simple case
20 Maret 2009
10.00 a.m
Kantin HSD
"sekarang apa yang mau kau lakukan dengan Hp ini, Red ?" tanya Ditz kepadaku yang sedang meneguk minuman yang telah aku pesan sebelumnya.
"gak tau !" jawabku singkat seraya tanganku mengambil makanan yang ada meja kantin.
"jyaah, Kau sendiri kan yang menyuruhku mengambil Hp ini di meja kepsek."
"HEIII~." tiba - tiba Atika sang penjaga kantin berteriak." apa kalian gak masuk kelas lagi?"
"ga tau ni, si Red. Ngajak minggat, tapi malah nyuruh aku ngambil Hp punya kepsek di ruang kepsek." gerutu Ditz, tangannya memutar - mutar sebuah Hp.
"bosen bi, kalo diem dikelas terus." jawabku dengan sedikit malas.
"Reeeed ... Jawab!! Buat apa Hp ini? Ntar aku lagi yang di hukum gara - gara ngambil barang ga bilang - bilang. "
tepat saat Ditz menyelesaikan kalimat terakhirnya. Tiba - tiba Hp yang ada digenggamannya bergetar.
"Eh ?!"
"sini Ditz." ucapku dan langsung merebut Hp yang ada digenggaman Ditz.
Ternyata itu adalah sebuah panggilan, tapi entah dari siapa, aku tidak tahu. Aku langsung menggangkatnya. Tapi aku tidak berkata apa - apa, aku menungggu orang yang menelpon berbicara terlebih dahulu.
"hallo Cesc Coil."suara laki - laki terdengar dari Hp itu." bisa anda pergi ke alamat ini : Batarajaya XIX/27, ada kasus pembunuhan."
aku langsung menutup panggilan itu.
"kau dengar kan Ditz ?" ujarku pada Ditz. Sambil meraih sweater hitamku yang aku simpan dikursi.
"ya !!" jawabnya dengan sedikit wajah kebingungan.
"kalau begitu ayo cepat !!"
Ajakku sambil memasukan permen karet ke mulutku.
saat aku dan Ditz berlari ke arah gerbang HSD, tepat didepan tempat parkir, aku menabrak tubuh seseorang.
Ku perhatikan dari bagian badan sampai kepala, ternyata dia adalah kepsek. Kulihat wajah Ditz sangat ketakutan. Aku langsung menyerahkan Hp nya dan kembali berlari dengan Ditz. Kukira kepsek akan marah, tp sekilas kuperhatikan bibirnya tersenyum, mungkin setelah melihat daftar panggilan di Hp nya.
Aku terus berlari ke arah mobil Ditz, lebih tepatnya mobil sedan hitam. Tanpa berlama - lama lagi Ditz menancap gas menuju ke alamat yang tadi disebutkan ditelpon.
10.15 a.m
TKP
Ditz memarkir mobil didepan sebuah rumah berlantai dua, terdapat juga dua mobil polisi disana. Tanpa berlama - lama aku dan Ditz keluar dari mobil dan masuk ke halaman rumah itu.
Tampak seorang insfektur sedang mondar - mandir disana
. Kutelengkan kepalaku dan kuperhatikan wajahnya, ternyata dia adalah insfektur Daniel, wajahnya tampak cemas. Dapat langsung kutebak kalau dia yang menelpon ke Hp kepsek tadi, dan sekarang sedang menunggunya sambil mondar - mandir disini.
"ah Red." sapanya kepadaku."akhirnya kau datang juga, mana Coil ?"
"sedang ada urusan, dia menyuruh aku dan Ditz untuk datang kesini, katanya ada kasus." jawabku sedikit berbohong, kulanjutkan mengunyah permen karet dimulutku.
"salam kenal pak !!" ucap Ditz sembari menyodorkan tangan kanannya.
"ah, ya Ditz, salam kenal." mereka bersalaman.
"hmm begitu ya." gumamnya dengan mata yang menatap kepadaku dan Ditz, seakan tidak percaya dengan kemampuan kita.
"hoaemm ... yasudah." ujarku." ceritakan saja apa yang sebenarnya sudah terjadi disini !."
