mengenakan pakaian yang rapi tengah terkapar dijalanan
yang sepi itu. Didekat korban, kira – kira 3 meter tidak jauh dari mayat,
ditemukan satu buah handphone yang sudah dapat dipastikan adalah milik
perempuan itu. Setelah kami memeriksa handphone korban, kami mendapati banyak
sekali panggilan dari seseorang yang bernama Rudi, dan banyak sekali panggilan
tak terjawab dari orang yang bernama Ricky, tidak ada satupun sms, mungkin
sudah dihapus sama korban. Dengan bermodal data yang seadanya kami langsung
mencari tahu tempat kediaman dari dua orang itu untuk mencari data yang lebih
pasti. Kami berhasil menemui Ricky di kediamannya yang bila dari sini searah ke
rumah Reni, dan dia berkata tidak tahu menau terkait kematian pacarnya itu.
Namun yang membuat kita kaget adalah ketika kita mencari tahu orang yang
bernama Rudi, penyelidikan kami sampai ke tempat yang tidak jauh dari tempat
mengenaskan sebelumnya, yaitu di rumah ini, yang menjadi tempat dimana ajal
Rudi direnggut.. ya!, Rudi meninggal dunia!.” Pak Said menjelaskan dengan
gagah.
Lalu
perlahan aku membuka headset yang sedaritadi menempel dikupingku seraya berkata
dengan pelan “maaf pak, bisa diulangi tidak?” plaaak
==skip==
“Aku
sangat alergi dengan TKP, jadi tolong pertemukan aku terlebih dahulu dengan
orang yang bernama Ricky” pintaku kepada pak Said. “hmm baiklah” jawab pak Said
ketus.
Aku
pun diantar menuju ke kediaman orang yang bernama Ricky, namun kebetulan
melewati rumah korban yang bernama Reni, jadi aku dan pak Said mampir sebentar
untuk sekedar mengucapkan turut berduka cita dan sekalian menanyai keluarga
korban. Namun tidak ada sama sekali keterangan yang membawa kasus ini kepada
titik terang. Setelah melewati perjalanan 10 menit menggunakan sepeda motor,
akhirnya aku sampai di rumah saudara Ricky, kami dipersilahkan duduk dan
disuguhi dengan teh hangat yang dia buat. Setelah berbasabasi kini tiba saatnya
untuk mengorek informasi dari dia.
“bagaimana
kejadian ini menurut anda?” tanyaku mengawali. Pak said hanya diam dengan
sesekali menyicip teh didepannya itu.
“aku
benar – benar tidak percaya, dan sampai saat ini aku masih belum bisa menerima
kenyataan bahwa Reni sudah tiada.” ucapnya dingin. Aku bisa melihat raut
wajahnya diselimuti kesedihan yang dalam. “kemarin malam dia tersenyum manis
kepadaku” ucapnya melanjutkan dengan nada seperti mau menangis.
“oke
baik. Bisa anda ceritakan alur kejadiannya.”
“kemarin
malam, kami jalan - jalan bersama ke alun – alun desa, kami bercanda dan
tertawa bersama. Aku sangat bahagia waktu itu. Kami berangkat jam 5 sore dengan
berjalan kaki menyusuri jalan yang hanya cukup untuk satu mobil itu, maklum aku
masih belum punya kendaraan, tapi Reni sangat menikmatinya. Namun saat kami mau
pulang, ibuku memintaku untuk membeli makanan untuknya dan Reni sudah ditelpon
disuruh cepat pulang, saat itu aku tidak tega membiarkan Reni pulang sendirian,
tapi Reni tetap keukeuh bilang tidak apa – apa walaupun pulang sendiri dan
menyuruhku membeli makanan. Akhirnya dia pulang sendiri, dan aku dengan cepat
membeli makanan. Berniat menyusul Reni, aku berlari dengan menghidupkan senter
di hapeku, karena memang jalanan begitu gelap bila sudah malam begitu. Saat
melewati jalan belakang rumah besar itu, aku menemukan senter hape yang
tergeletak, perasaanku mulai tidak enak dan saat aku menghampirinya ternyata
itu adalah Reni yang sudah meninggal” dia menyembunyikan air matanya.
“hmm
begitu ya.. apa ada lagi yang ingin anda beritahu untuk kemudahan memecahkan
kasus ini?”
“oh
iya malam itu saat aku berlutut memeluk tubuh Reni aku melihat sosok manusia di
lantai atas rumah itu menatap kami dari balik jendela.”
“bisa
anda ceritakan bagaimana ciri – cirinya?”
“aku
tidak tau dia memakai baju berwarna apa karena memang sangat gelap sekali
disana lampu kamarnya tidak dinyalakan, namun aku melihat sebuah tahi lalat
(tanda lahir/tanda titik hitam) diwajahnya, seperti yang dimiliki Rudi.”
“ah
ya” pak said melonjak kaget.
“oke
baik, terimakasih, ngomong – ngomong kenapa bekas luka itu?” ku perhatikan
sedikit biru pada pelipis kanan Ricky.
“oh
ini, kemarin sore sebelum aku mau berkencan dengan Reni, aku pergi ke rumah
besar dimana Rudi berada, aku hanya ingin meminta maaf karena sehari sebelum
Reni meninggal, kemarinnya, aku sempat berbincang dengan Rudi, dan saat
menyinggung terkait hubunganku dengan Reni, dia langsung marah dan memukulku
sekali, tanpa aku balas dia langsung pulang. Aku salah sudah menyakiti hatinya karena yang aku tahu
kalo Rudi itu sangat menyukai Reni dari dulu.”
“kapan
anda kerumah Rudi?”
“kemarin
sekitar jam setengah lima sore, sebelum aku pergi berkencan.”
“aku
sempat menemui dia dikamarnya, namun dia masih emosi denganku dan aku hanya
mengucapkan maaf tanpa tau diterima atau tidak. Aku langsung diusir keluar.”
“oke,
sepertinya sudah cukup. Terimakasih.”
-------------------
Selanjutnya
aku bersama pak said kembali ke rumah besar tempat dimana mayat ke dua
ditemukan. Namun terlebih dahulu saya mampir ke pemukiman warga didekat rumah
besar itu.
“malam
itu saya hanya mendengar satu letusan tembakan saja, dan saya melihat kesana
ternyata sudah ramai dengan warga yang lainnya.” Hanya itu informasi yang aku
dapat dari warga.
Aku
memasuki rumah dengan dua pintu besar itu, berjalan menuju ruang tengah
mendekati bawah tangga tepat menuju lantai 2 dan mulai terdengar obrolan –
obrolan manusia. Terlihat satu orang ibu – ibu yang terlihat tua tapi masih
sehat, dan ada satu orang laki – laki yang dari auranya sudah tidak aku sukai, banyak
kebencian dalam wajahnya, dia tengah mengobrol dengan wanita tua itu. Menurut
informasi yang aku dapat dari pak Said orang itu bernama Doni (35 tahun), dia
hanya kebetulan menginap dirumah ini untuk sekedar liburan di desa. Saya
langsung menaiki tangga menuju lantai 2 dan langsung menuju ke bagian belakang,
setelah meminta ijin kepada Pak Said untuk memeriksa TKP, saya langsung
dipersilahkannya dengan ramah, setelah terlebih dahulu memastikan bahwa belum
ada perlakuan apapun terhadap korban maupun TKP. Korban bernama lengkap Rudi
Permana (22 tahun) seorang pemuda gagah nan tampan yang kini terbujur kaku
dengan luka pukul benda tumpul yang sangat keras pada kepala bagian belakang. Aku
langsung memasuki ruangan, “sangat rapi dan bersih sekali” ucapku dalam hati.
Sebuah meja diatasnya terdapat asbak besar yang terbuat dari kaca yang tebal
dan juga satu gelas teh. Pintu jendela terbuka, semua baju dan peralatan sehari
– hari sudah tidak ada lagi didalam ruangan namun semuanya sudah dimasukan ke
dalam koper besar. Aku berlutut disamping orang yang mempunyai tahi lalat kecil
diwajahnya ini, entah kenapa aku tidak begitu tertarik pada luka dikepalanya
itu, aku lebih tertarik pada sebuah kacamata putih dan sebuah pena yang ada di
saku kiri bajunya. Aku mengambilnya dengan sapu tanganku.