"hmm ... Seorang wanita bernama Merry (F,30) tewas dikamarnya sendiri."jelas insfektur itu." korban adalah seorang janda, suaminya meninggal dua tahun yang lalu. Dan korban mempunyai dua adik yang tinggal serumah dengannya disini. jajaran forensik menginformasikan kalo korban meninggal kira - kira jam 08.30 a.m, tepat saat semua penghuni rumah ini keluar untuk melakukan aktifitasnya masing - masing. kecuali seorang pembantu wanita."
"dan pembantu wanita itulah yang pertama kali menemukan korban sudah tewas." tiba - tiba Ditz berkata.
"ah, iya betul sekali." jawab insfektur Daniel.
"hhmm ada berapa orang penghuni di rumah ini?" tanyaku sambil memperhatikan seekor anjing berl
ari - lari didepan kandang nya, dihalaman pinggir rumah.
"ada lima orang termasuk korban."
"siapa saja."
" pertama korban sendiri. kedua, adik pertama korban, bernama Dendi (M,27), dia seorang pengangguran. Ketiga adalah Robby (M,23), seorang mahasiswa. Keempat adalah Nisa (F,28), adik ipar korban, dia bekerja disebuah perusahaan, dia tinggal serumah dengan korban semenjak kakanya yang menjadi suami korban, meninggal. Dan kelima adalah Bibi Desi (F,39), satu - satunya pembantu dirumah ini."
"apa kita boleh masuk ke dalam kamar korban?"
"tentu saja, ayo !!."
Aku, Ditz, insfektur Daniel, dan ditemani seorang pembantu wanita berjalan ke lantai dua tempat dimana korban mendapati ajalnya.
Saat memasuki kamar,
insfektur Daniel langsung menceritakan saat pertama TKP belum tersentuh.
"korban mati dengan posisi terduduk dikursini ini." ucapnya smbil menunjuk sebuah kursi yang yang berdekatan dengan meja."kepala serta kedua tangan korban terdapat diatas meja, tangan kanannya memegang sebuah pulpen, posisi seperti sedang menulis. dan tiga luka tusuk benda tajam mendarat dibagian pundaknya. Terdapat juga secangkir teh serta makanan kecil diatas meja kecil tepat dibelakang korban duduk, lengkap dengan nampan - nampan nya. Laci - laci ini juga terbuka."
hanya ada 2 petugas, aku, Ditz, insfektur Daniel, dan bi Desi saat ini. Semuanya berada didalam kamar ini sekarang.
"bagaimana keadaan pintu kamar saat bibi pertama kali mengetahui korban sudah meninggal ?" tanya Ditz kepada bibi desi yang dari tadi hanya berdiri didekat pintu masuk kamar.
"terkunci !!." jawabnya pasti."Bu Merry, tidak suka orang lain sembarangan memasuki kamar pribadinya. Bu Merry juga tidak memperbolehkan semua orang dirumah ini memasuki ruangan ini. Kecuali bila saya mau mengantarkan teh dan makanan kecil."
"hhm ... Lalu jendela ini ?" tanyanku sambil meraba sebuah jendela dan melihat ke halaman bawah lewat jendela, terdapat sebuah tangga kayu tergeletak disana.
Juga tapak - tapak kaki anjing ditanah. Karena semalam hujan, tanah menjadi basah dan dapat dengan mudah meninggalkan jejak anjing.
"jendela itu selalu terkunci, tidak pernah Bu Merry membukanya, aku juga tidak berani membukakannya."
" begitu ya ...hmm ... Tidak ada beranda. Pintu kamar yang terkunci dari dalam, dan jendela yang tertutup tidak terkunci. lalu bagaimana pelakunya masuk." gumamku dalam hati.
" ah, ada makanan dan juga secangkir teh, masih utuh lagi.!!" teriak Ditz dan lansung meminumnya.
"slrupppp..." terdengar suara seruputan Dizt mencicipi teh yang ada di meja kecil.
"uh, ga enak banget, teh nya dingin sekali. Apa ini buatan mu bibi ?"
"ah, bukan ... memang sebelumnya Bu Merry menyuruhku membuatkan teh dan menyediakan makanan kecil. itu sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi, dan semua penghuni rumah ini juga mengetahuinya. Tapi saat aku akan mengantarkannya ke sini, aku mengetuk pintu beberapa kali dan memanggilnya dengan keras, Bu Merry tidak juga menyahut. Aku curiga dan kembali ke dapur, menyimpan teh dan mengambil palu untuk membuka paksa pintu kamar ini, saat pintu terbuka, pemandangan menyedihkan inilah yang terpampang."