“bagaimana
menurut anda mengenai kacamata dan pena ini pak said?” tanyaku sembari berdiri
dan berjalan – jalan didalam kamar itu.
“seseorang
yang cerdas, suka membaca buku, dan pekerja keras” ucap pak said
“menarik
sekali pak said, tapi sepertinya bukan itu yang aku maksud.”
“oh
ya ngomong – ngomong apa saja barang – barang kepunyaan korban?”
“hanya
baju – baju biasa dan peralatan lain sewajarnya, dan juga satu buah senapan
angin, mungkin itu yang dia pakai untuk berburu. Satu lagi dia punya dua satu
pasang cincin, seperti cincin pernikahan.”
Aku
berjalan menuju jendela kamar yang terbuka. Dan aku sangat kaget saat melihat
keluar, posisi ini sangat pas sekali. “wow dari sini sangat jelas sekali pak”.
“memang,
aku sudah melihatnya. Dugaan sementara ini aku mengira bahwa Rudi menembak Reni
dari sini menggunakan senapan angin miliknya, ditambah dengan keterangan dari
Ricky yang menyebukan bahwa dia mungkin memberitahu Rudi tentang kencannya
dengan Reni, itu sangat menambah keyakinan bahwa Rudi memang membunuh Reni
karena terbakar cemburu, mungkin dia menunggu pasangan itu pulang melewati
jalan ini lalu menembaknya. namun malam itu sangat gelap, jadi mana mungkin
Rudi dapat menembak kepala seseorang dikeadaan gelap seperti itu.”
“gelap?
Bukannya ada cahaya senter dari hape yang dipegang oleh Reni pak. Itu dapat
menentukan posisi yang jelas dari Reni. sudah cukup bagi seorang penembak jitu
seperti dia”
“ah
ya kemungkinannya seperti itu”
Aku
mengerutkan alis mataku, dalam hati aku bergumam “ditambah dengan keterangan
dari warga yang mengatakan hanya ada satu letusan peluru, ini mengindikasikan
bahwa yang menembak adalah orang yang propesional. Satu tembakan pas mengenai
kepala dikeadaan minim cahaya. Bila orang amatir yang melakukan akan
mengeluarkan banyak peluru dan letusan yang terdengar pun akan sangat banyak.
Rudi memang berpotensi melakukan semua ini, tapi kenapa dia bisa meninggal
disini. Atau mungkin setelah membunuh Reni karena cemburu, dia langsung bunuh
diri. Sial ini membuatku pusing.”
“pak
bolehkan saya menanyai penghuni rumah ini tadi malam?”
“oh
silahkan dek.”
Aku
cepat – cepat menuju ke lantai bawah, TKP ini membuatku semakin gatal – gatal.
Aku mewawancarai mereka secara terpisah.
“nama
saya Bu Hana (45 tahun), saya sudah lama tinggal disini, ini adalah rumah milik
ayahanda Rudi, saya dipercayai oleh beliau untuk mengurus rumah ini, kebetulan
saya tidak punya tempat tinggal, jadi saya disuruh tinggal disini dan
mengurusinya setelah Keluarga Rudi pindah ke kota ketika Rudi masih kecil. Setiap
bulan sekali ayah Rudi mengirimi saya uang, sebagai upah dan biaya keperluan
rumah, ini sangat membantu saya. Malam itu aku juga mendengar suara letusan
pistol dan aku langsung keluar namun saat masuk kembali ke rumah, pak Doni
sudah berlari ketakutan dan mengatakan bahwa Rudi sudah meninggal. Tentu aku
sangat kaget sekali mendengarnya. Rudi orang yang sangat baik, dia sering
membantu pekerjaan di rumah ini. Dari kecil dia senang berburu, dan tentu tidak
melewatkan kesempatan didesa ini untuk melampiaskan hobinya itu. Dia sedang
berlibur disini, setiap liburan dia selalu kesini, dia sangat senang tinggal
disini, terlebih dapat beristirahat dengan tenang menghirup udara pedesaan, dia
juga sangat senang karena dapat bertemu dengan gadis teman semasa kecilnya
yaitu Reni, namun nasib wanita itu sangat mengenaskan, Rudi sering bercerita
kepadaku bahwa dia memang sangat menyukai Reni dan berniat melamarnya. Oh iya,
rencananya hari ini Rudi ingin kembali ke kota karena besok sudah masuk kuliah
lagi.”
“oh
dia, pak Doni itu. Dia mengaku sebagai pengusaha dari kota yang datang kesini
hanya ingin sekedar berlibur dan sedang mencari penginapan. Dia akhirnya
tinggal disini untuk sementara. menurut sepengetahuanku dia mengenal ayah dari
Rudi. Setiap malam dia selalu menemui Rudi dikamarnya, namun sempat tadi jam 3
sore dia datang ke kamar Rudi untuk meminjam sebuah buku, namun mereka juga
mengobrol samapai beberapa menit disana.”
“Oh
begitu. oke satu lagi bu, apa Rudi suka menutup jendela kamarnya?”
“kalo
sudah gelap dia pasti menutupnya”
“oke
baik terimakasih bu.. ini sangat membantu”
Selanjutnya
aku mewawancarai pak Doni yang merupakan orang yang hanya numpang tinggal
dirumah ini.
“nama
saya Doni, saya seorang pengusaha, disini saya hanya menginap untuk beberapa
hari, yah sekedar mengisi liburan didaerah pedesaan, dan juga saya ingin
melihat potensi usaha di daerah sini. oh ya benar, malam itu saya ingin
mengobrol dengan Rudi seperti biasa seperti malam - malam biasanya, sambil
membawa dua cangkir kopi saya menuju kamar Rudi, namun setelah beberapa kali
memanggil Rudi dari luar tidak ada jawaban juga, saya menaruh kopi dan mencoba
membuka pintu kamar, alhasil pintu kamar tidak dikunci dan saya langsung kaget
mendapati rudi yang sudah seperti itu, angin bertiup sangat kencang dan dingin
dari luar. Ya itu benar, aku juga mengenal ayah Rudi, setelah Rudi menceritakan
tentang ayahnya. Ternyata aku pernah melakukan bisnis dengan ayahnya. Iya malam
itu aku tidak terlalu peduli dengan suara letusan, aku hanya berpikir itu suara
kembang api atau petasan yang dinyalakan entah dimana oleh sekumpulan anak anak
bocah, maklum ini kan masih suasana Ramadhan.”
“apa
setiap malam anda selalu mengobrol dengan Rudi?”
“ah
benar sekali, setiap malam. sangat menarik sekali mengobrol dengan orang
seperti dia, orang yang baik dan cerdas, namun akhir – akhir ini dia sangat
murung karena urusan perempuan, kata dia.”
“oke
terimakasih.”
Aku
berjalan keluar rumah berdua dengan pak said.
“bagaimana?”
“entahlah,
bukti yang sangat minim, dan aku sangat pusing sekali. Tapi yah, inilah yang
membuat kasus ini semakin menarik pak.”
“lapor
pak!” teriak seorang petugas kepolisian.
“ditemukan
sebuah jam tangan di kolong lemari dan satu buah foto ini di dalam lemari di
kamar korban.”
Setelah
mengklarifikasi ternyata jam tangan itu milik pak Doni, setelah bu Hana
memberikan keterangan bahwa dari kemarin pak Doni sedang mencari – cari jam
tangannya yang hilang. Akhirnya pak Doni pun tidak dapat mengelak dan mengakui
bahwa jam tangan itu miliknya, dia mengaku bahwa mungkin dia lupa dan
meninggalkan jam nya saat sedang mengobrol dengan Rudi dikamarnya. Aku
memandangi bocah perempuan kecil didalam foto itu. “senyum yang manis” ucapku.
Bersambung..
OKE ANAK – ANAK!
PECAHKAN CASE DIATAS DENGAN ANALISA
KALIAN!
Komentar
Posting Komentar