"oh ... Begitu ya ... lalu siapa ya yang menyediakan teh dan makanan kecil ini." ujar Ditz kebingungan.
"entahlah Ditz." sahutku."bibi, kemana penghuni rumah yang lain?"
"mungkin sebentar lagi mereka pulang."
"bibi, apa bisa anda ceritakan masing - masing dari mereka seperti apa? Dan apa ada yang mencurigakan dari mereka sejak tadi pagi ?" tanya Ditz mengintrogasi.
"semua seperti biasa, seperti pagi - pagi yang lainnya. Hm yang aneh ya,
ah ya,
Dendi, pagi itu dia sangat gembira sekali, tidak seperti biasanya, dia selalu malas bangun pagi, biasanya saya yang selalu mengedor - gedor pintu kamarnya untuk membangunkannya, tapi tadi pagi dia bangun sendiri, dan kelihatannya dia sangat terburu - buru sekali, sampai lupa memberi makan anjing kesayangannya. Lalu, Robby, yang aneh dari dia tadi pagi adalah, tiba - tiba saja dia rajin membereskan dan membersihkan kamarnya yang selalu berantakan sebelum berangkat kuliah. dia sempat menggerutu karena farfum nya disembunyikan oleh 'jack' dia adalah anjing Dendi. Bukan hanya farfum, apapun barang - barang milik Robby selalu disembunyikan dirumah kecilnya. Apapun barang yang berhubungan dengan Robby. Aku juga heran dengan anjing itu..haha, oleh karena itu Robby selalu mengunci kamar tidurnya. Lalu Nisa, hmm tidak ada yang aneh dari dia, pagi tadi, seperti biasa dia berpenampilan rapi, dia memang orang yang tidak suka berantakan, sangat berbeda dengan Robby. Pagi tadi saat saya di dapur, saya melihat dia dan Dendi bersiap berangkat, dan saat mereka berdua melangkah ke pintu depan, Nisa tiba - tiba menyuruhku membuang sampah yang sudah menumpuk oleh kertas - kertas dari kamar Robby. Aku membuang sampah saat Dendi, Nisa dan Robby pergi melakukan aktivitas mereka masing - masing."
"apa bibi melihat dengan mata kepala bibi sendiri, kalau mereka benar - benar pergi ?"
"tidak." jawab bibi." saya hanya mendengar pintu depan terbuka dan tertutup sebanyak dua kali karena suara yang dihasilkannya. Suara pintu terbuka dan tertutup pertama, dapat saya tebak kalau itu adalah Nisa dan Dendi, selang beberapa menit, lalu kudengar lagi suara pintu terbuka dan tertutup yang kedua, dan sudah pasti itu adalah Robby yang keluar. Setelah itu, saya pergi keluar untuk membuang sampah. kira - kira setengah jam, saya pulang dan mengantarkan teh dan makanan kecil untuk Bu Merry dikamarnya."
"hmm ... apa saat bibi keluar, pintu depan rumah ini dikunci?."
"ya, saya menguncinya."
"hmm ... apa Dendi, Nisa dan Robby pernah punya masalah pribadi dengan Bu Merry belakangan ini ?"
"Dendi, dia orang baik, tidak pernah marah - marah sekalipun, namun belakangan ini, karena dia bosan menganggur, sudah kesana - kesini mencari kerja tapi tetap tidak ada hasil, padahal waktu itu perusahan milik suami Bu Merry yang kini sudah menjadi milik Bu Merry sedang membutuhkan pegawai, tapi Bu Merry tidak mengizinkan Dendi bekerja disana, dan menyuruhnya mencari pekerjaan ditempat lain. Dendi tentu saja sangat kesal waktu itu. Lalu, Robby, akhir - akhir ini dia selalu merengek meminta dibelikan sepeda motor, karena dia sudah bosan bila berangkat sekolah harus naik angkutan umum terus. Namun Bu Merry tidak mendengarkannya sama sekali, Bu Merry memang sedikit pelit, bukan pelit, mungkin hemat. Beberapa hari kebelakang dia dan Bu Merry sering bertengkar mempermaslahkan itu. Tapi diantara semua penghuni dirumah ini Robby lah yang sangat menyayangi Bu Merry. Dan terakhir Nisa, dia juga sama seperti Dendi, padahal itu adalah perusahaan milik kakaknya sendiri, namun Bu Merry tidak memperbolehkannya dengan alasan agar Nisa lebih mandiri dengan mencari pekerjaan sendiri. Nisa juga sempat kesal waktu itu. untungnya beberapa minggu lalu dia mendapatkan pekerjaan yang sangat lumayan.
"
tiba - tiba Nisa dan Dendi tiba dirumah dan lansung masuk ke kamar tempat kejadian.
"bagaimana dengan kakak ?" ucap mereka berbarengan dengan wajah yang sangat sedih.
"dia dibunuh." jawab insfektur Daniel.
"Apa ?" seketika merekapun menangis.
Dan setelah beberapa menit kemudian, Robby pun tiba dirumah dan berdiri di depan pintu masuk kamar kakak kesayangannya dengan raut wajah penuh kesedihan yang mendalam.
"bagaimana kakak ?"
"dia dibunuh"
"APA? Siapa yang membunuhnya?, hiks" diapun tidak bisa menahan air kesedihan keluar dari matanya.
"entahlah, tapi mungkin ada diantara kita." jawab Ditz.
"apa? Diantara kita. Kalau begitu pelakunya hanya satu, yaitu Bi Desi." sahut Robby.
"kenapa ? Tidak mungkin, untuk apa aku membunuhnya." jawab Bi Desi dengan wajah ketakutan.
"sudahlah bibi, kau pernah meminta kenaikan gaji, namun kakak tidak mendengarkannya, kau pasti kesal kan ? Dan terus mendendam?"Robby berbicara seraya melangkah masuk ke dalam kamar yang jarang ia masuki ini.
"tidak, tidak".ucap bibi dengan wajah yang sepertinya mau menangis." waktu itu anakku sedang sakit parah dan butuh banyak uang untuk mengobatinya."
"cih, alasan!!" Robby terus melangkah ke dalam kamar, saat dia terhenti karena menginjak sesuatu hingga telapak kakinya berdarah.
"aw. Sialan ."
aku langsung melirik kearah samping bawah meja, ternyata satu vas bunya sudah pecah, mungkin terjatuh dari atas meja.
"hmm ... baiklah saudara Dendi, Robby dan Nisa,"sahutku." apa tadi pagi pas sebelum pergi keluar rumah, kalian berpamitan dulu kepada Bu Merry?"
"ya, tentu saja." jawab mereka bertiga.
"hmm ... Ditz ayo ikut aku ke bawah."
"mau apa Red ?"
"sudahlah ayo !!"
aku turun ke lantai satu dan keluar rumah, melangkah kehalaman dan berhenti tepat dibawah jendela kamar Bu Merry.
"hmm ...kalau memang dugaanku ini benar, pasti disini ... " gumamku dalam hati seraya jongkok memeriksa tanah halaman disekitar sana."ah ini dia ... jadi begitu."
"apa itu Red ?" tanya Ditz yang dari tadi berdiri disampingku.
"ini adalah makanan anjing. Disini ada jejak kaki anjing, ada juga bentuk - bentuk kaki anjing yang aneh."
"hmmm ..." kulihat Ditz sangat berpikir keras.
"baiklah Ditz, ayo kita pergi ke kamar itu lagi !!!"
"tunggu Red !!! bisa tolong carikan ... " ucap Ditz dan langsung berbisik ketelingaku.
"oh, baru saja aku mau menyuruhmu".ujarku." .haha ... sepertinya kau sudah membaca pikiranku kawan."
"haha ... tolong ya Red."
"ya, lalu kau?"
"aku akan duluan ke atas."
"hoho, baiklah."
Ditz pun pergi kedalam rumah, dan aku pergi mencari barang yang dimaksud oleh ditz. Cukup lama aku mencari, sekitar setengah jam kurang. Namun akhirnya aku menemukannya. Setelah aku menemukan benda yang dimaksud ditz, aku berniat masuk kedalam rumah, namun saat aku berada sekitar lima meter dari pintu masuk, insfektur Daniel sudah memborgol dan menggiring penjahatnya keluar.
"sudah kuduga =="" gumamku dalam hati.
#SIMPLE QUESTION#
1. Siapa Pelakunya ? (2 DP)
2. Bagaimana kira - kira Kronologis kejadiannya/Cara Pelaku melakukan pembunuhan?
(4 DP)
3. Apa Buktinya?
(2 DP)
4. Apa Motif dalam pembunuhan ini?
(2 DP)
10.00 a.m
Kantin HSD
"sekarang apa yang mau kau lakukan dengan Hp ini, Red ?" tanya Ditz kepadaku yang sedang meneguk minuman yang telah aku pesan sebelumnya.
"gak tau !" jawabku singkat seraya tanganku mengambil makanan yang ada meja kantin.
"jyaah, Kau sendiri kan yang menyuruhku mengambil Hp ini di meja kepsek."
"HEIII~." tiba - tiba Atika sang penjaga kantin berteriak." apa kalian gak masuk kelas lagi?"
"ga tau ni, si Red. Ngajak minggat, tapi malah nyuruh aku ngambil Hp punya kepsek di ruang kepsek." gerutu Ditz, tangannya memutar - mutar sebuah Hp.
"bosen bi, kalo diem dikelas terus." jawabku dengan sedikit malas.
"Reeeed ... Jawab!! Buat apa Hp ini? Ntar aku lagi yang di hukum gara - gara ngambil barang ga bilang - bilang. "
tepat saat Ditz menyelesaikan kalimat terakhirnya. Tiba - tiba Hp yang ada digenggamannya bergetar.
"Eh ?!"
"sini Ditz." ucapku dan langsung merebut Hp yang ada digenggaman Ditz.
Ternyata itu adalah sebuah panggilan, tapi entah dari siapa, aku tidak tahu. Aku langsung menggangkatnya. Tapi aku tidak berkata apa - apa, aku menungggu orang yang menelpon berbicara terlebih dahulu.
"hallo Cesc Coil."suara laki - laki terdengar dari Hp itu." bisa anda pergi ke alamat ini : Batarajaya XIX/27, ada kasus pembunuhan."
aku langsung menutup panggilan itu.
"kau dengar kan Ditz ?" ujarku pada Ditz. Sambil meraih sweater hitamku yang aku simpan dikursi.
"ya !!" jawabnya dengan sedikit wajah kebingungan.
"kalau begitu ayo cepat !!"
Ajakku sambil memasukan permen karet ke mulutku.
saat aku dan Ditz berlari ke arah gerbang HSD, tepat didepan tempat parkir, aku menabrak tubuh seseorang.
Ku perhatikan dari bagian badan sampai kepala, ternyata dia adalah kepsek. Kulihat wajah Ditz sangat ketakutan. Aku langsung menyerahkan Hp nya dan kembali berlari dengan Ditz. Kukira kepsek akan marah, tp sekilas kuperhatikan bibirnya tersenyum, mungkin setelah melihat daftar panggilan di Hp nya.
Aku terus berlari ke arah mobil Ditz, lebih tepatnya mobil sedan hitam. Tanpa berlama - lama lagi Ditz menancap gas menuju ke alamat yang tadi disebutkan ditelpon.
10.15 a.m
TKP
Ditz memarkir mobil didepan sebuah rumah berlantai dua, terdapat juga dua mobil polisi disana. Tanpa berlama - lama aku dan Ditz keluar dari mobil dan masuk ke halaman rumah itu.
Tampak seorang insfektur sedang mondar - mandir disana
. Kutelengkan kepalaku dan kuperhatikan wajahnya, ternyata dia adalah insfektur Daniel, wajahnya tampak cemas. Dapat langsung kutebak kalau dia yang menelpon ke Hp kepsek tadi, dan sekarang sedang menunggunya sambil mondar - mandir disini.
"ah Red." sapanya kepadaku."akhirnya kau datang juga, mana Coil ?"
"sedang ada urusan, dia menyuruh aku dan Ditz untuk datang kesini, katanya ada kasus." jawabku sedikit berbohong, kulanjutkan mengunyah permen karet dimulutku.
"salam kenal pak !!" ucap Ditz sembari menyodorkan tangan kanannya.
"ah, ya Ditz, salam kenal." mereka bersalaman.
"hmm begitu ya." gumamnya dengan mata yang menatap kepadaku dan Ditz, seakan tidak percaya dengan kemampuan kita.
"hoaemm ... yasudah." ujarku." ceritakan saja apa yang sebenarnya sudah terjadi disini !."
"hmm ... Seorang wanita bernama Merry (F,30) tewas dikamarnya sendiri."jelas insfektur itu." korban adalah seorang janda, suaminya meninggal dua tahun yang lalu. Dan korban mempunyai dua adik yang tinggal serumah dengannya disini. jajaran forensik menginformasikan kalo korban meninggal kira - kira jam 08.30 a.m, tepat saat semua penghuni rumah ini keluar untuk melakukan aktifitasnya masing - masing. kecuali seorang pembantu wanita."
"dan pembantu wanita itulah yang pertama kali menemukan korban sudah tewas." tiba - tiba Ditz berkata.
"ah, iya betul sekali." jawab insfektur Daniel.
"hhmm ada berapa orang penghuni di rumah ini?" tanyaku sambil memperhatikan seekor anjing berl
ari - lari didepan kandang nya, dihalaman pinggir rumah.
"ada lima orang termasuk korban."
"siapa saja."
" pertama korban sendiri. kedua, adik pertama korban, bernama Dendi (M,27), dia seorang pengangguran. Ketiga adalah Robby (M,23), seorang mahasiswa. Keempat adalah Nisa (F,28), adik ipar korban, dia bekerja disebuah perusahaan, dia tinggal serumah dengan korban semenjak kakanya yang menjadi suami korban, meninggal. Dan kelima adalah Bibi Desi (F,39), satu - satunya pembantu dirumah ini."
"apa kita boleh masuk ke dalam kamar korban?"
"tentu saja, ayo !!."
Aku, Ditz, insfektur Daniel, dan ditemani seorang pembantu wanita berjalan ke lantai dua tempat dimana korban mendapati ajalnya.
Saat memasuki kamar,
insfektur Daniel langsung menceritakan saat pertama TKP belum tersentuh.
"korban mati dengan posisi terduduk dikursini ini." ucapnya smbil menunjuk sebuah kursi yang yang berdekatan dengan meja."kepala serta kedua tangan korban terdapat diatas meja, tangan kanannya memegang sebuah pulpen, posisi seperti sedang menulis. dan tiga luka tusuk benda tajam mendarat dibagian pundaknya. Terdapat juga secangkir teh serta makanan kecil diatas meja kecil tepat dibelakang korban duduk, lengkap dengan nampan - nampan nya. Laci - laci ini juga terbuka."
hanya ada 2 petugas, aku, Ditz, insfektur Daniel, dan bi Desi saat ini. Semuanya berada didalam kamar ini sekarang.
"bagaimana keadaan pintu kamar saat bibi pertama kali mengetahui korban sudah meninggal ?" tanya Ditz kepada bibi desi yang dari tadi hanya berdiri didekat pintu masuk kamar.
"terkunci !!." jawabnya pasti."Bu Merry, tidak suka orang lain sembarangan memasuki kamar pribadinya. Bu Merry juga tidak memperbolehkan semua orang dirumah ini memasuki ruangan ini. Kecuali bila saya mau mengantarkan teh dan makanan kecil."
"hhm ... Lalu jendela ini ?" tanyanku sambil meraba sebuah jendela dan melihat ke halaman bawah lewat jendela, terdapat sebuah tangga kayu tergeletak disana.
Juga tapak - tapak kaki anjing ditanah. Karena semalam hujan, tanah menjadi basah dan dapat dengan mudah meninggalkan jejak anjing.
"jendela itu selalu terkunci, tidak pernah Bu Merry membukanya, aku juga tidak berani membukakannya."
" begitu ya ...hmm ... Tidak ada beranda. Pintu kamar yang terkunci dari dalam, dan jendela yang tertutup tidak terkunci. lalu bagaimana pelakunya masuk." gumamku dalam hati.
" ah, ada makanan dan juga secangkir teh, masih utuh lagi.!!" teriak Ditz dan lansung meminumnya.
"slrupppp..." terdengar suara seruputan Dizt mencicipi teh yang ada di meja kecil.
"uh, ga enak banget, teh nya dingin sekali. Apa ini buatan mu bibi ?"
"ah, bukan ... memang sebelumnya Bu Merry menyuruhku membuatkan teh dan menyediakan makanan kecil. itu sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi, dan semua penghuni rumah ini juga mengetahuinya. Tapi saat aku akan mengantarkannya ke sini, aku mengetuk pintu beberapa kali dan memanggilnya dengan keras, Bu Merry tidak juga menyahut. Aku curiga dan kembali ke dapur, menyimpan teh dan mengambil palu untuk membuka paksa pintu kamar ini, saat pintu terbuka, pemandangan menyedihkan inilah yang terpampang."
"oh ... Begitu ya ... lalu siapa ya yang menyediakan teh dan makanan kecil ini." ujar Ditz kebingungan.
"entahlah Ditz." sahutku."bibi, kemana penghuni rumah yang lain?"
"mungkin sebentar lagi mereka pulang."
"bibi, apa bisa anda ceritakan masing - masing dari mereka seperti apa? Dan apa ada yang mencurigakan dari mereka sejak tadi pagi ?" tanya Ditz mengintrogasi.
"semua seperti biasa, seperti pagi - pagi yang lainnya. Hm yang aneh ya,
ah ya,
Dendi, pagi itu dia sangat gembira sekali, tidak seperti biasanya, dia selalu malas bangun pagi, biasanya saya yang selalu mengedor - gedor pintu kamarnya untuk membangunkannya, tapi tadi pagi dia bangun sendiri, dan kelihatannya dia sangat terburu - buru sekali, sampai lupa memberi makan anjing kesayangannya. Lalu, Robby, yang aneh dari dia tadi pagi adalah, tiba - tiba saja dia rajin membereskan dan membersihkan kamarnya yang selalu berantakan sebelum berangkat kuliah. dia sempat menggerutu karena farfum nya disembunyikan oleh 'jack' dia adalah anjing Dendi. Bukan hanya farfum, apapun barang - barang milik Robby selalu disembunyikan dirumah kecilnya. Apapun barang yang berhubungan dengan Robby. Aku juga heran dengan anjing itu..haha, oleh karena itu Robby selalu mengunci kamar tidurnya. Lalu Nisa, hmm tidak ada yang aneh dari dia, pagi tadi, seperti biasa dia berpenampilan rapi, dia memang orang yang tidak suka berantakan, sangat berbeda dengan Robby. Pagi tadi saat saya di dapur, saya melihat dia dan Dendi bersiap berangkat, dan saat mereka berdua melangkah ke pintu depan, Nisa tiba - tiba menyuruhku membuang sampah yang sudah menumpuk oleh kertas - kertas dari kamar Robby. Aku membuang sampah saat Dendi, Nisa dan Robby pergi melakukan aktivitas mereka masing - masing."
"apa bibi melihat dengan mata kepala bibi sendiri, kalau mereka benar - benar pergi ?"
"tidak." jawab bibi." saya hanya mendengar pintu depan terbuka dan tertutup sebanyak dua kali karena suara yang dihasilkannya. Suara pintu terbuka dan tertutup pertama, dapat saya tebak kalau itu adalah Nisa dan Dendi, selang beberapa menit, lalu kudengar lagi suara pintu terbuka dan tertutup yang kedua, dan sudah pasti itu adalah Robby yang keluar. Setelah itu, saya pergi keluar untuk membuang sampah. kira - kira setengah jam, saya pulang dan mengantarkan teh dan makanan kecil untuk Bu Merry dikamarnya."
"hmm ... apa saat bibi keluar, pintu depan rumah ini dikunci?."
"ya, saya menguncinya."
"hmm ... apa Dendi, Nisa dan Robby pernah punya masalah pribadi dengan Bu Merry belakangan ini ?"
"Dendi, dia orang baik, tidak pernah marah - marah sekalipun, namun belakangan ini, karena dia bosan menganggur, sudah kesana - kesini mencari kerja tapi tetap tidak ada hasil, padahal waktu itu perusahan milik suami Bu Merry yang kini sudah menjadi milik Bu Merry sedang membutuhkan pegawai, tapi Bu Merry tidak mengizinkan Dendi bekerja disana, dan menyuruhnya mencari pekerjaan ditempat lain. Dendi tentu saja sangat kesal waktu itu. Lalu, Robby, akhir - akhir ini dia selalu merengek meminta dibelikan sepeda motor, karena dia sudah bosan bila berangkat sekolah harus naik angkutan umum terus. Namun Bu Merry tidak mendengarkannya sama sekali, Bu Merry memang sedikit pelit, bukan pelit, mungkin hemat. Beberapa hari kebelakang dia dan Bu Merry sering bertengkar mempermaslahkan itu. Tapi diantara semua penghuni dirumah ini Robby lah yang sangat menyayangi Bu Merry. Dan terakhir Nisa, dia juga sama seperti Dendi, padahal itu adalah perusahaan milik kakaknya sendiri, namun Bu Merry tidak memperbolehkannya dengan alasan agar Nisa lebih mandiri dengan mencari pekerjaan sendiri. Nisa juga sempat kesal waktu itu. untungnya beberapa minggu lalu dia mendapatkan pekerjaan yang sangat lumayan.
"
tiba - tiba Nisa dan Dendi tiba dirumah dan lansung masuk ke kamar tempat kejadian.
"bagaimana dengan kakak ?" ucap mereka berbarengan dengan wajah yang sangat sedih.
"dia dibunuh." jawab insfektur Daniel.
"Apa ?" seketika merekapun menangis.
Dan setelah beberapa menit kemudian, Robby pun tiba dirumah dan berdiri di depan pintu masuk kamar kakak kesayangannya dengan raut wajah penuh kesedihan yang mendalam.
"bagaimana kakak ?"
"dia dibunuh"
"APA? Siapa yang membunuhnya?, hiks" diapun tidak bisa menahan air kesedihan keluar dari matanya.
"entahlah, tapi mungkin ada diantara kita." jawab Ditz.
"apa? Diantara kita. Kalau begitu pelakunya hanya satu, yaitu Bi Desi." sahut Robby.
"kenapa ? Tidak mungkin, untuk apa aku membunuhnya." jawab Bi Desi dengan wajah ketakutan.
"sudahlah bibi, kau pernah meminta kenaikan gaji, namun kakak tidak mendengarkannya, kau pasti kesal kan ? Dan terus mendendam?"Robby berbicara seraya melangkah masuk ke dalam kamar yang jarang ia masuki ini.
"tidak, tidak".ucap bibi dengan wajah yang sepertinya mau menangis." waktu itu anakku sedang sakit parah dan butuh banyak uang untuk mengobatinya."
"cih, alasan!!" Robby terus melangkah ke dalam kamar, saat dia terhenti karena menginjak sesuatu hingga telapak kakinya berdarah.
"aw. Sialan ."
aku langsung melirik kearah samping bawah meja, ternyata satu vas bunya sudah pecah, mungkin terjatuh dari atas meja.
"hmm ... baiklah saudara Dendi, Robby dan Nisa,"sahutku." apa tadi pagi pas sebelum pergi keluar rumah, kalian berpamitan dulu kepada Bu Merry?"
"ya, tentu saja." jawab mereka bertiga.
"hmm ... Ditz ayo ikut aku ke bawah."
"mau apa Red ?"
"sudahlah ayo !!"
aku turun ke lantai satu dan keluar rumah, melangkah kehalaman dan berhenti tepat dibawah jendela kamar Bu Merry.
"hmm ...kalau memang dugaanku ini benar, pasti disini ... " gumamku dalam hati seraya jongkok memeriksa tanah halaman disekitar sana."ah ini dia ... jadi begitu."
"apa itu Red ?" tanya Ditz yang dari tadi berdiri disampingku.
"ini adalah makanan anjing. Disini ada jejak kaki anjing, ada juga bentuk - bentuk kaki anjing yang aneh."
"hmmm ..." kulihat Ditz sangat berpikir keras.
"baiklah Ditz, ayo kita pergi ke kamar itu lagi !!!"
"tunggu Red !!! bisa tolong carikan ... " ucap Ditz dan langsung berbisik ketelingaku.
"oh, baru saja aku mau menyuruhmu".ujarku." .haha ... sepertinya kau sudah membaca pikiranku kawan."
"haha ... tolong ya Red."
"ya, lalu kau?"
"aku akan duluan ke atas."
"hoho, baiklah."
Ditz pun pergi kedalam rumah, dan aku pergi mencari barang yang dimaksud oleh ditz. Cukup lama aku mencari, sekitar setengah jam kurang. Namun akhirnya aku menemukannya. Setelah aku menemukan benda yang dimaksud ditz, aku berniat masuk kedalam rumah, namun saat aku berada sekitar lima meter dari pintu masuk, insfektur Daniel sudah memborgol dan menggiring penjahatnya keluar.
"sudah kuduga =="" gumamku dalam hati.
#SIMPLE QUESTION#
1. Siapa Pelakunya ? (2 DP)
2. Bagaimana kira - kira Kronologis kejadiannya/Cara Pelaku melakukan pembunuhan?
(4 DP)
3. Apa Buktinya?
(2 DP)
4. Apa Motif dalam pembunuhan ini?
(2 DP)
Komentar
Posting Komentar